Konten Media Partner

GKJ Gondokusuman Gelar Sarasehan Inovasi Musik Gamelan dalam Gereja, Senin (4/8)

28 Juli 2025 13:54 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
GKJ Gondokusuman Gelar Sarasehan Inovasi Musik Gamelan dalam Gereja, Senin (4/8)
GKJ Gondokusuman, Yogya, akan menggelar Sarasehan “Upaya Inovatif Gending Gerejawi sebagai Pengiring Pujian di GKJ”, pada Senin, 4 Agustus 2025, pukul 17.30 WIB. #publisherstory #pandanganjogja
Pandangan Jogja
Rapat Koordinasi Panitia Sarasehan “Upaya Inovatif Gending Gerejawi sebagai Pengiring Pujian di GKJ” yang akan digelar pada Senin, 4 Agustus 2025, pukul 17.30 WIB. Foto: ES Putra/Pandangan Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Rapat Koordinasi Panitia Sarasehan “Upaya Inovatif Gending Gerejawi sebagai Pengiring Pujian di GKJ” yang akan digelar pada Senin, 4 Agustus 2025, pukul 17.30 WIB. Foto: ES Putra/Pandangan Jogja
Gereja Kristen Jawa (GKJ) Gondokusuman, Yogyakarta, menghadirkan ruang refleksi dan diskusi lewat Sarasehan “Upaya Inovatif Gending Gerejawi sebagai Pengiring Pujian di GKJ”, yang akan digelar pada Senin, 4 Agustus 2025, pukul 17.30 WIB. Acara ini terbuka untuk jemaat lintas usia, pemusik gereja, serta siapa pun yang ingin memahami lebih dalam praktik inkulturasi budaya Jawa dalam musik gereja.
Bertempat di GKJ Gondokusuman, sarasehan ini mengundang peserta untuk menggali bagaimana gamelan — simbol musikal budaya Jawa — berkembang menjadi bagian sah dalam ekspresi iman umat Kristen Jawa. Diskusi akan menghadirkan pelaku langsung, seperti Pendeta Fendy Susanto dan Gandung Djatmiko, akademisi ISI Yogyakarta sekaligus pelatih gamelan gereja. Keduanya akan berbagi praktik, pengalaman, dan refleksi teologis seputar perjalanan panjang gamelan dalam ruang ibadah Kristen.
Sejarah Gamelan di Gereja: Dari Dilarang hingga Diarak
GKJ Gondokusuman menggunakan gamelan dalam prosesi ibadah. Foto: Pandangan Jogja
Penggunaan gamelan dalam gereja tidak datang secara instan. Pada era 1930-an, misionaris Belanda yang membentuk struktur awal GKJ melarang keras segala bentuk praktik budaya Jawa di dalam kehidupan gereja. Menabuh gamelan, menyaksikan wayang, hingga menghadiri kenduri dan nyadran dianggap tidak sejalan dengan iman Kristen.
“Bahkan hanya menabuh gamelan (yang dilarang), bahkan menonton wayang kulit saja bisa diberi sanksi,” jelas Pendeta Fendy baru-baru ini kepada Pandangan Jogja.
Namun sejak sidang sinode GKJ tahun 1967, diskusi tentang rekonsiliasi antara budaya Jawa dan kehidupan beriman mulai terbuka. Tonggak penting terjadi tahun 1970 saat Sudarsono Wigno Saputra dari Solo menciptakan Langen Sekar Pamuji — kidung-kidung pujian dalam bentuk gending Jawa. Gamelan pun mulai digunakan dalam ibadah, pertama kali pada perayaan ulang tahun GKJ Margoitan, Surakarta.
Dari situlah muncul gerakan kontekstualisasi yang melihat budaya lokal bukan sebagai ancaman iman, melainkan sarana pujian. “Budaya adalah hasil cipta manusia yang diinspirasi Tuhan. Maka gamelan pun bagian dari anugerah ilahi,” kata Fendy.
GKJ Gondokusuman: Basis Inovasi dan Regenerasi
Pdt. Fendi Susanto narasumber dalam Sarasehan “Upaya Inovatif Gending Gerejawi sebagai Pengiring Pujian di GKJ”. Foto: Gracetika JP/Pandangan Jogja
GKJ Gondokusuman menjadi salah satu pelopor dalam pengembangan gamelan gereja. Tidak hanya menampilkan gamelan sebagai iringan ibadah, gereja ini juga membentuk kelompok karawitan lintas usia: dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia. Semua difasilitasi gereja, lengkap dengan pelatih dan perangkat gamelan sendiri.
“Gamelan kami dulu dari besi. Tapi akhirnya kami beli yang berbahan perunggu,” cerita Gandung Djatmiko. Ia sudah lebih dari 17 tahun menjadi pelatih tetap gamelan di GKJ Gondokusuman dan turut menggagas Parade Gending Rohani — sebuah agenda tahunan yang kini diikuti banyak gereja GKJ lain.
Gandung juga merancang sistem pembelajaran yang membumi dan tanpa tekanan teori. “Mereka tidak belajar karawitan untuk jadi seniman. Mereka bermain untuk melayani. Itu prinsip saya,” ujarnya.
Inovasi tidak berhenti di instrumen. Dalam parade yang digagas Gandung, karya-karya rohani populer seperti lagu Nikita, Harvey Malaiholo, bahkan nyanyian jemaat konvensional diaransemen ulang dalam format gending Jawa. Dalam Parade Gending Liturgi, peserta diberi tugas memainkan bagian tertentu dari susunan ibadah — dari votum hingga pengutusan — dengan gamelan.
Perpaduan juga terjadi secara musikal: gamelan dipadukan dengan keyboard, gitar, organ, dan bahkan paduan suara. Ini menjadikan gamelan tidak hanya lestari secara bentuk, tetapi juga hidup secara fungsi.
Gamelan dan Identitas Gereja Kristen Jawa
Gandung Djadmiko akademisi ISI Yogyakarta, narasumber dalam Sarasehan “Upaya Inovatif Gending Gerejawi sebagai Pengiring Pujian di GKJ”. Foto: Gracetika JP/Pandangan Jogja
Meski gamelan telah diterima luas, tantangan tetap ada. Beberapa jemaat mempertanyakan keabsahan gamelan sebagai alat pujian. “Ada yang bilang gong itu lambang setan. Kami harus menjelaskan bahwa alat musik bersifat netral — bergantung bagaimana ia digunakan,” ujar Fendy.
Bagi Gandung, penting untuk terus mengingat bahwa kata "Jawa" dalam GKJ bukan sekadar nama. Ia mencakup bahasa, tata nilai, kesenian, hingga spiritualitas. “Sayangnya, bahasa Jawa dalam ibadah hanya digunakan sebulan sekali. Padahal kita ini Gereja Kristen Jawa,” kritiknya.
Undangan Terbuka untuk Siapa Saja
Sarasehan ini tidak hanya ditujukan bagi warga GKJ atau umat Kristen. Siapa pun yang tertarik pada musik, budaya, dan spiritualitas Jawa dipersilakan hadir. “Saya senang kalau ada yang berbeda pandangan. Saya ingin dihantam dari kanan dan kiri agar berkembang,” ujar Gandung sambil tertawa.
Acara ini akan menjadi momentum langka — menyatukan diskusi teologis, demonstrasi musikal, dan jejaring antar jemaat lintas generasi. Lebih dari sekadar seminar, ini adalah ajakan untuk merawat warisan dan menghidupkan iman lewat nada-nada yang sejak lama bersarang di tanah Jawa.
📍 Catat Tanggalnya:
🗓 Senin, 4 Agustus 2025
🕠 Pukul 17.30 WIB
🏛 GKJ Gondokusuman, Yogyakarta
🔔 Terbuka untuk umum. Tidak perlu registrasi.
Trending Now