Konten Media Partner

Harga Telur Ayam Tertinggi dalam Sejarah, Pakar: Dampak Tingginya Harga Pakan

25 Agustus 2022 16:20 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Harga Telur Ayam Tertinggi dalam Sejarah, Pakar: Dampak Tingginya Harga Pakan
Harga pakan ayam yang tinggi membuat banyak peternak yang gulung tikar, akibatnya produksi telur anjlok dan menyebabkan harganya melonjak. #publisherstory #pandanganjogja
Pandangan Jogja
Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Ali Agus. Foto: Widi RH Pradana
zoom-in-whitePerbesar
Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Ali Agus. Foto: Widi RH Pradana
Harga telur ayam ras kembali mengalami peningkatan menjadi rata-rata nasional mencapai Rp 31 ribu per kilogram, harga ini disebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan harga ini memicu reaksi dari sejumlah pihak dalam beberapa hari terakhir.
Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ali Agus, mengatakan bahwa kenaikan harga telur ini merupakan akibat dari tingginya harga pakan ternak dalam waktu yang panjang. Di sisi lain, harga telur di pasaran selama ini relatif rendah.
β€œItu menjadi sebab tidak sedikit peternak yang gulung tikar, terutama yang kecil-kecil yang populasi ayamnya hanya 5 sampai 10 ribu ekor, karena tidak bisa bertahan,” kata Ali Agus ketika dihubungi Pandangan Jogja @Kumparan, Rabu (24/8).
Pedagang menyortir telur ayam ras untuk pembeli. Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Tak hanya itu, dalam kurun waktu sekitar dua bulan terakhir menurut dia juga banyak ayam-ayam petelur yang diafkir dini (karena usaha merugi) untuk menjadi ayam pedaging yang disebut sebagai ayam merah. Banyaknya peternak yang gulung tikar dan ayam-ayam petelur yang diafkir dini kemudian membuat produksi telur secara nasional anjlok dan tidak seimbang dengan permintaan pasar.
β€œJadi sebenarnya hukum ekonomi yang sangat sederhana, antara supply dan demand, ketika permintaan tinggi tapi produksinya tidak mencukupi, sudah pasti harganya naik,” lanjutnya.
Apalagi adanya Program Keluarga Harapan (PKH) bekerja sama supaya masyarakat penerima manfaat mendapatkan suplai pangan dalam bentuk telur. Sehingga telur-telur yang diproduksi oleh para peternak banyak tersedot oleh program tersebut.
β€œSehingga permintaan semakin tinggi, di sisi lain produksinya justru turun,” ujarnya.
Adapun penyebab tingginya harga pakan menurut dia disebabkan karena adanya resesi global yang salah satunya disebabkan oleh perang antara Rusia-Ukraina. Harga minyak dunia naik tajam, mempengaruhi biaya pengangkutan. Hal itu membuat suplai bahan baku pakan ternak seperti bungkil kedelai dan sumber-sumber protein dan vitamin yang hampir 100% masih impor ikut naik dan akhirnya pakan ayam menjadi mahal.
β€œJagung tidak impor, tapi bahan pakan sumber protein lain seperti bungkil kedelai, tepung daging, premix mineral dan vitamin serta feed aditif masih impor, karena jagung hanya sekitar 50 persen dari bahan baku pakan ayam,” kata Ali Agus.
Trending Now