Konten Media Partner
Kasus ISPA di Sleman Tembus 94.000, Dinkes Imbau Pelajar Flu Berat Libur Sekolah
28 Oktober 2025 14:21 WIB
·
waktu baca 3 menit
Konten Media Partner
Kasus ISPA di Sleman Tembus 94.000, Dinkes Imbau Pelajar Flu Berat Libur Sekolah
Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Sleman sepanjang tahun ini tembus 94.000 kasus, pelajar yang mengalami flu berat dan demam diimbau untuk libur sekolah. #publisherstory #pandanganjogjaPandangan Jogja

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mencatat jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencapai 94.017 kasus sepanjang tahun ini. Angka tersebut menjadikan ISPA sebagai salah satu penyakit dengan jumlah kasus tertinggi di Sleman dan berpotensi terus meningkat hingga akhir tahun.
Kepala Dinkes Sleman, Cahya Purnama, mengatakan data tersebut berasal dari laporan puskesmas dan fasilitas kesehatan di seluruh wilayah Sleman. Menurutnya, rata-rata kasus mingguan mencapai ribuan dan menunjukkan tren kenaikan.
“Ini kalau kita hitung menurut rata kasus perminggunya adalah sekitar 2.299 kasus,” kata Cahya di Kompleks Pemkab Sleman, Selasa (28/10).
Ia menjelaskan, peningkatan kasus kemungkinan masih akan terjadi hingga November mendatang. Perubahan musim dan cuaca ekstrem disebut menjadi faktor utama yang menurunkan daya tahan tubuh masyarakat.
“Mulai Oktober, November, ini mungkin akan meningkat terus. Kita harus selalu ingat bahwa di hari-hari tersebut ada Nataru di mana terjadi mobilisasi penduduk yang cukup besar yang akan masuk ke Sleman,” jelasnya.
Cahya menuturkan, masyarakat dengan mobilitas tinggi seperti pelajar perlu lebih waspada karena penularan ISPA di lingkungan sekolah berlangsung sangat cepat.
“Ini hampir semua umur, terutama mereka yang mobilitasnya tinggi. Seperti tadi, misalnya di sekolahan itu begitu ada satu anak terkena biasanya cepat sekali menyebar di tempat kerumunan,” katanya.
Dinkes Sleman mengimbau pihak sekolah memberi izin sakit bagi siswa yang mengalami flu berat, demam, atau penyakit menular lainnya untuk mencegah penyebaran di lingkungan sekolah.
“Diliburkan itu kalau ada yang sakit, anak yang sakit tadi, terutama sakit flu berat, yang mulai panas, diliburkan aja, diberi jatah sakit atau izin sakit supaya tidak menular ke yang lain. Tidak hanya untuk flu, tapi juga untuk cacar air, conjunctivitis, dan penyakit menular lainnya,” paparnya.
“Flu ringan gak masalah asal menggunakan masker,” ujarnya.
Cahya menambahkan, meski influenza memiliki tingkat fatalitas rendah, penyebarannya sangat cepat dan berisiko bagi masyarakat dengan penyakit penyerta atau komorbid.
“Sebenarnya kalau influenzanya sendiri fatalitasnya tidak tinggi, tidak begitu berbahaya, cuma yang berbahaya itu penyebarannya cepat. Dan kalau punya komorbid tadi itu yang harus hati-hati — punya jantung, punya asma, stroke, atau anemia, penyakit penapasan atas bisa lebih parah,” katanya.
Ia menegaskan, peningkatan kasus ISPA setiap tahun umumnya terjadi pada masa peralihan musim akibat perubahan cuaca ekstrem yang melemahkan imunitas.
“Biasanya pengalaman tiap tahun itu setiap ada peralihan musim di mana terjadi perubahan cuaca yang ekstrem, ini biasanya juga meningkat. Karena tidak hanya pada varian virus atau bakteri dari influenzanya sendiri, tapi juga pada orangnya sendiri yang daya tahan tubuhnya rendah,” paparnya.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Sleman mengimbau masyarakat untuk meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga pola makan seimbang, serta memastikan kebersihan lingkungan tetap terjaga.
