Konten Media Partner

Kisah 7 Orang yang Awalnya Ragu, Kini Jadi Legenda Pameran IT di Jogja

2 Oktober 2025 12:07 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Kisah 7 Orang yang Awalnya Ragu, Kini Jadi Legenda Pameran IT di Jogja
Yogyakomtek, pameran komputer dan alat IT sejak 1997 pertama dan terbesar di DIY dan Jawa Tengah, kembali diadakan di GIK UGM dari Sabtu (27/9) sampai Rabu (1/10) #pandanganjogja #publisherstory
Pandangan Jogja
Pameran komputer dan teknologi IT Yogyakomtek 2025, resmi dibuka di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Sabtu (27/9) sampai Rabu (1/10). Foto: Yusuf Hay/Pandangan Jogja.
zoom-in-whitePerbesar
Pameran komputer dan teknologi IT Yogyakomtek 2025, resmi dibuka di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Sabtu (27/9) sampai Rabu (1/10). Foto: Yusuf Hay/Pandangan Jogja.
Pameran komputer Yogyakomtek 2025 resmi dibuka di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM pada Sabtu (27/9). Ajang ini tercatat sebagai pameran komputer tertua ke-3 di Indonesia, setelah Scomdex Surabaya dan Indocomtech Jakarta.
Namun di balik panggung megahnya, ada kisah tujuh orang yang dulu sempat ragu ketika pertama kali diminta mengorganisasi pameran komputer di Yogyakarta.
“Tahun ‘97 kami mendirikan asosiasi dengan tujuh orang. Dulu semua ragu-ragu. Saya bilang, jangan takut. Kalau kita bisa berbisnis, masa nggak bisa mengorganisasi pameran,” kata Founder Yogyakomtek, Willy Sudjono.
Hanya Satu yang Bertahan
Willy Sudjono founder Yogyakomtek. Foto: Yusuf Hay/Pandangan Jogja
Dari tujuh orang pendiri itu, kini hanya Willy yang masih bertahan.
“Yang lain sudah insaf, jadi hanya tinggal saya sendirian,” ujarnya.
Perjalanannya mencatat kisah unik: tiga pendiri beralih ke dunia kuliner, satu menjadi guru Mandarin, satu meninggal dunia, dan satu lagi tak jelas keberadaannya.
Menyusuri Dunia IT yang Tak Pernah Diam
Salah-satu tenant yang menawarkan produk laptopnya di Yogyakomtek 2025. Foto: Dok. Yogyakomtek
Bagi Willy, bertahan di dunia IT memiliki tantangan sekaligus daya tarik tersendiri. Dari masa ketika komputer rakitan masih langka hingga kini ketika media sosial sudah menjadi bagian sehari-hari, teknologi terus berubah.
“Sebetulnya di situlah menarik. Karena IT itu selalu setiap tahun ada sesuatu yang baru,” ujarnya.
“Bisnis yang tidak pernah berhenti belajar ya bisnis IT. Sekarang misalkan, sosmed harus menjadi bagian dari kehidupan kami sehari-hari.”
Bukan Sekadar Cari Untung
Karya komik dari 130 mahasiswa di Yogyakomtek 2025. Foto: Yusuf Hay/Pandangan Jogja
Sejak awal, tujuan Yogyakomtek bukan semata keuntungan, melainkan menjaga eksistensi anggota Asosiasi Pengusaha Komputer (APKOM) Jogja dan berbagi dengan masyarakat.
“Pameran ini bukan untuk memperbanyak uang, tapi untuk mempertahankan eksistensi bisnis anggota. Kami berbagi dengan masyarakat, bukan mencari keuntungan,” tegas Willy.
Format Baru 2025: AI Jadi Panggung Utama
Peserta memadati ruangan workshop yang diadakan Yogyakomtek. Foto: Yusuf Hay/Pandangan Jogja.
Kini, setelah hampir tiga dekade, Yogyakomtek kembali dengan wajah baru bertema “Artificial Intelligence Now!”.
Penyelenggaraan melibatkan UGM, ISI, dan AMIKOM, dengan ratusan mahasiswa yang berpartisipasi.
Pengunjung dapat menjelajahi robot humanoid dan drone karya UGM, animasi dan game dari AMIKOM, hingga 130 karya komik mahasiswa ISI yang dilombakan. Selain itu, ada seminar, workshop, coding AI competition, eSport, hingga cosplay.
Dengan semua perjalanan itu, kisah tujuh orang yang dulu sempat ragu kini menjelma menjadi sejarah panjang Yogyakomtek — pameran komputer tertua ke-3 di Indonesia yang masih hidup hingga hari ini.
Trending Now