Konten Media Partner
Kisah Buruh Tambang dan Komika Ikut Kelas Menulis Novel di Jogja
24 Agustus 2025 17:31 WIB
·
waktu baca 5 menit
Konten Media Partner
Kisah Buruh Tambang dan Komika Ikut Kelas Menulis Novel di Jogja
15 peserta terpilih ikut Kelas Menulis Novel di Jogja. Ada yang rela tempuh 5 jam perjalanan motor, ada pula komika yang ingin curhat lewat novel. #publisherstory #pandanganjogjaPandangan Jogja

Sebanyak 15 peserta terpilih dari 100 pendaftar mengikuti rangkaian Kelas Menulis Novel yang diadakan Penerbit Narasi bekerja sama dengan komunitas literasi Warung Sastra. Selama empat sesi pada 15–16 Agustus dan 22–23 Agustus 2025 di Toko Buku Warung Sastra, Karangwaru, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta, mereka belajar cara menulis novel dari novelis Mahfud Ikhwan.
Mereka berasal dari latar belakang daerah dan profesi yang berbeda. Masing-masing datang dengan usaha, harapan, dan pengalaman yang mendorong mereka untuk menulis novel.
Iroy: Buruh Tambang yang Ingin Belajar Menulis
Iroy Mahyuni datang ke kelas menulis novel dengan latar belakang yang tidak biasa. Perempuan muda asal Riau ini pernah bekerja sebagai buruh di kontraktor pertambangan batubara. Dunia itu ia sebut sangat maskulin dan sarat diskriminasi.
“Bekerja sebagai perempuan di dunia yang sangat maskulin itu kan berat gitu ya. Penuh diskriminasi dan pastinya tidak gampang untuk melalui hal itu,” kata Iroy kepada Pandangan Jogja, Jumat (22/8).
Pengalamannya di tambang membuatnya merasa perlu bersuara melalui tulisan. Ia menulis tentang buruh dan perempuan, sesuatu yang jarang disuarakan dari sudut pandang pelaku langsung.
“Kenapa akhirnya aku menulis, menulis tentang buruh, tentang perempuan? Karena ya, aku merasa ya, buruh harus menyuarakan itu (kehidupannya). Agar tulisan itu menumbuh dan punya emosi. Karena itu adalah suara perlawanan dari pengalaman,” tuturnya.
Selama ini, Iroy menulis secara otodidak. Oleh sebab itu, kelas ini menjadi kesempatan baginya untuk belajar menulis secara lebih sistematis.
“Aku juga punya keinginan untuk menjadi menghasilkan tulisan yang baik gitu. [...] Bagiku, terus belajar itu penting, apalagi untuk aku memutuskan menulis itu bukan karena aku punya background sebagai sebagai penulis, tapi karena memang aku melihat menulis itu sebagai alat-alat perjuangan, alat perlawanan,” kata Iroy.
Ia pun mengapresiasi kesempatan bertemu mentor. “Aku sangat mengapresiasi kayak (Penerbit) Narasi dan mentor kita, Pak Mahfud, yang juga mendorong kita untuk menghasilkan tulisan gitu setelah mengikuti kelas ini,” ujarnya.
Akhyar: Komika yang Mencari Medium Baru
Cerita lain datang dari Muhammad Akhyar Purlista, mahasiswa Teknik Geodesi UGM yang tergabung dalam Komunitas Standupindo Jogja. Jika selama ini terbiasa menulis materi komedi, Akhyar yang aktif menjadi komika yang sejak tahun 2020 ini merasakan sebuah keresahan yang tidak bisa disampaikan di panggung stand-up comedy.
“Salah satu kenapa aku menulis cerita ini karena aku tahu ada hal yang pengen kuceritakan, ada cerita yang pengen kuceritakan, tapi sepertinya tidak cocok di media stand-up comedy,” kata Akhyar, Jumat (22/8).
Bagi Akhyar, Kelas Menulis Novel menjadi cara untuk belajar menulis secara lebih terarah. Setelah mengikuti tiga sesi pertemuan, ia merasa tertantang.
“Kelas ini membuat saya berkontemplasi lagi. Kayaknya tulisan saya jelek deh. [...] Orang makin berilmu kan makin merasa bodoh, jadi kayak, oh saya tahu kalau standarnya itu memang harus ada. Kita nggak bisa sembarangan menulis karena ada ada ilmunya, ada standarnya sendiri,” ujarnya.
Akhyar juga menyebut satu sosok yang memberinya keyakinan bahwa menulis bisa ditempuh meski ia memiliki latar belakang Teknik Geodesi.
“Salah satu yang membuat saya terinspirasi sebenarnya adalah senior saya, salah satu penulis novel juga, yaitu Mas Yusi Avianto Pareanom. Itu juga lulusan Teknik Geodesi UGM juga, jadi bisa nih saya anak Teknik menjadi seniman nih, saya bisa nih. Jadi penulis bisa juga ya. Karena saya IPK jelek, jadi kayaknya seniman aja saya. Saya tolol di Geodesi,” guraunya.
Juli: Lima Jam Bermotor demi Belajar Menulis di Jogja
Peserta lain, Juli Prasetya, datang dari Banyumas dengan menempuh perjalanan motor sekitar lima jam. Selama di Jogja, ia menginap di rumah temannya demi bisa mengikuti kelas ini.
“Naik motor ini empat sampai lima jam,” aku Juli saat ditanya soal durasi perjalanannya, Jumat (22/8). Meski perjalanan yang ditempuh cukup melelahkan, Juli menyebut hal itu sepadan dengan kesempatan belajar dari penulis idolanya, Mahfud Ikhwan
“Karena dari 100 orang ya? Itu hanya terpilih 15, dan Alhamdulillah saya terpilih dan latar belakangnya karena saya ingin belajar dari Cak Mahfud. Jadi penulis favorit saya (adalah) beliau. [...] Itu saya terinspirasi untuk menulis novel seperti itu,” ucapnya.
Juli sebenarnya sudah beberapa kali mencoba menulis novel. Namun setelah ikut kelas, ia baru menyadari bahwa tulisannya selama ini masih belum matang.
“Ternyata (dari) novel-novel saya sebelumnya itu, saya merasa tertampar gitu ya. Ternyata nulis novel itu nggak cuma nulis doang cuy, harus ada isinya. Apalagi novel sastra,” ujarnya.
Bagi Juli, kelas ini memberikan kesadaran baru, bahwa menulis novel tidak hanya soal menuangkan ide, tapi juga memahami teknik dan standar yang membedakan antara sastra dan tulisan populer. Hal itu, katanya, menjadi bekal penting untuk memperbaiki draf-draf novel yang pernah ia buat.
Lewat kelas berdurasi dua jam yang berlangsung selama empat sesi, para peserta Kelas Menulis Novel mengaku mendapatkan banyak ilmu terkait penulisan novel. Dari segi teknis, mereka belajar membedakan penulisan sastra dan populer, memahami struktur novel, hingga pentingnya riset. Dari sisi personal, kelas ini mempertemukan peserta dari latar belakang berbeda dengan tujuan yang sama: menulis novel.
Bagi Iroy, kelas ini adalah cara memperkuat perlawanan lewat literasi. Bagi Akhyar, kelas ini menjadi ruang untuk menemukan medium baru di luar panggung komedi. Sedangkan bagi Juli, kelas ini adalah kesempatan memperdalam teknik menulis langsung dari penulis idolanya.
