Konten Media Partner
Kisah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Buat Mars KKN UGM dalam Sehari
18 Juli 2025 18:10 WIB
·
waktu baca 4 menit
Konten Media Partner
Kisah Mahasiswa Fakultas Kedokteran Buat Mars KKN UGM dalam Sehari
Mars KKN UGM dibuat oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran tahun 1987. Lagunya membahana hingga kini, mengantar pelepasan mahasiswa KKN setiap tahun. #publisherstory #pandanganjogjaPandangan Jogja

Berawal dari iseng, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) menciptakan sebuah lagu yang kini dikenal sebagai Mars KKN UGM. Hari ini, di usianya yang ke-38, mars berjudul “Baktiku” masih dikumandangkan oleh ribuan mahasiswa peserta KKN di Kampus Kerakyatan.
“Jiwa Pancasila adalah bentengku
Sikap ilmiah menuntutku
Rasa tanggung jawab adalah ciriku
Selalu menuntun langkahku”
Adalah Antonius Wibowo, sosok di balik lagu yang kini wajib diputar saat momen pelepasan mahasiswa KKN UGM. Ia menciptakan mars itu usai mengikuti pembekalan KKN pada bulan Juli 1987. Kala itu, Wibowo tergelitik mendengar lagu KKN di kampusnya yang ternyata meminjam nada dari lagu tradisional Sunda berjudul “Es Lilin”.
“Jadi, KKN itu kan ada coaching selama satu minggu. Kemudian, ada lagu KKN di situ, yang diambil dari lagu Sunda. Namanya ‘Es Lilin’,” kata Wibowo yang merupakan alumnus FK UGM angkatan tahun 1981.
Sepulang pembekalan, batinnya bertanya: mengapa universitas sebesar UGM tak punya mars KKN-nya sendiri dan justru harus meminjam lagu dari daerah lain? Wibowo pun iseng-iseng menggubah lagu yang dimaksudkan untuk menggugah semangat kawan-kawan mahasiswanya. Tak butuh waktu lama, lagu itu rampung hanya dalam waktu satu hari.
“Dari pagi ke sore, terus akhirnya jadi,” akunya. Nada lagu dibuatnya secara spontan dengan maksud untuk menggugah semangat, sedangkan liriknya mengutip buku panduan KKN dari kampus.
“Itu memang kita referensinya (dalam menulis lirik) itu ya dari buku panduan itu. Di situ yang dikatakan bahwa harus berjiwa Pancasila, bersikap ilmiah, ya itu ada di panduan semua,” ungkapnya.
Wibowo kemudian menunjukkan lagu itu kepada rekan seniornya, Puspita Laksmintari, yang langsung menyambutnya dengan semringah. “Dia bilang, ‘Wah ini bagus! Bisa buat penyemangat!’,” ujarnya. Lagu itu pun diperdengarkan kepada Rektor UGM kala itu, Koesnadi Hardjasoemantri. Tak disangka, pujian datang dari Rektor, yang bahkan meminta Wibowo untuk menyanyikan mars ciptaannya pada momen pelepasan KKN.
Sepekan usai diminta membawakan lagunya di hadapan mahasiswa peserta KKN, Koesnadi memberi kabar lanjutan: Menteri Pendidikan Fuad Hasan akan turut hadir dalam seremoni pelepasan. Rektor minta lagunya diperkenalkan kepada sang Menteri.
Dari sana, Wibowo bersama peserta KKN lainnya membentuk kelompok paduan suara untuk tampil di hadapan Menteri Fuad. Oleh Koesnadi, lagu itu awalnya diberi nama “Permata”.
“Kita nyanyi live di UC (University Club) UGM. Rasanya merinding banget karena hampir semua ratusan mahasiswa yang mau KKN itu ternyata menyanyikan lagu ini,” kenang Wibowo.
Perjalanan lagu Wibowo tak berhenti sampai di situ. Rektor Koesnadi memintanya untuk merekam lagunya di studio. “Saya bikin rekaman juga pada saat itu, studionya ada di (Universitas Kristen) Duta Wacana.” Rekaman itu lalu diserahkan Wibowo kepada pihak kampus yang berniat untuk menyetelnya di lokasi-lokasi KKN.
Wibowo bahkan mendapatkan cerita dari Gatot Murdjito, tokoh senior KKN UGM, yang sempat menerima permintaan agar lagu “Baktiku” dijadikan Mars KKM di tingkat nasional. Namun, Gatot menolak kehendak itu, sebab sejak awal, mars ciptaan Wibowo dibuat dengan semangat dan ciri khas UGM.
Wibowo memang kerap menjadikan hal-hal di sekitarnya sebagai inspirasi dalam membuat lagu. Mars KKN UGM bukan satu-satunya lagu yang ia gubah. Sebelumnya, Wibowo beberapa kali menciptakan lagu bertema lingkungan dan kepemudaan. Tak heran, mengingat dirinya memang punya ketertarikan terhadap musik sejak usia SMA.
Kesenangan Wibowo ini tak pudar meski ia telah menjadi dokter. Di profesinya kini pun, ia masih tetap membuat lagu, salah satunya terinspirasi dari curhatan sang pasien. “Saya juga di rumah sakit itu ada juga lagu yang digunakan untuk memberikan semangat pasien,” ujarnya.
Bagi Wibowo, musik adalah cara untuk menularkan semangat pengabdian, terutama dalam profesinya sebagai tenaga kesehatan. Bagi mahasiswa kedokteran, nilai-nilai pengabdian ini teramat penting, sebab dapat mempertajam empati berhadapan langsung dengan pasien yang berasal dari berbagai latar belakang.
Wibowo berharap, gema Mars KKN UGM ciptaannya dapat terus membahana seiring dengan program pengabdian yang semakin masif hingga ke luar Pulau Jawa. Lebih dari itu, ia ingin lulusan UGM dapat mengimplementasikan pengalaman mereka saat KKN ke dalam kehidupan dan pekerjaan setelah lulus. Tentunya, sembari tetap mempertahankan kerendahan hati dan prinsip pembangunan desa seperti yang terabadikan dalam lirik ciptaannya.
“Konsep pembangunan desanya harus tetap ya. Jadi, mungkin bisa diingat-ingat bahwa, oh, pada saat saya KKN seperti ini. Nah, itu mungkin bisa diimplementasikan pada saat dia kerja atau di dunia nyata,” pungkasnya.
