Konten Media Partner
Komunitas Jomblo Katolik Jogja: Menemukan Cinta Lewat Ziarah dan Doa
29 Oktober 2025 15:22 WIB
·
waktu baca 5 menit
Konten Media Partner
Komunitas Jomblo Katolik Jogja: Menemukan Cinta Lewat Ziarah dan Doa
Di Yogyakarta, ada komunitas bernama Komunitas Jomblo Katolik yang mempertemukan para jomlo lewat doa, ziarah, dan kebersamaan dalam iman. #publisherstory #pandanganjogjaPandangan Jogja

Tak semua kisah cinta berawal dari aplikasi kencan atau ruang pertemanan maya. Di Yogyakarta, ada mereka yang menemukan perjumpaan lewat doa dan ziarah dalam keyakinan yang sama.
Namanya Komunitas Jomblo Katolik (KJK) Jogja, wadah bagi umat Katolik yang belum menikah untuk saling berkenalan, berdoa, dan membangun relasi dengan harapan menuju pernikahan seiman.
Ketua KJK Jogja, Emilius Anton Suhono, mengatakan komunitas ini telah berdiri lebih dari satu dekade. KJK Jogja berdiri hanya setahun setelah KJK Indonesia terbentuk pada 2009.
Ia menyebut, komunitas ini terus hidup dari generasi ke generasi, menjadi ruang perjumpaan yang berawal dari kegiatan iman sederhana.
“Kita sebagai penerus. Jadi beliau itu menginginkan agar para jomlo ini punya wadah kegiatan. Terus dari wadah kegiatan itu bisa saling bertemu, awalnya kan bertemu, kenalan, nyaman. Dan akhirnya kan berjodoh harapannya di situ,” kata Anton ditemui Pandangan Jogja di Gua Maria Sendang Sriningsih Sleman, Minggu (26/10).
Dalam tiga tahun terakhir, KJK Jogja mencatat sudah ada sekitar 20 pasangan menikah dan 22 pasangan lainnya tengah berproses menuju pernikahan.
“Kalau dari total nasional itu mungkin sudah ratusan. Di Jogja sendiri sudah puluhan, mungkin sekarang itu 10–20 pasang. Kalau mungkin istilah yang umumnya berpacaran itu 21–22 pasang,” ujarnya.
Kini, masih ada sekitar 100 anggota aktif yang belum menemukan pasangannya, mayoritas berusia sekitar 30 tahun.
“Rentang awal nih 23 sesuai syaratnya, 23–24 tahun. Namun yang rata-rata sih usia matang, 30 tahun. Walaupun ada beberapa, walaupun nggak banyak itu di atas 40 tahun. Kadang ya namanya banyak orang itu kan mungkin terkesan jumlahnya yang 23 ketemu yang 40 lebih itu jomplang. Tapi ya itulah bagian dinamika,” kata Anton.
Anton menegaskan, komunitas ini bukan biro jodoh. Tujuannya bukan menjodohkan, melainkan memberi ruang agar hubungan tumbuh secara alami.
“Sekali lagi kita bukan yang seperti biro jodoh. Jadi kita sebagai wadah kegiatan-kegiatan yang memfasilitasi para jomlo dan nanti tetap kita dari kopdar ini berdinamika bersama. Nanti proses alami tetap berjalan mereka dengan usaha mereka, mereka kenalan, ngobrol, akhirnya nyaman dan berjodoh.”
Misa Jomlo dan Ziarah Sebagai Ruang Perjumpaan
Kegiatan utama komunitas ini adalah Misa Jomlo, ibadah khusus dua kali setahun bagi anggota yang belum menikah.
“Itu seperti kami umat Katolik, misa pada umumnya itu kan ibadah yang rutin. Cuma pesertanya itu kita khususkan lagi yang jomlo. Harapannya kita ngumpulin para jomlo itu, terus kita berdoa bersama dengan harapan, doa dan usaha itu agar segera lulus (menikah),” jelas Anton.
Selain misa, ada kegiatan kopdar, ziarah, dan jambore nasional yang mempertemukan anggota dari berbagai daerah.
Minggu (26/10) kemarin, KJK Jogja dan KJK Solo mengadakan ziarah bersama di Gua Maria Sendang Sriningsih, Sleman. Seusai misa, mereka saling berkenalan, bertukar media sosial, dan bermain bersama dalam suasana akrab.
Ketua KJK Solo, Stefanus Rudi Susanto, mengatakan kegiatan mereka serupa dengan yang dilakukan di Jogja.
“Kalau yang di Solo mungkin tidak jauh beda dengan yang di Jogja. Karena mungkin ada pertemuan-pertemuan atau kegiatan-kegiatan yang bisa membuka peluang bagi teman-teman yang ingin mencari jodoh. Mungkin hanya itu,” katanya.
KJK Solo memiliki sekitar 40–50 anggota aktif, dan sejak Februari 2025 sudah ada beberapa pasangan yang akan menikah.
“Kalau di masa saya, kemarin ada dua kegiatan besar. Kita telah menghasilkan dua yang sudah mau melangkah ke prewedding dan mau ke pernikahan. Tapi kalau yang berproses mungkin ada sekitar lima atau enam, itu yang masuk data,” ujar Stefanus.
Namun, tantangan terbesar komunitas ini justru datang dari anggotanya sendiri.
“Kesulitannya karena mungkin membuka dirinya yang kurang bisa membuka diri. Karena sebetulnya memang jomlo, memang butuh pasangan. Tetapi untuk memulai membuka diri itu jadi agak gimana ya,” tuturnya.
Cinta yang Tumbuh dari Iman
Di antara kisah yang lahir dari komunitas ini adalah Rosalia Retno Wulandari dan Thomas Mandegani, pasangan KJK Jogja yang menikah pada Juni 2025. Rosa bergabung sejak 2017, sementara suaminya baru bergabung pada 2023.
“Kebetulan saat itu pertama kali suami saya ikut KJK, karena dipaksa sih sebelumnya sama temannya. Tapi kebetulan dari situ pasangan saya juga ikut aktif untuk jadi panitia, kemudian akhirnya jadi pengurus, dan kami sering ketemu. Mengingat kliknya kapan sih, saya tidak ingat ya, jujur saja, cuman memang setelah berproses, kita terbuka, kemudian keluarga juga terbuka,” kata Rosa.
Baginya, bergabung di komunitas ini bukan sekadar mencari pasangan, tapi menemukan seseorang yang seiman dan siap membangun rumah tangga bersama.
Rosa mengajak umat Katolik lainnya yang masih sendiri untuk ikut berproses dalam komunitas ini.
Sementara itu, Vincentia dan Meidiana, dua anggota baru, datang dengan harapan menambah relasi sekaligus membuka kemungkinan bertemu pasangan seiman.
“Membangun cari relasi sih, sama cari teman-teman. Sama mencari pasangan, sebagai bonus kalau dapat pasangan. Saya kebanyakan di lingkungan mayoritas jadi mencari yang seagama,” kata Vincentia.
“Pasangan bonus juga, kita ikut dulu kalau nggak berjodoh, at least dapat temen baru,” kata Meidiana.
Di tengah derasnya tren pencarian jodoh digital, Komunitas Jomblo Katolik Jogja menjadi ruang sunyi tempat orang-orang bertemu lewat iman, doa, dan ketulusan—sebuah cara lain menemukan cinta, tanpa algoritma.
