Konten Media Partner
Leptospirosis di Sleman Tembus 82 Kasus, 9 Orang Meninggal Dunia
29 Oktober 2025 14:27 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Konten Media Partner
Leptospirosis di Sleman Tembus 82 Kasus, 9 Orang Meninggal Dunia
Dinkes Sleman mencatat 82 kasus leptospirosis sepanjang 2025 dengan 9 kematian. #publisherstory #pandanganjogjaPandangan Jogja

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman melaporkan sebanyak 82 kasus leptospirosis terjadi sepanjang tahun 2025. Dari jumlah tersebut, 9 orang dilaporkan meninggal dunia.
Kepala Dinkes Sleman, Cahya Purnama, menyebut penanganan leptospirosis jauh lebih sulit dibandingkan demam berdarah karena penyebab utamanya adalah tikus.
βKasus leptospirosis tahun ini ada 82, sampai saat ini terjadi sembilan kematian. Lebih berat leptospirosis daripada demam berdarah. Intervensinya untuk leptospirosis amat sulit, karena ini tikus,β ujar Cahya di Kompleks Pemkab Sleman, Selasa (28/10).
Wilayah dengan kasus tertinggi berada di Kapanewon Ngemplak dengan 16 kasus, disusul Depok sebanyak 13 kasus, serta Minggir dan Prambanan masing-masing 8 kasus.
Cahya menjelaskan, sebagian besar penderita merupakan laki-laki berusia di atas 50 tahun. Aktivitas seperti bertani, mencari rumput, dan membersihkan selokan tanpa alat pelindung diri (APD) meningkatkan risiko penularan.
Gejala leptospirosis mirip dengan demam biasa, sehingga sering terlambat ditangani.
βSama seperti panas-flu itu, panas tinggi. Kemudian yang membedakan adalah nyeri betis, ada mata merah atau kuning. Kalau seperti itu segera berobat. Kematian itu terjadi karena keterlambatan pengobatan sehingga sudah menyebar ke organ ginjal, jantung,β katanya.
Kasus yang berakhir fatal biasanya tidak tertangani dengan benar dalam lima hari pertama.
βKalau dia segera dapat pengobatan, dapat antibiotik katakanlah, itu sudah tidak akan menimbulkan kematian,β ungkap Cahya.
