Konten Media Partner
Limbah Kopi Jadi Sabun, Teh Jadi Pewangi: Cara Hotel di Jogja Olah Sampah Dapur
31 Oktober 2025 15:48 WIB
·
waktu baca 2 menit
Konten Media Partner
Limbah Kopi Jadi Sabun, Teh Jadi Pewangi: Cara Hotel di Jogja Olah Sampah Dapur
Loman Park Hotel Yogyakarta mengolah limbah dapur seperti kopi, teh, dan kulit nanas menjadi produk baru, dari sabun hingga minuman. #pandanganjogja #publisherstory Pandangan Jogja

Ampas kopi, daun teh bekas, hingga kulit nanas yang biasanya dibuang kini diolah kembali menjadi produk bermanfaat di Loman Park Hotel Yogyakarta. Dari sabun berbahan ampas kopi, pengharum linen dari teh, hingga minuman dari kulit nanas, seluruhnya dilakukan sebagai bagian dari praktik pengelolaan limbah yang berkelanjutan.
General Manager Loman Park Hotel Yogyakarta, Handono S. Putro, mengatakan pengolahan limbah telah menjadi kebiasaan yang melekat dalam operasional hotel.
“Nanas itu kita kupas sebagai buah, namun kulitnya tidak kita buang. Kulitnya kita proses untuk membuat minuman,” ujarnya, Minggu (26/10).
“Kemudian limbah kopi kita buat sabun, limbah teh kita jadikan pengharum linen atau pewangi spray yang dipasang di kamar. Dari rempah-rempah kami buat inhaler, bahkan sampah organik kami olah menjadi kompos.”
Menurut Handono, filosofi nama Loman yang berarti dermawan menjadi dasar semangat untuk memberi manfaat dari hal sekecil apa pun.
“Loman itu artinya orang yang dermawan. Jadi, ora Loman, ora Oman,” katanya.
Nilai tersebut diwujudkan dalam program NACIS (Nature, Art, Culture, Innovation, Spiritual), yang menjadi panduan seluruh kegiatan hotel.
“Kami ingin keberlanjutan tidak hanya jadi jargon, tapi tindakan nyata. Dengan semangat Memayu Hayuning Bawono, kami berusaha mempercantik keindahan dunia lewat langkah-langkah sederhana,” tambah Handono.
Komitmen terhadap keberlanjutan itu juga diperluas melalui kolaborasi dengan publik. Pada 25–26 Oktober 2025, hotel ini menjadi tuan rumah Jogja Eco Style (JES) 2025, acara hasil kerja sama Asosiasi Eco Printer Indonesia (AEPI) dan UNESCO.
Kegiatan bertema “Threads of Earth” ini menghadirkan desainer lokal dan internasional untuk menampilkan karya busana ramah lingkungan, disertai lokakarya ecoprint, talkshow bersama Poppy Dharsono, serta AEPI Fashion Festival ke-4 yang menyoroti isu keberlanjutan industri mode.
“Kami ingin semangat mencintai bumi tidak berhenti di lingkungan hotel saja,” ujar Handono. “Melalui acara seperti Jogja Eco Style, kami berharap kesadaran ini menular ke industri lain, termasuk dunia fesyen yang memiliki pengaruh besar terhadap lingkungan.”
Inisiatif ini menunjukkan bagaimana pengelolaan limbah sederhana di tingkat dapur dapat menjadi bagian dari gerakan keberlanjutan yang lebih luas.
