Konten Media Partner

Malioboro Full Pedestrian 2 Hari: Ojol-Kusir Andong Mengeluh Orderan Turun

4 Desember 2025 18:15 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Malioboro Full Pedestrian 2 Hari: Ojol-Kusir Andong Mengeluh Orderan Turun
Uji coba penutupan Jalan Malioboro jadi full pedestrian pada 1-2 Desember kemarin menuai protes dari sejumlah masyarakat, terutama driver ojol dan kusir andong. #publisherstory #pandanganjogja
Pandangan Jogja
Suasana Malioboro saat uji coba full pedestrian. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Malioboro saat uji coba full pedestrian. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
Uji coba penerapan full pedestrian di Jalan Malioboro selama dua hari (1-2/12) kemarin menuai protes dari sebagian masyarakat, terutama pengemudi ojek onliine (ojol) dan kusir andong yang beroperasi di sekitar kawasan itu.
Di sisi lain, Gubernur DIY, Sri Sultan HB X dan Wali Kota Yogya, Hasto Wardoyo, menyatakan bahwa kebijakan ini masih dalam tahap identifikasi masalah sebelum diputuskan langkah berikutnya.
Salah satu driver ojol yang beroperasi di kawasan Malioboro, Antonius Hadi Prayitno (48), mengaku penutupan jalan itu sangat menyulitkan aktivitasnya.
“Kerasa banget kemarin kita juga ngambilnya di Liman kita harus parkirnya di Jalan Sosrowijayan, kita harus jalan kaki. Lingkungan sekitar Malioboro kerasa macet,” kata Antonius ditemui Pandangan Jogja di area Malioboro, Kamis (4/12).
Ia juga menyebut pendapatan turun hingga hampir 50 persen.
Driver ojol yang beroperasi di kawasan Malioboro, Antonius Hadi Prayitno (48). Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
“Sehari biasanya bisa 5 orderan, kalau kemarin baru satu atau dua. Pengennya kalau untuk online ya diusahakan spesial lah bisa masuk ya karena kita harus penjemputan juga,” ujarnya.
Pengemudi ojol lain, Win, merasakan hal serupa. Ia bahkan mengaku pelanggan sampai membatalkan pesanan karena ia harus memutar sangat jauh.
“Kalau Malioboro ditutup itu ojol itu ya terasa karena pengambilan misalkan di sebelah barat Malioboro jadinya mubeng (memutar). Saya kemarin sempat bilang ‘wah bu nggak bisa di seberang barat Malioboro karena jalan ditutup, saya mutar jauh’,” kata Win.
Driver lain, Min, juga mengatakan banyak orderan yang tak bisa ia ambil karena tak ada titik berhenti yang memungkinkan.
“Kita nggak bisa maju, orderannya sebagian nggak diambil daripada muter-muter, parkirnya repot. Mau masuk mall nggak bisa,” ujarnya.
Jika ojol masih mendapat beberapa order, salah satu kusir andong, Afif, mengaku dua hari uji coba itu menjadi masa tersepi. Minimnya kendaraan masuk membuat wisatawan tidak mencapai area tempat mereka biasa menunggu penumpang.
Driver ojol yang beroperasi di kawasan Malioboro, Min. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
“Kendaraan nggak masuk nggak ada pengunjung. Kemarin ramenya di Titik Nol karena eventnya di sana. Pengennya kayak biasa aja,” ujarnya.
Dampak uji coba full pedestrian di Malioboro juga dirasakan oleh pelaku usaha yang ada di kawasan Malioboro. Salah satu karyawan gerai es krim di Malioboro, mengatakan bahwa pada uji coba-uji coba sebelumnya, gerainya selalu sepi pelanggan.
Beruntung, pada uji coba kemarin ada event juga di kawasan Malioboro sehingga gerai tempatnya bekerja tetap ramai.
“Sebelumnya kerasa banget karena nggak ada event. Kemarin (2 hari full pedestrian) kan ada event jadi tetep rame,” kata karyawan tersebut.
Namun ia mengaku kasihan melihat ojol kesulitan menemukan tempat parkir.
“Penginnya karena kita di pinggir jalan kasihan ke driver kalau mau parkir tapi dihalangin, ada nggak tempat parkir buat mereka,” tambahnya.
Tanggapan Sultan HB X dan Wali Kota Yogya
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, mengatakan bahwa saat ini Pemda DIY bersama Pemkot Yogyakarta masih melakukan identifikasi masalah dari penerapan kebijakan full pedestrian di Malioboro.
Berbagai aspek sedang dipetakan, seperti persoalan parkir hingga moda transportasi tradisional. Ia menuturkan bahwa pemerintah ingin memastikan semua kekurangan terdata sebelum memutuskan langkah berikutnya.
“Sekarang baru kita identifikasi dengan kebijakan Pak Wali untuk mencoba kendaraan tidak lewat. Kita identifikasi dulu kekurangannya apa. Parkir, problem parkir di pinggiran kita akan menemukan hal-hal seperti itu sebagai arah pembahasan memungkinkan nggak tahun depan bisa ditutup atau belum,” ujar Sultan setelah melakukan rapat koordinasi dengan Pemkot Yogya di Balai Kota Yogyakarta, Kamis (4/12).
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo juga menegaskan bahwa saat ini Pemkot Yogya fokus pada pemetaan masalah terlebih dahulu. Uji coba menurut dia bukan bentuk pemaksaan kebijakan, tetapi bagian dari proses menemukan strategi yang paling realistis bagi kawasan Malioboro.
“Tadi arahannya identifikasi masalah aja dulu. Tidak memaksakan kendaraan suatu saat uji coba, yaitu bagian dari mendapatkan strategi ke depan seperti apa,” kata Hasto dalam kesempatan yang sama.
Ia menyebut persoalan parkir menjadi fokus utama, termasuk upaya mengurangi tekanan beban kendaraan di Malioboro dan mendorong aktivitas di Terminal Giwangan.
Sejumlah andong (delman) berjejer rapi menunggu penumpang di kawasan Malioboro sebelum dilakukan uji coba full pedestrian, Jumat (28/11). Foto: Pandangan Jogja/Gigih Imanadi
“Arahan beliau karena permasalahan parkir bagaimana memikirkan space untuk parkir. Beliau memberikan supaya tekanan terhadap Malioboro itu berkurang supaya Giwangan mulai dihidupkan,” ujarnya.
“Kita tidak menyebut full pedestrian karena ini tidak pernah full, jadi menurut saya kita ini parsial pedestrian tetap masih membolehkan sambil kita identifikasi,” ujar Hasto.
Trending Now