Konten Media Partner

Melihat Cara Candi Prambanan Mengelola 2–4 Ton Sampah Tiap Hari

29 September 2025 20:07 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Melihat Cara Candi Prambanan Mengelola 2–4 Ton Sampah Tiap Hari
Setiap hari, Taman Wisata Candi Prambanan mengolah 2–4 ton sampah organik seperti daun menjadi kompos. Pupuk tersebut, digunakan kembali untuk menyuburkan pepohonan sekitar. #pandanganjogja #publisher
Pandangan Jogja
Taman Wisata Candi Prambanan. Foto: Yusuf Hay/Pandangan Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Taman Wisata Candi Prambanan. Foto: Yusuf Hay/Pandangan Jogja
Setiap hari, antara 2 hingga 4 ton sampah organik berupa daun, rumput, dan ranting terkumpul dari area Candi Prambanan yang memiliki luas 77 hektar. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan volume sampah rumah tangga biasa. Jika di rumah dua pohon saja sudah cukup merepotkan, di kawasan warisan budaya dunia ini ribuan pohon menghasilkan tumpukan sampah yang harus ditangani setiap hari.
General Manager Prambanan dan Ratu Boko, Ratno Timur, menjelaskan bahwa sebagian besar sampah yang dihasilkan di kawasan Prambanan merupakan sampah organik.
β€œYang pertama, sampah organik kita kelola di Prambanan Waste Management. Hasilnya berupa kompos yang dipakai kembali untuk merawat tanaman di Prambanan dan Ratu Boko. Jadi kita tidak perlu membeli pupuk kimia seperti urea,” jelas Ratno kepada Pandangan Jogja, Kamis (18/9).
General Manager Prambanan dan Ratu Boko, Ratno Timur, saat diwawancarai Pandangan Jogja. Foto: Yusuf Hay/Pandangan Jogja
Proses Pengolahan Sampah
Pengelolaan sampah di Prambanan dilakukan dengan alur terstruktur. Sampah terlebih dahulu dikumpulkan oleh petugas kebersihan di lapangan, lalu dimasukkan ke dalam truk sebelum dibawa ke kantor pertamanan. Asisten Manager Park Maintenance Kantor Unit Prambanan, Bambang Wartono, menjelaskan bahwa alurnya dimulai dari pengumpulan di lapangan, kemudian sampah dicacah menggunakan mesin chopper, dimasukkan ke bilik fermentasi, dan ditambahkan molase untuk mempercepat proses penguraian.
Ia menambahkan bahwa proses pengolahan berlangsung sekitar tiga minggu.
β€œDari lapangan, sampah dikumpulkan lalu dicacah dengan mesin chopper. Setelah itu dimasukkan ke bilik fermentasi dan ditambahkan molase untuk mempercepat proses. Sekitar 21 hari kemudian, sampah dibongkar, dicacah lagi, lalu diayak sebelum dikemas menjadi kompos per sak dengan berat sekitar 15 kilogram,” paparnya.
Kompos hasil olahan ini dipakai kembali di kawasan Prambanan dan Ratu Boko untuk menyuburkan ribuan tanaman. Dengan cara tersebut, pengelola kawasan tidak lagi membeli pupuk anorganik. Selain itu, langkah ini juga menjaga siklus pengelolaan lingkungan tetap berputar di dalam kawasan sendiri.
Sementara itu, sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, dan material lain dipilah agar bisa didaur ulang. Sampah tersebut kemudian dikelola oleh tim kebersihan dan disalurkan kembali ke pihak yang membutuhkan untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomis. Dengan sistem ini, sampah dari kawasan Prambanan tidak lagi bergantung pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan yang saat ini sudah ditutup, melainkan diolah langsung di dalam kawasan.
Asisten Manager Park Maintenance Kantor Unit Prambanan, Bambang Wartono. Foto: Yusuf Hay/Pandangan Jogja
Sinergi PT TWC dan Desa Bugisan
Upaya pengelolaan sampah di Candi Prambanan tidak hanya dilakukan secara internal. PT Taman Wisata Candi (PT TWC) juga bekerja sama dengan masyarakat sekitar, salah satunya melalui TPS3R Karya Sentosa di Desa Bugisan, Klaten. Desa ini berbatasan langsung dengan kompleks Candi Prambanan dan dikenal aktif dalam upaya pengelolaan sampah.
Ketua TPS3R Bugisan, Widoyo, mengatakan bahwa bantuan mesin dari program CSR PT TWC sangat membantu pekerja yang sebagian besar berusia di atas 50 tahun.
β€œDulu kami memilah sampah manual, memakan waktu lama. Setelah ada mesin conveyor dari TWC, pekerjaan jadi lebih cepat dan tidak terlalu berat,” ujarnya.
Kolaborasi ini berdampak nyata bagi desa. Kepala Dusun 1 Bugisan, Rudi Riyono, menyebutkan bahwa sinergi dengan PT TWC berperan penting dalam meningkatkan kesadaran warga untuk memilah sampah sejak dari rumah. Hasilnya, Desa Bugisan memperoleh sejumlah prestasi, antara lain penghargaan Pengelolaan Sampah Mandiri Tingkat Madya di Provinsi Jawa Tengah dan Program Kampung Iklim (Proklim) Tingkat Utama di level nasional.
Langkah ini membuat pengelolaan sampah di Bugisan menjadi lebih praktis dan efisien. Sampah organik dapat segera diolah, sedangkan sampah anorganik bisa dipilah dan dimanfaatkan kembali. Desa Bugisan kini menjadi salah satu contoh desa wisata yang berkelanjutan berkat sinergi masyarakat dengan PT TWC.
Pupuk organik hasil pengolahan limbah daun yang digunakan kembali untuk menyuburkan tanah di Kompleks Candi Prambanan. Foto: Yusuf Hay/Pandangan Jogja
Arah Pengembangan ke Depan
Selain bekerja sama dengan TPS3R Bugisan, PT TWC juga bermitra dengan TPS3R Pereng. Tidak berhenti di situ, perusahaan tengah menjajaki kolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengembangkan pengolahan berbasis biogas. Rencana ini diharapkan bisa menambah diversifikasi pengelolaan sampah sekaligus meningkatkan efisiensi energi di kawasan wisata.
Menuju Pariwisata Berkelanjutan
Setiap hari, 2–4 ton sampah dari kawasan Prambanan berhasil dikelola tanpa harus dibuang ke TPA. Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik didaur ulang. Upaya internal PT TWC berpadu dengan partisipasi masyarakat Desa Bugisan membentuk ekosistem pengelolaan sampah yang menyeluruh.
Langkah ini bukan hanya menjaga kebersihan halaman candi, melainkan juga menjadi bagian dari praktik pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism). Dengan pendekatan ini, pelestarian lingkungan berjalan seiring dengan pengelolaan destinasi bersejarah, sehingga keberadaan Candi Prambanan sebagai warisan dunia tidak hanya terjaga secara budaya, tetapi juga secara ekologis.
Trending Now