Konten Media Partner

Pameran Seni Botani di DIY Tampilkan 71 Tanaman Nusantara yang Mulai Terlupakan

22 Juli 2025 19:19 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Pameran Seni Botani di DIY Tampilkan 71 Tanaman Nusantara yang Mulai Terlupakan
Pameran seni botani di Yogyakarta hadirkan 71 tanaman Nusantara yang mulai terlupakan, dari suweg, gadung, hingga jali-jali. #pandanganjogja #publisherstory
Pandangan Jogja
Sejumlah pengunjung yang hadir dalam pameran Pameran Seni Botani Ragam Flora Indonesia 5 di Bentara Budaya Yogyakarta. Foto: Dok. IDSBA
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah pengunjung yang hadir dalam pameran Pameran Seni Botani Ragam Flora Indonesia 5 di Bentara Budaya Yogyakarta. Foto: Dok. IDSBA
Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA) bersama Bentara Budaya dan Kebun Raya Bogor–BRIN menggelar Pameran Seni Botani Ragam Flora Indonesia 5: Khazanah Alam Nusantara di Bentara Budaya Yogyakarta. Pameran ini resmi dibuka pada Sabtu, 12 Juli 2025 lalu dan menampilkan 65 karya seni dari 43 seniman yang menggambarkan 71 spesies tumbuhan asli dan endemik Indonesia.
Pada pameran yang merupakan bagian dari Botanical Art Worldwide 2025 ini, tanaman-tanaman yang diangkat bukan sekadar ilustrasi, tetapi mewakili kearifan lokal yang mulai hilang dari lidah dan ingatan masyarakat seperti hanjeli, suweg, gadung, hingga tempe alkatak.
Ketua panitia pameran, Youfeta Devy, menyebut bahwa pameran ini bukan hanya menampilkan karya seni, tetapi juga mengajak masyarakat untuk lebih dekat dengan keragaman flora Nusantara.
“Pengunjung tidak hanya menikmati karya, tetapi juga diajak mengenali keragaman flora Nusantara yang sering luput dari perhatian sehari-hari,” ujarnya, dikutip Padangan Jogja pada Selasa (22/7).
Kurator pameran, Kurniawan Adi Saputro, menambahkan bahwa tumbuhan bukan sekadar objek estetika, melainkan sumber kehidupan yang nyata bagi manusia. Ia menyebut bahwa dari daun hingga akar, semua bagian tumbuhan memiliki manfaat.
“Dari ujung daun hingga akar, manusia menemukan manfaat. Tapi tumbuhanlah penghasil sejati,” ungkapnya.
Peserta diskusi “Bambu & Pangan Lokal, Warisan Hayati" yang menjadi bagian dari pameran ini. Foto: Dok. IDSBA
Tidak hanya menampilkan karya visual, pameran ini juga menjadi ruang edukasi publik tentang pelestarian keanekaragaman hayati. Diskusi publik bertajuk Bambu dan Pangan Lokal: Warisan Hayati bersama Yayasan KEHATI dan komunitas lokal menekankan pentingnya tindakan nyata. Dalam diskusi publik tersebut, disampaikan pula bahwa pendokumentasian terbaik terhadap sumber daya lokal adalah dengan menanam, mengolah, dan mengonsumsinya sehingga mereka tumbuh, dikenali kembali, dan mendidik lidah manusia untuk berdaulat pangan dalam menghadapi krisis iklim mendatang.
Trending Now