Konten Media Partner
Pameran Seni “Sea Turtle on Earth” Angkat Isu Konservasi Penyu di Bantul
7 Oktober 2025 13:37 WIB
·
waktu baca 3 menit
Konten Media Partner
Pameran Seni “Sea Turtle on Earth” Angkat Isu Konservasi Penyu di Bantul
Pameran seni “Sea Turtle on Earth” di Bantul menghadirkan karya seniman untuk edukasi konservasi penyu laut. #publisherstory #pandanganjogja Pandangan Jogja

Yayasan Aksi Konservasi Yogyakarta menggelar pameran seni Sea Turtle on Earth bertajuk “Penyu; Mitologi Hidup dan Representatif Bhineka Tunggal Ika” pada Selasa (16/9) di SaRanG Art Project, Kasihan, Bantul. Acara dibuka pukul 17.00 WIB oleh Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Wironegoro, yang juga Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) DIY.
“Saya mengapresiasi pameran ini karena para seniman mau mengeluarkan energinya demi melestarikan penyu. Jogja bukan hanya daratan, tapi juga lautan yang harus kita jaga,” kata KPH Wironegoro kepada Pandangan Jogja, Selasa (16/9).
Pameran ini menampilkan karya seni sebagai medium edukasi untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap konservasi penyu laut yang kian terancam akibat perburuan, kerusakan habitat, polusi, dan perubahan iklim. Sejumlah seniman ternama turut ambil bagian, seperti Adwin Lambert, Altha Rivan, Arahmaiani, Bunga Jeruk, Erica Hestu Wahyuni, Faisal Kamandobat, Nasirun, Putu Sutawijaya, dan Ugo Untoro.
Gerakan Konservasi Berawal dari Pantai Pelangi
Yayasan Aksi Konservasi Yogyakarta berawal dari komunitas Fourkey Yogyakarta yang lahir pada 16 September 2020. Komunitas ini digagas empat anak muda dengan fokus pada konservasi penyu di Pantai Pelangi, Bantul. Nama Fourkey melambangkan “empat kunci” kepedulian lingkungan anak muda.
Lima tahun kemudian, gerakan itu bertransformasi menjadi yayasan dengan ratusan relawan. Pada 2024, mereka memperkenalkan program Ecological Art Exhibition bertajuk Sea Turtle on eARTh sebagai langkah awal menghubungkan isu konservasi dengan seni. Tahun ini, tema pameran diperluas dengan mengangkat mitologi dan kearifan lokal tentang penyu.
“Melalui pameran seni, kami ingin menghadirkan ruang refleksi sekaligus edukasi. Seni dapat menyentuh cara pandang masyarakat, membuat isu konservasi lebih dekat dan bermakna,” demikian penuturan Yayasan Aksi Konservasi Yogyakarta dalam pernyataan tertulis, dikutip Selasa (16/9).
Penyu dalam Mitologi Nusantara
Dalam berbagai tradisi, penyu dipandang sebagai simbol kosmik. Dalam kisah Hindu, Dewa Wisnu menjelma menjadi Kurma, penyu raksasa yang menopang dunia. Di Bali, mitologi Bedawang Nala menggambarkan kura-kura raksasa penyangga Pulau Bali sebagai lambang keseimbangan semesta. Bagi masyarakat Bajo, penyu dipercaya sebagai pelindung nelayan di laut.
Seniman Arahmaiani yang turut serta dalam pameran menuturkan, penyu baginya selalu terkait dengan laut sebagai sumber kehidupan.
“Saya ingin menghormati penyu atau kura-kura, dan di sini saya menggunakan bahan alami lagi. Karena urusan lingkungan ini berhubungan dengan pemahaman kita tentang alam. Bagaimana kita melestarikan alam itu,” ujarnya.
Ia menambahkan, harmonisasi antara mitos dan realitas harus terus dijaga. “Ini berhubungan dengan bagaimana kita bisa terus bertahan hidup bersama semua makhluk di muka bumi ini.”
Tampilkan Karya Lukisan hingga Dokumentasi
Selain pembukaan, rangkaian pameran meliputi tur karya bersama seniman, dokumentasi, serta publikasi untuk masyarakat luas. Karya yang ditampilkan mencakup lukisan, instalasi, catatan, hingga dokumentasi berbasis wawasan lingkungan.
Bagi Yayasan Aksi Konservasi Yogyakarta, penyu bukan sekadar mitologi, melainkan sahabat manusia dalam menjaga laut. Melalui seni, mereka berharap masyarakat semakin memahami bahwa upaya melestarikan penyu berarti juga menjaga keseimbangan hidup bersama.
