Konten Media Partner

Pemilu 2024: Berlayar Menuju Warisan Orla, Orba, atau Menyongsong Perubahan?

22 September 2023 14:05 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Pemilu 2024: Berlayar Menuju Warisan Orla, Orba, atau Menyongsong Perubahan?
Pemilu 2024 adalah pengujian antara warisan Orde Lama, Orde Baru, dan nilai-nilai reformasi dalam memilih masa depan bangsa. Sebuah opini dari Kyai Aguk Irawan MN. #publisherstory #pandanganjogja
Pandangan Jogja
Sebuah opini dari Pengasuh Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, Bantul, DIY, Kyai Aguk Irawan MN.
Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto. Foto: kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto. Foto: kumparan
Pemilu 2024 sangat dinanti-nantikan, dengan gairah politik yang membara, mulai dari kalangan elite hingga akar rumput. Sebab Pemilu kali ini sungguh berbeda dari Pemilu-pemilu sebelumnya. Pertarungan ideologis mengkristal pada figur-figur kunci yang akan berkompetisi.
Koalisi Perubahan mendeklrasikan Anies Rasyid Baswedan dan Muhaimin Iskandar sebagai bakal calon presiden dan bakal calon wakil presiden. Koalisi Perubahan diusung oleh Partai Nasional Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Keadilan Sejahtera.
Figur Anies dan Muhaimin adalah figur-figur ideologis, terlepas dari latar belakang partai politik masing-masing. Anies dan Muhaimin adalah anak-anak Reformasi, yang tidak memiliki beban sejarah apapun di masa lalu, juga tidak memikul beban ideologis apapun di masa lalu, baik di era Orde Lama Soekarnoisme maupun era Orde Baru Soehartoisme.
Pengasuh Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, Bantul, DIY, Aguk Irawan. Foto: Dok. Pribadi
Anies dan Muhaimin lebih tepat disebut sebagai representasi ideologi kaum intelektual, estafet representasi suara mahasiswa dan akademisi, yang memiliki perhatian tinggi terhadap masa depan bangsa dan negara. Pada kepribadian Anies Baswedan, tercermin idealisme Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan pada sosok Muhaimin Iskandar ada spirit aktivisme-idealis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Idealisme HMI dan aktivisme PMII sebagaimana tercermin pada Anies-Muhaimin tidak ditemukan pada dua sosok penentu lainnya, seperti Prabowo Subianto maupun Megawati Soekarnoputri. Ini penting dicatat dan ditandai dengan stabilo yang tebal. Prabowo adalah figur yang mewarisi warisan ideologi, jaringan, dan kekuatan Orde Baru, dan bagian dari rezim penguasa Orde Baru.
Begitupun dengan figur Megawati Soekarnoputri, yang memikul tanggung jawab mewujudkan warisan ideologi Orde Lama, Soekarnoisme, yang di zamannya Soekarno juga bagian dari rezim penguasa. Sekalipun Megawati mengusung Ganjar Pranowo, tetapi Ganjar sebatas "petugas partai", karenanya bukan "anak reformasi" melainkan petugas Soekarnoisme.
Presiden ke-1 RI Soekarno. Foto: AFP
Soekarnoisme identik dengan proletarianisme-marhaenis, Soehartoisme identik dengan developmentalisme-liberal, dan Reformasi adalah tentang perubahan-demokratis yang eligaliter. Konsekuensinya, nilai-nilai demokratis hanya ada pada mereka yang merupakan "anak reformasi", dan karenanya tidak akan ada istilah "penugasan" atau "petugas partai".
Selain "anak-anak reformasi", nilai-nilai demokratis tidak begitu diindahkan. PDIP sekalipun menunjuk Ganjar Pranowo daripada Puan Maharani, tetapi peran Ganjar tidak signifikan, karena dia hanya petugas partai dari pada pribadi yang merdeka.
Gaya kepemimpinan PDIP dalam kaitannya dengan Ganjar sebagai petugas partai sangat dimaklumi, karena memang demikianlah karakteristik rezim Orde Lama. Tidak jauh berbeda dengan gaya kepemimpinan Orde Baru yang juga otoriter, dan karenanya Gerindra hanya alat untuk memuluskan kepentingan Prabowo.
Berbeda halnya dengan Surya Paloh, yang rela menanggalkan ambisi dirinya sebagai ketua partai politik dan mencalonkan orang lain dari luar kader partai. Begitu pula dengan Muhaimin Iskandar, yang rela mengabaikan posisinya sebagai Ketua Umum dan menerima pinangan sebagai calon wakil presiden.
Dengan kata lain, Surya Paloh selangkah lebih maju daripada Prabowo Subianto. Jika Paloh mau mengusung kader dari luar partainya, maka mustahil Prabowo akan bertindak egaliter yang sama. Megawati tidak ubahnya dengan kepemimpinan Prabowo. Bahkan, menghilangkan kedaulatan kader dan menjadikannya sebatas petugas partai.
Untuk semua itu, Pemilu 2024 memang betul-betul istimewa, setidaknya untuk menguji isi hati yang terdalam seluruh rakyat Indonesia; apakah mereka masih mencintai dan memilih nilai-nilai warisan Orde Lama yang sosialis-otoritatif, atau nilai-nilai warisan Orde Baru yang liberal-otoritatif, atau nilai-nilai reformasi yang demokratis-perubahan?
Sudah saatnya kita semua menyaksikan hasil akhir dari Pemilu 2024 nanti, karena masa depan bangsa akan dihadapkan pada dua pilihan: mengulangi masa lalu yang sudah ditinggalkan, atau melangkah ke masa depan menyongsong perubahan yang lebih baik?
Jika Prabowo maupun Ganjar yang terpilih, maka satu periode kepemimpinan ke depan akan berjalan di tempat: yaitu berlayar ke masa lalu di era Orla atau Orba.
Trending Now