Konten Media Partner
Pemkab Sleman Catat Skor Integritas Terendah se-DIY dalam SPI KPK 2025
9 Desember 2025 20:22 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Konten Media Partner
Pemkab Sleman Catat Skor Integritas Terendah se-DIY dalam SPI KPK 2025
Pemkab Sleman menjadi lembaga dengan skor integritas terendah se-DIY berdasarkan Survei Penilaian Integritas (SPI) 2025 dari KPK. #publisherstory #pandanganjogja Pandangan Jogja

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mencatat skor integritas terendah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Survei Penilaian Integritas (SPI) 2025 yang dirilis Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pemkab Sleman memperoleh skor 74,14 dan masuk kategori rapor kuning.
Pengumuman hasil SPI disampaikan dalam rangkaian peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2025 yang digelar di Kompleks Benteng Vredeburg, Kota Yogyakarta, Selasa (9/12), dan dihadiri lebih dari 500 peserta dari instansi pemprov, pemkab/pemkot, serta kementerian/lembaga.
SPI 2025 melibatkan 657 instansi pemerintah di seluruh Indonesia, mulai dari pemerintah daerah hingga kementerian/lembaga. Survei ini digunakan KPK untuk memetakan potensi risiko korupsi serta mengidentifikasi area perbaikan dalam sistem dan budaya kerja di masing-masing instansi.
Di DIY, selain Sleman, sejumlah daerah juga meraih rapor kuning. Pemkab Gunungkidul mencatat skor 74,45, Pemkab Bantul meraih 74,54, dan Pemkot Yogyakarta memperoleh 77,38. Dua instansi lain meraih rapor hijau: Pemkab Kulon Progo dengan skor 78,32 dan Pemda DIY dengan skor tertinggi di provinsi tersebut, yakni 79,41.
Plt. Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK, Aminudin, menyampaikan bahwa SPI berfungsi sebagai alat refleksi untuk melihat kondisi sistem dan budaya kerja di sebuah lembaga. Ia meminta daerah yang mendapat rapor kuning tetap berupaya meningkatkan skor integritas pada tahun berikutnya.
βRekan-rekan yang skornya masih kuning atau merah harus tetap semangat optimis untuk bisa melakukan aksi sehingga di tahun depan kita survei hasilnya ada peningkatan,β kata Aminudin, Selasa (9/12).
βSPI pada dasarnya cermin, jadi merefleksikan posisi kita sekarang dimana. Ia memberitahu kita dimana sistem kita masih bocor, dimana budaya kerja masih permisif, dan dimana layanan masih membuka ruang suap, gratifikasi dan konflik kepentingan tetap,β tambahnya.
