Konten Media Partner
Penerbit Narasi Bangun Ekosistem Penulis Novel Serius Lewat Beasiswa Sastra I
20 Agustus 2025 16:19 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
Konten Media Partner
Penerbit Narasi Bangun Ekosistem Penulis Novel Serius Lewat Beasiswa Sastra I
Penerbit Narasi-Warung Sastra gelar Beasiswa Sastra I: Kelas Menulis Novel bersama Mahfud Ikhwan, diikuti 15 calon novelis untuk dukung ekosistem kepenulisan. #publisherstory #pandanganjogjaPandangan Jogja

Menjadi penulis novel di Indonesia bukan sekadar urusan bakat dan keberanian menerbitkan buku. Di balik setiap karya, ada proses panjang yang kerap terabaikan: ruang belajar, pendampingan, dan komunitas kreatif yang menopang keberlangsungan seorang pengarang.
Kesadaran itulah yang mendorong Penerbit Narasi bekerjasama dengan Warung Sastra meluncurkan Beasiswa Sastra I: Kelas Menulis Novel, sebuah inisiatif yang lahir dari kegelisahan akan minimnya ekosistem penulisan novel serius di Indonesia. Program yang digelar di Yogyakarta ini berupaya bukan hanya melatih, melainkan menciptakan ruang dialektis bagi penulis muda untuk bertumbuh bersama budaya membaca yang kuat.
โBanyak kegiatan literasi di Indonesia hanya memanen hasil, misalnya sayembara atau penerbitan. Proses kreatifnya jarang difasilitasi. Padahal kita tidak bisa menulis tanpa membaca dan berinteraksi dengan karya-karya berkualitas,โ ujar Direktur Narasi, Indra Ismawan, saat ditemui Kamis (14/8).
Kekosongan Penulis Serius di Generasi Z
Indra melihat generasi baru penulis Indonesia, terutama Generasi Z, bergairah dengan karya populer dan fenomena Alternate Universe (AU) di media sosial. Namun, ia menilai jarang muncul nama-nama baru di ranah novel serius dengan bobot sastra, berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih kaya akan pengarang besar.
โSemua jenis karya tentu kita hargai,โ katanya. โTapi, sayang jika minat menulis yang besar ini tidak diarahkan juga ke karya yang lebih serius. Indonesia butuh regenerasi novelis dengan fondasi sastra yang kuat.โ
Seleksi Ketat, Hanya 15 Peserta
Kelas Menulis Novel ini digelar dalam empat sesi, masing-masing berdurasi dua jam, pada 15โ16 dan 22โ23 Agustus 2025. Mahfud Ikhwan, novelis peraih penghargaan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Kusala Sastra Khatulistiwa, didapuk sebagai mentor utama.
Antusiasme publik cukup tinggi, tampak dari jumlah pendaftar yang mencapai 100 orang. Namun, hanya 15 pendaftar yang lolos seleksi. Kriteria utama pendaftaran meliputi surat motivasi, kemampuan dasar penulisan, serta draf atau outline novel. Sekitar 20 persen peserta bahkan sudah memiliki naskah novel yang selesai, meski belum diterbitkan.
Peserta yang diterima datang dari latar belakang beragam, mulai dari mahasiswa, penulis pemula, hingga pensiunan. Sementara itu, pendaftar yang belum terpilih tetap akan mendapat akses lewat kelas daring, sebagai bentuk inklusivitas program.
Mahfud Ikhwan: Hidup Dulu, Baru Menulis
Bagi Mahfud Ikhwan, pengalaman mengajar di kelas ini berbeda dari kebiasaannya menulis untuk diri sendiri. Hal ini dilihatnya sebagai sebuah tantangan. โSaya biasa merumuskan sistem kerja, sistem menulis untuk diri saya sendiri, dan tiba-tiba kemudian ada semacam keharusan untuk merumuskan itu untuk orang lain,โ akunya.
Ia menegaskan bahwa penulis tidak cukup hanya bersemangat, tapi juga butuh fondasi yang sehat. โBuku tidak selesai oleh orang yang kurang gizi. Pertama-tama, untuk menjadi penulis, kamu harus hidup dulu, baru bisa menulis,โ tutur Mahfud.
Menurutnya, seleksi peserta menjadi bagian penting dari proses itu. Dari surat motivasi yang dikirimkan peserta, misalnya, ia bisa menilai tulisan mana yang dibuat menggunakan artificial intelligence (AI).
โKarena saya juga tahu, tampaknya beberapa surat motivasi ditulis dengan AI. Kelihatan dari keseragaman, terus pilihan-pilihan yang apa ya? Pilihan-pilihan kata yang tidak match dengan misalnya data diri, apalagi nanti dicocokkan dengan excerpt atau ringkasan atau sinopsis yang mereka tulis,โ ungkapnya.
Lebih dari Sekadar Menerbitkan Buku
Indra menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak akan diukur dari berapa banyak novel yang terbit, melainkan dari berlanjutnya komunitas kreatif yang lahir dari kelas ini.
โSemakin program ini bisa bertahan lama dan menjadi wadah proses kreatif yang sehat, semakin berhasil tujuan kami,โ katanya.
Program Kelas Menulis Novel merupakan hasil kolaborasi antara Narasi dan Warung Sastra, komunitas literasi aktif di Yogyakarta. Nantinya, karya-karya peserta bebas diterbitkan di mana pun, tak harus di Penerbit Narasi. Ini menjadi komitmen Narasi untuk mendukung independensi penulis.
Harapan Indra, Beasiswa Sastra dapat berkembang menjadi program literasi nasional yang mempertemukan minat baca dan tulis, melahirkan penulis novel generasi baru yang solid secara teknik dan kaya wawasan.
Sebuah Ikhtiar Jangka Panjang
Di tengah industri penerbitan yang kerap menempatkan penulis pada posisi rapuh, Kelas Menulis Novel Narasi menjadi percikan kecil yang berarti. Bukan hanya ruang belajar, tapi juga sebuah ikhtiar membangun fondasi jangka panjang bagi lahirnya novelis-novelis serius dari Indonesia.
Kelas ini menjadi gerbang pembuka dari Narasi Writing Program, sebuah inisiatif yang bertujuan untuk mendorong ekosistem penulisan kreatif dan memberikan dampak sosial bagi dunia literasi. Setelah kelas menulis novel, Narasi juga akan mengadakan kelas menulis cerpen, esai, dan penyuntingan buku.
