Konten Media Partner
Reybrouck Hadir di Jakarta, Paparkan Revolusi Indonesia & Lahirnya Dunia Modern
22 Oktober 2025 16:34 WIB
·
waktu baca 3 menit
Konten Media Partner
Reybrouck Hadir di Jakarta, Paparkan Revolusi Indonesia & Lahirnya Dunia Modern
Sejarawan asal Belgia, David van Reybrouck, hadir dalam diskusi bukunya di Jakarta dan memaparkan bagaimana revolusi Indonesia menginspirasi lahirnya dunia modern. #publisherstory #pandanganjogjaPandangan Jogja

Sejarawan asal Belgia, David van Reybrouck, menyebut revolusi kemerdekaan Indonesia dan Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung sebagai dua peristiwa penting yang mendorong lahirnya dunia modern. Pandangan itu disampaikan dalam diskusi buku “Revolusi: Indonesia and the Birth of the Modern World” di Jakarta, Selasa (21/10).
Acara yang digelar Gamechangers Book Club bersama PRAKSIS (Pusat Riset dan Advokasi Serikat Jesus) ini menegaskan bahwa sejarah Indonesia memiliki dampak global.
“Revolusi Indonesia berikut Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 menjadi acuan bagi banyak bangsa di dunia untuk membebaskan diri dari kolonialisme,” ujar Reybrouck dalam siaran pers yang diterima Pandangan Jogja, Rabu (22/10).
Penulisan Sejarah dari Sudut Pandang Orang Kebanyakan
Reybrouck menjelaskan, penelitiannya berupaya keluar dari pola penulisan sejarah yang Nerlandosentris atau elitis. Ia menggunakan sumber-sumber dari masyarakat biasa yang menjadi saksi revolusi 1945–1949.
“Saya menggambarkan penulisan buku ini sebagai upaya menyusun kepingan-kepingan kecil mozaik menjadi sebuah narasi besar tentang sejarah Indonesia,” tuturnya.
Ia juga mengombinasikan arsip sejarah dengan metode sejarah lisan, mewawancarai ratusan orang kecil di berbagai daerah di Indonesia serta mantan tentara Gurkha di desa-desa Nepal. Tentara Gurkha diketahui menjadi bagian dari pasukan Inggris yang terlibat dalam transisi kekuasaan di Indonesia pascakemerdekaan.
Revolusi Indonesia sebagai Sejarah Dunia
Ketika ditanya alasan menulis tentang Indonesia, Reybrouck menegaskan bahwa revolusi Indonesia bukan hanya milik bangsa Indonesia.
“Saya bukan orang Indonesia. Saya juga bukan orang Belanda. Tetapi saya merasa bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah milik saya juga,” katanya.
Ia juga menyoroti kekerasan yang terjadi di semua pihak selama perang kemerdekaan. “Waktu itu tindak kejahatan perang dilakukan oleh semua pihak,” ujarnya.
Peran Pemuda dalam Revolusi
Pada akhir diskusi yang berlangsung di kompleks Kolese Kanisius Jakarta, Reybrouck menekankan peran penting pemuda dalam perjuangan kemerdekaan. Menurutnya, banyak pemuda yang masih berusia belasan tahun namun berani terlibat dalam revolusi.
“Jangan pernah meremehkan kekuatan kaum muda,” tegasnya.
Ia mencontohkan berbagai demonstrasi yang kini dilakukan generasi muda di berbagai negara. Reybrouck berharap semangat perubahan itu terus berlanjut, namun tanpa kekerasan massal seperti yang terjadi pada masa lalu.
Buku ‘Revolusi’ Terbit dalam Tiga Bahasa
Buku ini pertama kali terbit dalam bahasa Belanda pada 2020, disusul edisi bahasa Inggris pada 2024 yang menjadi best seller. Di Indonesia, buku ini diterbitkan oleh Gramedia dan juga ludes terjual saat acara berlangsung.
Lebih dari 200 peserta hadir dalam diskusi tersebut, termasuk Gemala Hatta (putri Bung Hatta), Meis Roem (putri Mohammad Roem), mantan Dubes RI untuk Jepang Heri Akhmadi, sejarawan Peter Carey, budayawan Mudji Sutrisno SJ, dan penulis Julia Suryakusuma.
Acara ditutup dengan sesi book signing oleh Reybrouck yang diikuti antrean panjang para peserta.
