Konten Media Partner

Tebing Breksi: Dari Las Vegas-nya Prambanan Jadi Ikon Baru Wisata Sleman

31 Mei 2025 13:48 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Tebing Breksi: Dari Las Vegas-nya Prambanan Jadi Ikon Baru Wisata Sleman
Sebelum ada wisata Tebing Breksi, Sambirejo dikenal sebagai Las Vegas-nya Prambanan dan desa termiskin di Sleman, kini justru jadi ikon baru wisata Sleman. #publisherstory #pandanganjogja
Pandangan Jogja
Wisata Tebing Breksi. Foto: Iqbaltwq/Pandangan Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Wisata Tebing Breksi. Foto: Iqbaltwq/Pandangan Jogja
Kemarahan adalah reaksi pertama Kholik Widianto ketika pemerintah meminta tambang di desanya dihentikan dan dialihfungsikan menjadi tempat wisata. Padahal, itu adalah mata pencaharian utamanya, dan juga puluhan penambang lain di Desa Sambirejo, Prambanan, Sleman.
Dari menambang batuan breksi, mereka bisa mendapatkan minimal Rp5 juta tiap bulan. Dan kini, mereka terancam kehilangan sumber pendapatan itu.
“Kalau tambang ini dihentikan, besok bayar sekolah pakai apa? Nyicil kendaraan gimana? Urusan dapur bagaimana?” ujarnya.
Ilustrasi proses penambangan batuan di Tebing Breksi. Foto Tebing Breksi
Saat itu, Kholik memutuskan menjadi provokator. Ia berdiri paling depan untuk menentang penghentian tambang. Setiap kali petugas dari Pemda DIY datang, ia menyambut dengan raungan knalpot motor. Kadang, lemparan botol atau batu melayang.
“Tapi tidak sampai kena, untuk nakut-nakuti saja, dengan harapan tambang enggak jadi ditutup,” lanjutnyaa.
Namun, itu semua dilakukan Kholik lebih dari 10 tahun yang lalu, medio 2014-2015. Kini, kawasan tambang yang dulu ia perjuangkan telah menjadi destinasi wisata, salah satu yang paling populer di Sleman: Tebing Breksi. Kholik tak lagi jadi provokator, ia kini justru jadi Ketua Pengelola Wisata Tebing Breksi.
“Bisa dibilang, dulu provokator, sekarang saya jadi motivator pariwisata,” kata Kholik saat ditemui Pandangan Jogja pekan kemarin.
Las Vegas dari Prambanan
Proses awal pembangunan Wisata Tebing Breksi. Foto: Tebing Breksi
Saat aktivitas pertambangan masih berjalan, kawasan Tebing Breksi dikenal sebagai Las Vegas-nya Prambanan. Setelah matahari tenggelam, ‘kasino-kasino’ kecil bermunculan dari pos ronda hingga teras rumah. Pada kartu dan dadu, masyarakat mempertaruhkan hidupnya.
”Dulu kawasan ini orang bilang Las Vegas-nya Prambanan, karena kegiatan judi itu marak sekali,” kenang Kholik.
Ironisnya, aktivitas perjudian makin marak setiap bulan Ramadan. Orang-orang bahkan rela berutang ke rentenir untuk berjudi, dengan harapan menang besar sehingga bisa digunakan untuk kebutuhan lebaran.
“Kalau bulan Puasa itu malah sampai pagi. Tiap mau lebaran itu kan kebutuhan banyak, saking bingungnya ya judi, adu nasib,” lanjutnya.
Hasil menambang memang lumayan, paling tidak Rp 5 juta sampai Rp6 juta bisa didapatkan masyarakat setiap bulan. Tapi, uang itu seringkali lenyap begitu saja di ‘kasino’ pos ronda.
“Saya kan juga pelaku tambang, setiap selesai jual satu truk itu kan sudah bayaran, nah keringat belum kering, yang sudah habis untuk judi itu biasa,” ujar Kholik.
Ubah Desa Termiskin Jadi Desa Maju
Wisata Tebing Breksi. Foto: Iqbaltwq/Pandangan Jogja
Selain Las Vegas dari Prambanan, Desa Sambirejo juga pernah memegang predikat desa termiskin di Sleman sebelum adanya Wisata Tebing Breksi. Meski tanah mereka luas, tapi hampir tak ada yang bisa dijadikan lahan pertanian.
Sebab, mayoritas merupakan lahan tandus dan berbatu dengan ketebalan ratusan meter. Air pun menjadi barang mewah di Sambirejo. Akibatnya, tanah desa yang luas itu pun tak laku untuk disewakan. Hal itu membuat pendapatan asli desa bahkan tak bisa menyentuh angka Rp10 juta.
”Pernah target PAD kalurahan Rp10 juta, itupun tidak tercapai, hanya dapat Rp3 juta,” kata Kholik yang juga pernah menjadi anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Sambirejo.
Setahun beroperasi, Tebing Breksi telah menyumbang pendapatan sebesar Rp30 juta pada 2016. Pada 2017 naik signifikan menjadi Rp200 juta, 2018 menjadi Rp800 juta, dan puncaknya sebelum pandemi pada 2019 dengan sumbangan sebesar Rp1,3 miliar untuk desa.
Kini, Desa Sambirejo telah berubah dari desa miskin menjadi desa maju.
”Jadi hanya sekitar 4 tahun, Tebing Breksi berhasil meningkatkan pendapatan desa ratusan kali lipat,” ujarnya.
Peran Lintas Komunitas
Komunitas Gerobak Sapi saat bersiap menyambut kedatangan Sultan HB X untuk meresmikan Tebing Breksi pada 30 Mei 2015 silam. Foto: Tebing Breksi
Suksesnya Tebing Breksi jadi destinasi wisata tak lepas dari peran puluhan komunitas yang tergabung dalam Lintas Komunitas Peduli Pariwisata DIY. Mereka hadir di masa-masa sulit Breksi, dan turut membidani kelahirannya.
Arif Prihantoro, Ketua Lintas Komunitas Peduli Pariwisata DIY, mengakui bahwa kendala utama yang dialami saat itu adalah meyakinkan masyarakat bahwa wisata bisa memberikan kesejahteraan yang lebih baik ketimbang tambang.
”Kita harus menjamin, wisata itu bisa untuk hidup di masa depan,” ujar Arif kepada Pandangan Jogja.
Mereka lalu banyak mengadakan berbagai kegiatan di Breksi. Ada komunitas trabas, NMAX, Pajero, aeromodelling, burung, offroad, sepeda onthel, downhill, hingga komunitas bajingan alias gerobak sapi.
”Ada 20 komunitas lebih yang terlibat di sana, kita orkestrasi agar membuat kegiatan di Breksi,” jelasnya.
Wisata Tebing Breksi. Foto: Iqbaltwq/Pandangan Jogja
Dulu, medsos belum secepat dan semasif sekarang. Dari kegiatan-kegiatan itu Breksi mulai mendapat eksposur dan dikenal luas masyarakat.
“Dari situlah mereka mulai percaya kalau Breksi ini memang bisa menjadi penghidupan mereka,” ujar Arif.
Salah satu momentum penting keterlibatan Lintas Komunitas ini adalah sebuah pertemuan di Hotel Neo Malioboro lantai 9 yang kemudian melahirkan gerakan tersebut. Dari situ juga lahir inisiatif dan komitmen bersama para komunitas untuk mengembangkan pariwisata Jogja, salah satunya Breksi.
”Pendiriannya dimulai dari tempat saya, di Hotel Neo lantai 9. Di situ tempat lahirnya inisiatif ini,” kata Arif Effendi, pemilik Hotel Neo Malioboro, yang juga pembina Lintas Komunitas.
Bangun Jiwanya Dulu, Baru Badannya
Wisata Tebing Breksi. Foto: Iqbaltwq/Pandangan Jogja
Salah satu orang yang paling kerap berhadapan dengan kerasnya penolakan warga Breksi saat itu adalah Aria Nugrahadi. Dulu, dia adalah Kepala Bidang Pengembangan Destinasi di Dinas Pariwisata DIY.
Tak jarang dari sore sampai dini hari dia di Breksi untuk meluluhkan hati masyarakat dan membangun kepercayaan. Tak terhitung berapa banyak batang rokok dan kopi yang dia habiskan tiap malam bersama warga.
”Kopi itu habis ada 10 kilogram,” kelakarnya.
Menurutnya, kunci keberhasilan Breksi adalah karena yang dibangun jiwanya dulu, bukan badannya. Mereka lebih dulu membangun kompetensi dan integritas masyarakat daripada infrastrukturnya.
“Kalau yang dibangun badannya dulu, fisiknya dulu, pasti mangkrak. Jadi kuncinya, bangunlah jiwanya dulu, baru badannya,” kata Aria.
Anak Ajaib Bernama Breksi
Wisata Tebing Breksi. Foto: Iqbaltwq/Pandangan Jogja
Kini, setelah 10 tahun, tak ada satupun yang menyangka Tebing Breksi akan berkembang secepat dan sebesar sekarang. Tebing Breksi berkembang di luar ekspektasi semua orang yang terlibat: pemerintah, komunitas, apalagi warga yang sejak awal sudah meragukannya.
“Sejak awal enggak pernah membayangkan Breksi akan jadi seperti sekarang. Tahun 2015, belakang itu masih kayak tempat jin buang anak,” kata Aria.
Arif Prihantoro, Ketua Lintas Komunitas Peduli Pariwisata DIY, melihat Breksi sebagai anak ajaib. Di usia yang relatif muda, Breksi sudah bisa mendatangkan ribuan orang tiap hari, ia menjelma ikon wisata baru di Sleman sebanding dengan Kaliurang dan Candi Prambanan.
“Di luar ekspektasi kami, Breksi jadi seperti itu jauh. Breksi itu anak ajaib, begitu dilahirkan langsung lari-lari. Breksi luar biasa,” kata Arif.
Kholik Widianto, sang mantan provokator penolak penghentian tambang yang kini jadi Ketua Pengelola Wisata Tebing Breksi, lebih tak menyangka lagi. Ia masih sering tak percaya sudah 10 tahun mengelola dan menggantungkan hidup ke pariwisata, bersama ratusan warga Breksi.
“Karena apa kalau hanya lihat batu kan kita dari kecil lihat batu. Kok jadi wisata, kok buat foto-foto? Itu masih sering enggak masuk logika saya,” kata Kholik.
*Liputan ini didukung oleh Yamaha NMAX, game changer skuter matic di Indonesia.
*Terima kasih untuk Bapak Arif Effendi, pemilik Hotel Royal dan Neo Malioboro yang telah menceritakan pertama kali kisah ini dan memberikan kontak para narasumber.
Trending Now