Konten Media Partner

Toko Roti Jakarta Bercerita: Lahir di Malioboro, Pertahankan Resep 101 Tahun

12 November 2025 18:00 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Toko Roti Jakarta Bercerita: Lahir di Malioboro, Pertahankan Resep 101 Tahun
Toko Roti Jakarta di depan Stasiun Yogya berdiri sejak 1924. Meski namanya Jakarta, tapi toko ini lahir di kawasan Malioboro dan tak ada kaitannya dengan ibu kota. #pandanganjoga #publisherstory
Pandangan Jogja
Toko Roti Jakarta berlokasi di jalan Jlagran Lor No.7, Pringgokusuman, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta, sudah berdiri sejak tahun 1924. Foto: Gracetika/Pandangan Jogja
zoom-in-whitePerbesar
Toko Roti Jakarta berlokasi di jalan Jlagran Lor No.7, Pringgokusuman, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta, sudah berdiri sejak tahun 1924. Foto: Gracetika/Pandangan Jogja
Di seberang Stasiun Yogyakarta, berdiri sebuah toko roti yang namanya justru tidak mencerminkan kota tempatnya berada. Toko ini bernama Toko Roti Jakarta. Meski namanya mengingatkan pada ibu kota negara, toko ini justru lahir di kawasan Malioboro.
Toko Roti Jakarta berdiri sejak tahun 1924 dan telah beroperasi selama lebih dari satu abad. Kini, toko yang menjual roti-roti jadul ini dikelola oleh generasi keempat dan tetap mempertahankan resep yang diwariskan sejak pertama kali berdiri.
Toko Roti Jakarta, tapi Lokasinya di Jogja
Generasi ketiga penerus Toko Roti Jakarta, Hari Purwanto. Foto: Yusuf Hayy/Pandangan Jogja
Sebelum memakai namanya yang sekarang, toko ini bernama Toko Roti Weltevreden, merujuk pada distrik di kawasan Batavia pada era pemerintah kolonial. Sejak Indonesia merdeka, pemerintah melarang penggunaan nama dengan unsur bahasa Belanda, sehingga toko ini mengubah namanya menjadi Toko Roti Jakarta.
Awalnya, Toko Roti Jakarta berada di kawasan Malioboro sebelum berpindah ke lokasi yang hanya berjarak sekitar 60 meter dari Stasiun Yogyakarta. Toko ini menjual sekitar 20 jenis roti yang dibuat setiap hari. Ciri khas roti di toko ini terletak pada adonannya yang dibuat polos.
Beberapa jenis roti seperti roti sobek dan ontbijtkoek sudah menjadi menu tetap sejak awal toko ini berdiri. Sementara itu, roti sobek, roti semir, roti sisir, dan roti isi daging menjadi jenis roti yang paling banyak peminatnya.
β€œKalau kamu mau lihat betul-betul rasanya, cita rasanya, kekuatan kita (ada) di rotinya ini. Bukan di topping. Jadi ya, roti ini memang best seller dari dulu,” kata generasi ketiga penerus Toko Roti Jakarta Hari Purwanto, saat ditemui Pandangan Jogja, Sabtu (1/11).
Setiap hari, roti di toko ini diproduksi sendiri di dapur yang berada di bagian belakang toko. Proses pembuatannya masih mempertahankan bahan dari resep lama: seluruh adonan menggunakan telur ayam kampung, mengikuti cara yang diterapkan oleh pendiri pertama.
β€œSejak mulai berdiri kan 1924, ini kan (yang digunakan adalah) resep-resep kuno, dan ini masih diproduksi seperti ini,” kata Hari sembari menunjuk roti di etalase.
Pakai Resep Ragi Sendiri Warisan Lintas Generasi
Foto dan sertifikat perjalanan Toko Roti Jakarta dari masa ke masa. Foto: Gracetika/Pandangan Jogja
Pengembang roti yang dipakai juga bukan jenis instan. Toko ini membuat dan merawat biang ragi alaminya sendiri dengan metode yang diturunkan lintas generasi. Proses ini dilakukan secara manual setiap hari sebelum roti dipanggang. Biang ragi ini dapat bertahan hingga satu sampai dua tahun sebelum akhirnya dibuat kembali. Hari mengaku, cara ini memang membutuhkan waktu lebih lama. Namun, roti yang dihasilkan akan lebih padat dan sehat karena dibuat tanpa pengembang instan.
β€œRoti tetap kita model lama ya, dalam arti resep-resep kuno dan bibit pengembangnya itu kita bikin sendiri, model biang. Jadi, dia tanpa fermipan, tanpa pengembang instan,” tutur Hari. Menurutnya, roti dengan pengembang alami juga membuat lebih cepat kenyang.
Tampak depan Toko Roti Jakarta. Foto: Yusuf Hayy/Pandangan Jogja
Toko Roti Jakarta mematok harga mulai dari Rp8.000 hingga Rp30.000 untuk setiap rotinya. Sebagian besar pembeli yang datang merupakan pelanggan lama yang sudah mengenal toko ini sejak kecil.
β€œSejak SD lah (sudah membeli roti di sini). Ibu saya suka ngajak saya ke sini,” kata Dottie, salah satu pelanggan Toko Roti Jakarta yang kini berusia 50 tahun.
Hari itu, Dottie tak datang sendiri. Ia ditemani putrinya Aya. β€œBeli banyak kan ya, soalnya untuk satu rumah, karena yang paling suka itu eyang, jadi tadi ini nitip dibelikan,” ujar Aya.
Trending Now