Konten Media Partner
Wamensos Hadiri 2 Abad Perang Diponegoro di Sleman: Ia Adalah Jati Diri Bangsa
18 Juli 2025 17:41 WIB
Β·
waktu baca 2 menit
Konten Media Partner
Wamensos Hadiri 2 Abad Perang Diponegoro di Sleman: Ia Adalah Jati Diri Bangsa
Wamensos Agus Jabo Priyono menghadiri peringatan 2 abad Perang Diponegoro di Sleman. Menurutnya, apa yang diperjuangkan Pangeran Diponegoro adalah jati diri bangsa. #publisherstory #pandanganjogjaPandangan Jogja

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, menghadiri acara Umbul Donga dan Tumpengan Mengenang 200 Tahun Perang Diponegoro yang digelar di Java Village Resort, Sleman, pada Kamis (17/7).
Peringatan ini diselenggarakan oleh sejumlah pihak, antara lain Koperasi Seniman Budayawan Adiluhung Yogyakarta (KOSETA), Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi), Jaringan Kebudayaan Rakyat (JAKER), dan Penerbit Media Pressindo.
Dalam kesempatan itu, Jabo menyebut bahwa perjuangang Pangeran Diponegoro merupakan simbol dari jati diri Bangsa Indonesia.
βPangeran Diponegoro adalah santri Mataram yang sangat hebat. Imannya kuat, kebatinannya kuat sekali, pengorbanannya kuat sekali. Mari kita temukan siapa diri kita, siapa bangsa kita. Bayangkan bangsa kita menjadi bangsa hebat, setara dengan bangsa-bangsa lain. Itu saya pikir jadi cita-cita dari Pangeran Diponegoro,β ujar Jabo, Kamis (17/7).
Ia menilai Pangeran Diponegoro merupakan sosok spiritual sekaligus pejuang yang mampu melampaui kepentingan kelas bangsawan demi rakyat dan tanah air. Karena itu, Agus Jabo mengajak masyarakat menggali kembali jati diri bangsa dengan meneladani semangat perjuangan tokoh besar dari Tanah Jawa tersebut.
βSaya berpendapat, apa yang diperjuangkan dan dipertahankan oleh Pangeran Diponegoro adalah jati diri bangsa. Jati diri bangsa dalam menghadapi kolonialisme Belanda. Jati diri bangsa dalam menghadapi dominasi, ekspansi elite sistem yang ada di Barat sana,β ujarnya.
Ia juga menyinggung bahwa berbagai sistem ekonomi dan pemerintahan dari dunia Barat telah diterapkan di Indonesia, namun belum berhasil membawa perubahan signifikan. Menurutnya, hal ini bisa jadi disebabkan oleh belum dikenalnya jati diri bangsa sendiri.
βJangan-jangan kita tidak memahami itu. Mohon maaf, belum ada Indonesia, Jawa tidak pernah kalah dengan Eropa,β tambahnya.
