Konten Media Partner

Yu Ning Tetap Minum Air Hujan, Meski Riset BRIN Temukan Kandungan Mikroplastik

30 Oktober 2025 15:33 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Yu Ning Tetap Minum Air Hujan, Meski Riset BRIN Temukan Kandungan Mikroplastik
Yu Ning, pendiri Komunitas Banyu Bening di Sleman, sudah 14 tahun minum air hujan. Dia tetap minum air hujan meski riset BRIN menyebut ada kontaminasi mikroplastik. #publisherstory #pandanganjogja
Pandangan Jogja
Ilustrasi hujan deras. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hujan deras. Foto: Pixabay
Sri Wahyuningsih atau Yu Ning tak ragu untuk tetap minum air hujan, meski riset terbaru BRIN menyebut ada kandungan mikroplastik dalam air hujan di sejumlah wilayah, terutama Jakarta.
Yu Ning adalah pendiri Banyu Bening, komunitas yang sudah sejak 2012 menggalakkan gerakan memanen air hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Dan sejak saat itu juga setiap hari ia minum air hujan.
Ia pernah menjadi nominator penerima Kalpataru 2022 sebagai Perintis Lingkungan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta meraih Kehati Award kategori Climate Change pada 2024.
Piagam dan trofi penghargaan milik Sri Wahyuningsih, pendiri Komunitas Banyu Bening di Sleman. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
Meski BRIN menyebut ada kontaminasi mikroplastik, tapi Yu Ning meyakini jika air hujan masih sangat aman untuk dikonsumsi. Ia juga mempertanyakan metode yang dilakukan BRIN dalam mengambil sampel air hujan yang diteliti.
β€œAman, sangat aman. Kebetulan kemarin kami bertemu dengan perisetnya langsung di satu sesi ketika kami bersama-sama di Indonesia Climate Change Forum. Dan ternyata dalam pengambilan sampel itu wadahnya disiapkan sebelum hujan, jadi debu-debu pun terjebak di situ,” ujar Yu Ning saat ditemui Pandangan Jogja di Sekolah Air Hujan, Selasa (28/10).
Belajar Menampung Air dengan Aman
Air dipisahkan menjadi kategori basa dan asam sebelum digunakan oleh Komunitas Banyu Bening di Sekolah Air Hujan, Ngaglik, Sleman. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
Kendati demikian, Yu Ning tak menampik adanya paparan mikroplastik maupun partikel lain di udara yang berpotensi mencemari udara. Namun ia punya cara agar air hujan tetap aman untuk dikonsumsi, cara sederhana yang menurutnya bisa dilakukan oleh semua orang.
Kuncinya adalah pada waktu dan cara penampungan air hujan yang tepat. Tahap awal penampungan dilakukan dengan melewatkan hujan pertama dan kedua setelah musim kemarau, tujuannya untuk membersihkan atap rumah terlebih dulu.
Baru hujan ketiga atau keempat itulah yang bisa ditampung, itupun mesti menunggu 10 atau 15 menit dulu untuk membersihkan udara. β€œJadi jangan karena saking semangatnya, hujan pertama langsung ditadah, no. Ada SOP-nya,” kata Yu Ning.
Pendiri Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih (Yu Ning). Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
Air yang sudah tertampung kemudian dibiarkan beberapa saat agar kotoran yang terbawa mengendap, setelah itu tinggal disimpan di tempat yang teduh. Sebab, jika air tersebut terkena sinar matahari bisa menumbuhkan lumut.
β€œAir yang disimpan ini hanya boleh digunakan saat musim kemarau. Selama musim hujan gunakan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari, jadi di musim kemarau persediaan air bersih kita sudah aman,” ujarnya.
Meski dikabarkan mengandung mikroplastik, Yu Ning juga meyakini jika air hujan masih lebih aman dibandingkan sumber lain, misalnya air tanah yang paling banyak digunakan masyarakat.
β€œKalau dibandingkan dengan air tanah kita, paparan mikroplastiknya justru jauh lebih banyak. Bangkai tikus atau kucing kan nggak mungkin menguap ke langit, semuanya mengendap di tanah,” katanya.
Hujan Bukan Sumber Bencana, tapi Lumbung Kehidupan
Bangunan Sekolah Air Hujan Banyu Bening, tempat edukasi pengolahan air hujan di Sleman. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
Bagi Yu Ning, datangnya hujan bukan ancaman, melainkan anugerah. Menurutnya, persoalan banjir dan kekeringan yang terjadi setiap tahun disebabkan pola pikir dan manajemen air yang belum berkelanjutan.
β€œDari dulu ada air hujan kok. Tapi kenapa sekarang setiap hujan justru banjir dan genangan makin meluas? Ini yang seharusnya jadi introspeksi kita bersama,” katanya.
Ia menambahkan, setiap rumah tangga dapat berkontribusi hanya dengan langkah sederhana: menampung air hujan.
β€œTiap satu keluarga nampung 1.000 liter aja, berapa sih air yang tidak run off, tentu akan luar biasa ini. Masyarakat akan mendapatkan air yang gratis, tidak berbayar lagi,” ujarnya.
Deretan instalasi penyaringan air hujan milik Komunitas Banyu Bening di Sekolah Air Hujan. Foto: Pandangan Jogja/Resti Damayanti
Konsep pengelolaan air hujan di Banyu Bening dituangkan dalam lima langkah: menampung, mengelola, mengolah, memanfaatkan, dan mengembalikan air hujan ke tanah.
Karena itu, setiap tiba musim penghujan, ia justru menyambutnya dengan gembira, layaknya petani menyambut panen raya.
”Kami bersyukur sekali setiap masuk musim hujan, ini seperti panen raya bagi kami,” ujar Yu Ning.
Trending Now