Konten dari Pengguna

Gaji Naik, Tapi Tetap Nggak Bisa Nabung: Kok Bisa?

Patricia Cooper Soerjono
Siswi PENABUR Junior College Kelapa Gading
18 Oktober 2025 19:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Gaji Naik, Tapi Tetap Nggak Bisa Nabung: Kok Bisa?
Gaji naik tapi tabungan tetap tipis? Mungkin masalahnya bukan di penghasilan, tapi di cara kita mengatur uang dan gaya hidup.
Patricia Cooper Soerjono
Tulisan dari Patricia Cooper Soerjono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi menabung. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menabung. Foto: Shutter Stock
Setiap kali tanggal gajian tiba, semangat rasanya seperti menang undian. Namun entah kenapa, beberapa hari kemudian saldo rekening kembali menipis. Padahal, gaji sudah naik dari tahun lalu. Mengapa kita tetap saja susah menabung, padahal penghasilan meningkat?
Fenomena ini ternyata bukan cuma dialami satu dua orang. Banyak karyawan muda di kota besar yang merasa “selalu tekor” meskipun nominal gaji mereka terlihat cukup. Dalam survei Katadata (2023), lebih dari 60% pekerja milenial dan Gen Z mengaku sulit menabung secara rutin, meski gaji mereka sudah naik dibanding tahun sebelumnya.
Masalahnya bukan hanya soal pendapatan, tapi juga gaya hidup dan pola pikir finansial yang berubah seiring waktu.

1. LifestyleInflation: Ketika Kenaikan Gaji Disusul Kenaikan Gaya Hidup

Ada istilah dalam dunia finansial yang disebut lifestyle inflation, yakni kondisi ketika penghasilan naik, tapi pengeluaran ikut naik.
Contohnya sederhana: dulu kopi tubruk Rp10 ribu terasa cukup. Setelah gaji naik, muncul kebiasaan membeli coffee to go seharga Rp40 ribu setiap pagi. Atau dulu makan siang di warteg, sekarang pindah ke restoran karena sekalian meeting.
Naiknya standar hidup sering kali terjadi tanpa sadar. Kita merasa “wajar” memberi penghargaan pada diri sendiri setelah kerja keras. Hal ini memang tidak salah. Namun, jika setiap kenaikan gaji selalu diikuti oleh peningkatan gaya hidup, tentu tidak akan pernah ada sisa uang untuk ditabung.
Menurut psikolog keuangan, perilaku ini muncul karena dorongan emosional, yaitu keinginan untuk menunjukkan peningkatan status atau merasa lebih sukses dari sebelumnya. Masalahnya, lifestyle inflation sering terasa seperti kemajuan, padahal sebenarnya hanya merupakan pergeseran prioritas.
Contoh coffee to go yang menjadi teman banyak orang sebelum berangkat ke kantor. Foto dari penulis.

2. Gaya Hidup Kota Besar dan Ilusi Kebutuhan Baru

Hidup di kota besar membuat kita terbiasa dengan kenyamanan tertentu: nongkrong di kafe, pesan makanan lewat aplikasi, transportasi online, langganan streaming. Semuanya terasa sebagai kebutuhan dasar.
Namun, banyak dari itu sebenarnya adalah kenyamanan tambahan yang perlahan dianggap sebagai kebutuhan utama. Inilah yang disebut “ilusi kebutuhan baru”, sebuah fenomena ketika sesuatu yang dulunya merupakan pilihan berubah menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan.
Misalnya, tanpa sadar kita berlangganan beberapa platform hiburan sekaligus, padahal hanya menonton satu dua film per bulan. Atau pesan makan siang lewat aplikasi setiap hari karena merasa “lebih praktis”, padahal biaya dua kali lipat dari masak sendiri.
Tidak heran jika banyak pekerja muda berkata, “Gaji saya sudah naik, tetapi tetap saja habis untuk biaya hidup.” Padahal, yang berubah bukan hanya biaya hidup, melainkan juga definisi “hidup nyaman” itu sendiri.

3. Budaya Konsumsi di Era Media Sosial

Media sosial memperparah situasi ini. Tanpa sadar, kita sering membandingkan diri dengan orang lain yang terlihat lebih sukses, lebih “mapan”, atau lebih sering liburan.
Muncul istilah “social comparison trap,” jebakan perbandingan sosial yang membuat kita merasa harus mengikuti gaya hidup orang lain, meski belum tentu sesuai kemampuan.
Contoh klasiknya: teman mengunggah foto staycation di hotel bintang lima, kita pun jadi ingin. Seorang influencer mengulas skincare premium, kita langsung tergoda untuk membeli. Padahal, kebutuhan pribadi belum tentu mengarah ke sana.
Algoritma media sosial pun bekerja untuk memperkuat dorongan konsumtif. Konten yang menonjolkan kemewahan atau tren baru lebih sering muncul di beranda, sehingga kita lebih mudah tergoda untuk “ikut-ikutan”. Dari sini, muncul efek domino: pengeluaran kecil tapi rutin akhirnya menggerus kemampuan menabung. Lama-lama, gaji naik pun tetap terasa pas-pasan.
Contoh blind box yang saat ini menjadi tren di media sosial dan membuat banyak orang menjadi lebih konsumtif. Foto dari penulis.

4. Kurangnya Literasi Finansial: Tidak Punya Rencana, Tidak Punya Arah

Salah satu alasan utama orang sulit menabung adalah tidak punya perencanaan keuangan yang jelas. Banyak yang berpikir menabung itu hanya soal menyisihkan sisa uang. Padahal, seharusnya menabung adalah prioritas, bukan sisa. Tanpa rencana, uang cenderung “mengalir” ke hal-hal yang tidak penting.
Tidak sedikit orang yang bahkan tidak tahu pasti berapa pengeluarannya setiap bulan. Mereka hanya memperkirakan saja. Akibatnya, keuangan terasa selalu defisit di akhir bulan.
Padahal, langkah sederhana seperti membuat catatan pengeluaran, menerapkan sistem 50-30-20 (50% kebutuhan, 30% keinginan, 20% tabungan/investasi), atau menggunakan aplikasi budgeting bisa membantu banget untuk mengontrol arus uang.
Selain itu, banyak juga yang belum punya mindset investasi jangka panjang. Gaji naik sering dianggap sinyal untuk memperbanyak konsumsi, bukan memperkuat fondasi finansial. Padahal, sedikit perubahan cara pandang bisa membawa dampak besar dalam beberapa tahun ke depan.

5. Faktor Eksternal: Inflasi dan Biaya Hidup yang Terus Meningkat

Tidak bisa dimungkiri, faktor eksternal juga berperan. Inflasi membuat harga kebutuhan pokok terus meningkat setiap tahun. Data BPS menunjukkan, rata-rata inflasi tahunan Indonesia berada di kisaran 3–4%, sementara kenaikan gaji banyak perusahaan kadang tidak sebanding.
Akibatnya, meski nominal gaji bertambah, daya belinya tidak banyak berubah. Kombinasi antara inflasi, kenaikan harga sewa, transportasi, dan kebutuhan lain membuat keuangan terasa stagnan, bahkan saat penghasilan meningkat. Namun, ini bukan alasan untuk menyerah. Justru karena kondisi ekonomi seperti ini, penting untuk punya strategi yang lebih cerdas dalam mengelola uang.

Penutup: Naik Gaji Adalah Kesempatan, Bukan Jaminan

Kenaikan gaji memang menyenangkan, tetapi bukan jaminan kesejahteraan. Tanpa pengelolaan yang bijak, tambahan pendapatan hanya menciptakan pola konsumsi baru yang tidak lebih sehat dari sebelumnya.
Kunci utama bukan pada seberapa besar penghasilan, melainkan seberapa efektif kita mengatur dan memanfaatkannya. Mulailah dengan menetapkan tujuan finansial yang jelas, menyisihkan tabungan di awal bulan, dan mengontrol dorongan konsumtif yang muncul akibat tekanan sosial.
Karena pada akhirnya, gaji yang naik tidak akan mengubah apa pun jika kebiasaan finansial tetap sama. Sebaliknya, dengan kesadaran dan pengelolaan yang baik, bahkan kenaikan kecil sekalipun bisa menjadi langkah nyata menuju kemandirian finansial.
Trending Now