Konten dari Pengguna
Dingin, Gelap, dan Tak Terduga: Terjebak Badai Salju Terburuk di Texas
20 Oktober 2025 10:30 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Dingin, Gelap, dan Tak Terduga: Terjebak Badai Salju Terburuk di Texas
Kisah tentang bagaimana dua minggu pertama hidup saya di Houston berubah menjadi pengalaman tak terlupakan saat badai salju terburuk dalam 32 tahun melanda Texas.Hadyan Tamimi
Tulisan dari Hadyan Tamimi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Salju turun pelan-pelan di luar jendela, menutupi jalanan Houston yang biasanya ramai, dengan warna putih pucat. Angin dingin menerobos celah jendela kamar hotel tempat saya tinggal, membawa hawa beku yang menusuk hingga ke tulang. Listrik padam, air tidak mengalir, dan semua orang diminta tetap di dalam rumah. Saya menatap ke luar, masih tak percaya β baru dua minggu saya tiba di Texas untuk memulai penugasan, dan kini saya terjebak di tengah badai salju terburuk dalam lebih dari tiga dekade.
Rabu, 14 Februari 2021, tepat dua minggu sejak saya tiba di Houston, Texas, untuk memulai penugasan di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Houston. Saat saya masih sibuk beradaptasi dengan lingkungan baru, tiba-tiba badai salju besar datang menyambut, dan semuanya berubah total.
Beberapa hari sebelumnya, saya sudah melihat berita di televisi tentang peringatan cuaca ekstrem. Weather alert muncul di telepon genggam dan layar TV hotel tempat saya menginap, tapi saya tidak terlalu khawatir. Dalam pikiran saya, "Ini Amerika, negara maju dengan empat musim. Pasti sudah siap menghadapi salju.". Namun, dugaan saya salah besar.
Texas ternyata bukan tempat yang biasa bersalju. Negara bagian yang terkenal dengan panasnya matahari dan padang luas ini justru tidak memiliki infrastruktur untuk menghadapi badai musim dingin. Mobil-mobil tergelincir, jalanan tertutup es, dan salju turun tebal dari yang bisa dibayangkan.
Belakangan saya baru tahu bahwa badai itu, bukan sembarang badai. Antara 11 hingga 20 Februari 2021, badai salju besar melanda hampir seluruh Amerika Serikat bagian tengah, termasuk Texas. Setiap county (semacam wilayah distrik) di Texas bahkan berada dalam status Winter Storm Warning. Suhu turun drastis di bawah titik beku, dan wind chill mencapai minus beberapa derajat. Itu adalah badai salju paling dingin sejak Desember 1989 dan menjadi bencana cuaca pertama di tahun 2021 yang menyebabkan kerugian lebih dari satu miliar dolar.
Saat badai mencapai puncaknya, listrik di hotel tempat saya menginap padam, air pun tidak mengalir selama empat hari penuh. Saya belum punya rumah tetap, jadi tidak punya banyak pilihan selain bertahan di kamar hotel yang dingin dan gelap. Saya menghangatkan diri dengan selimut tebal dan tumpukan pakaian yang saya bawa dari Indonesia.
Di hari kedua, saya memutuskan untuk ke kantor KJRI Houston. Saya pikir, kondisi di kantor pasti lebih baik, setidaknya saya bisa memasak mi instan dan menghangatkan diri di dapur. Tapi ternyata, KJRI juga lumpuh. Listrik mati, air tidak ada, dan seluruh aktivitas terhenti. Saya hanya sempat memasak sedikit makanan seadanya sebelum akhirnya kembali ke hotel.
Kota Houston seolah berhenti bergerak. Jalanan sepi, toko-toko tutup, dan di beberapa tempat bahkan terjadi penjarahan karena kelangkaan bahan makanan. Pemerintah setempat mengimbau warga untuk tidak keluar rumah. Di berbagai wilayah Texas, badai ini bahkan menelan korban jiwa karena hipotermia dan gangguan pasokan listrik serta air bersih.
Sebagai orang Indonesia yang baru dua minggu tiba di Texas, pengalaman itu terasa luar biasa; dingin, menegangkan, tapi juga penuh pelajaran. Saya belajar bahwa kemajuan sebuah negara tidak selalu berarti semuanya siap menghadapi alam. Dan di balik badai yang membekukan itu, saya menemukan makna baru dari kata βbertahan.β
Badai salju itu mungkin dingin, tapi justru darinya saya belajar hangatnya rasa syukur dan ketangguhan.

