Konten dari Pengguna

Etika dalam Ekosistem Ojek Online

Pitut Saputra
Freelance Adventure. Seniman. Penulis. Jurnalis Online Media.
5 Agustus 2025 9:03 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Etika dalam Ekosistem Ojek Online
Etika dalam dunia ojek online menuntut saling menghargai dan kesadaran bahwa setiap transaksi memuat nilai kemanusiaan.
Pitut Saputra
Tulisan dari Pitut Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sekelompok ojek online sedang ngetem di Pangkalan (dok foto @pitutsaputra)
zoom-in-whitePerbesar
Sekelompok ojek online sedang ngetem di Pangkalan (dok foto @pitutsaputra)
KLATEN-kumparan.com
Melayani melalui aplikasi ojek online bukan sekadar mengantar penumpang atau pesanan makanan. Di balik layar, setiap transaksi memuat jejak karakter dan kebiasaan pelanggan. Dari pola order hingga respons terhadap chat, driver, tanpa sadar menafsirkan pelanggan layaknya buku terbuka. Artikel ini mengajak kita memahami bagaimana perilaku online mencerminkan watak, serta bagaimana sikap saling menghargai membentuk ekosistem layanan yang adil dan manusiawi.
Setiap pelanggan memiliki kebiasaan unik dalam memesan dan berkomunikasi. Ada yang konsisten menggunakan promo hingga tarif super hemat, namun ada juga yang selalu memberi tips, serta ada pula yang sering salah membuat titik antar tanpa konfirmasi, hal tersebut berpotensi memicu kebingungan, terlebih bila chat Driver tidak dibalas dan telepon Driver tidak diangkat. Maka dari berbagai kejadian, Driver belajar mengenali karakter dan kepribadian pelanggan, baik kecakapan dalam menentukan lokasi, fleksibilitas waktu, dan gaya bahasa. Ketika status pelanggan berubah dari satu kali order menjadi langganan, karakternya semakin terbaca jelas dari pola transaksi dan komunikasi yang dibuat. Inilah refleksi digital, transaksi berulang di samping menampakkan pola dan karakter serta kepribadian, juga menyangkut masalah toleransi, kejelasan informasi, dan tingkat emosional dalam interaksi.
Driver juga manusia yang perlu dimanusiakan (dik foto @pitutsaputra)
Miss komunikasi jadi sarapan rutinitas sehari-hari bagi driver dan pelanggan. Salah titik antar akibat GPS atau ketidaktahuan pelanggan seringkali memicu konflik kecil. Driver kadang salah mengambil pesanan, atau produk pembeliannya tidak sesuai harapan. Pelanggan bisa marah tanpa menanyakan detail, lalu memberikan penilaian satu bintang. Di sisi lain, driver yang emosional mungkin menunda konfirmasi atau membatalkan order customer sebelum perjalanan dimulai. Situasi seperti ini menguji kesabaran kedua pihak dan membuka pintu evaluasi karakter, apakah kita bersedia menjelaskan atau langsung menuduh dan menjustifikasi ?
Perilaku pelanggan memiliki konsekuensi nyata terhadap kualitas layanan yang mereka terima. Pelanggan komunikatif dan sabar cenderung dilayani lebih cepat, karena driver merasa dihargai. Sebaliknya, sikap arogan dan acuh terhadap penjelasan memicu sikap semena-mena, driver pun malas mengkonfirmasi, lebih sering membatalkan, atau mengurangi inisiatif membantu. Keputusan driver tersebut bukan sekadar kebetulan, melainkan cerminan hukum timbal balik, hukum tabur tuai berlaku, apa yang Anda tanam, itulah yang Anda tuai dalam setiap rating, respon chat, dan kecepatan layanan.
Hukum Tabur Tuai akan berimbas langsung dalam dunia ekosistem online (dok foto @pitutsaputra)
Prinsip dasar kode etik layanan online menekankan pentingnya komunikasi yang jelas dan saling menghormati antara pelanggan dan pengemudi, dimulai dengan penetapan titik jemput dan koordinasi dua arah untuk mencegah miskomunikasi. Waktu driver perlu dihargai dengan pemberitahuan tepat jika terjadi perubahan, sementara penggunaan bahasa santun seperti ucapan terima kasih dan permintaan maaf membangun suasana yang nyaman selama layanan berlangsung. Memberikan tip secara sukarela sebagai bentuk apresiasi atas pelayanan yang baik menunjukkan penghargaan terhadap profesionalisme pengemudi. Dalam memberikan penilaian, pelanggan diimbau bersikap adil dan berdasarkan fakta, menghindari komentar emosional yang bisa merusak kredibilitas sistem. Jika terjadi kendala, kedua pihak dianjurkan berdialog terbuka untuk menemukan solusi bersama yang menguntungkan. Kode etik ini juga mengingatkan bahwa pelanggan bukanlah penguasa mutlak, melainkan mitra dalam interaksi layanan yang idealnya didasari atas kesetaraan, empati, dan rasa tanggung jawab bersama. Memanusiakan manusia adalah mutlak sifat yang diperlukan agar keduanya sama-sama menemukan titik temu dalam berbagai persoalan terkait order online.
Hukum alam tabur tuai berlaku pula di ekosistem digital. Pelanggan yang kerap menunda balasan chat, meremehkan kesulitan driver, dan memberi ulasan buruk tanpa bukti nyata, akan menghadapi pembatalan berulang. Driver akan mengutamakan order lain yang lebih komunikatif, meninggalkan pelanggan berulang dengan sinyal β€œtidak ada driver tersedia.” Inilah konsekuensi logis, ketidakhadiran sikap bijak yang memunculkan jarak, sedangkan kerjasama dan rasa saling menghormati memupuk kepercayaan jangka panjang.
Komdisi lapangan antrean panjang juga harus menjadi catatan kebijakan customer dalam menunggu order (dok doto @pitutsaputra)
Bukan semata mata order online, untuk membangun hubungan yang harmonis, pelanggan dapat menerapkan beberapa langkah sederhana. Pertama, kirim petunjuk lokasi secara tepat dengan deskripsi landmark. Kedua, respons cepat terhadap chat, sekadar memberi estimasi waktu atau alasan perubahan. Ketiga, pahami batas kemampuan signal GPS dan siapkan panduan alternatif jika diperlukan. Keempat, kenali karakter layanan driver melalui rating dan ulasan sebelumnya. Dengan strategi ini, interaksi menjadi lebih transparan, meminimalkan konflik, dan meningkatkan kepuasan kedua belah pihak.
Etika dalam dunia ojek online menuntut saling menghargai dan kesadaran bahwa setiap transaksi memuat nilai kemanusiaan. Pelanggan yang bijak bukan hanya membayar tarif, tetapi memberi ruang dialog dan penghormatan. Driver yang profesional menanggapi dengan keramahan dan inisiatif. Ketika kedua pihak menjaga etika, sistem rating pun berfungsi adil, layanan lancar, dan kepercayaan terbangun berkelanjutan. Bukan semata algoritma sistem yang buta. Mari tanamkan prinsip kemitraan, karena layanan yang manusiawi adalah kunci terciptanya ekosistem transportasi online yang seimbang.
Bila kesabaran telah habis, maka bisa berpotensi penyelesaian konflik akan berdampak meluas (dok doto @pitutsaputra)
Setingkali Misskomunikasi berkepanjangan dan arogansi antar pihak, kerapkali memicu persoalan yang lebih meluas dan berujung pada aksi solidaritas driver dengan menggeruduk kediaman customer yang dirasa sangat keterlaluan. Tentunya ini adalah tindak yang kurang etis, namun bila batas kesabaran telah habis manusia juga memiliki sisi lemah untuk melawan ketika merasa harga dirinya diinjak. Inilah yang semestunya menjadi pelajaran dan pengalaman berharga bagi semua pihak ekosistem online yang ada. Mari jaga kondusifitas bersama, dengan memahami etika dalam ekosistem ojek online.
( Pitut Saputra )
Trending Now