Konten dari Pengguna

Membaca dan Memaknai Semiotika dalam Tradisi Galungan

Pitut Saputra
Freelance Adventure. Seniman. Penulis. Jurnalis Online Media.
22 November 2025 19:00 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Membaca dan Memaknai Semiotika dalam Tradisi Galungan
Galungan, ketika dibaca sebagai sistem tanda, membuka kemungkinan pedagogi budaya yang memelihara etika sosial dan kelestarian ekologis.
Pitut Saputra
Tulisan dari Pitut Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Galungan dan Kuningan Hari Raya Umat Hindu Nusantara (dok foto @pitutsaputra)
zoom-in-whitePerbesar
Galungan dan Kuningan Hari Raya Umat Hindu Nusantara (dok foto @pitutsaputra)
Galungan bukan sekadar perayaan visual, ia adalah teks budaya yang dibaca ulang oleh keluarga, lingkungan, dan pura pada ritme 210 hari. Di balik penjor yang menjulang, banten yang rapi, dan suara mantra, tersimpan sintaks moral dan ekologis yang menuntun tindakan bersama, memori kolektif, serta hubungan manusia dengan leluhur dan alam. Membaca Galungan secara semiotik menuntut kita memperlambat pandangan agar setiap tanda, visual, gustatori, auditorial, kinestetik, dan ekologis, tersingkap maknanya dan menjadi bahan pendidikan etis.

Penjor Janur dan Kaligrafi Material

Warga bergotong royong membuat penjor janur menjelang Hari Raya Galungan (dok foto @pitutsaputra)
Penjor, janur, dan susunan banten adalah kaligrafi material yang memperkenalkan wacana Galungan ke ruang publik. Penjor bukan sekadar hiasan, ia adalah tanda kemenangan, syukur, dan hubungan manusia dengan alam. Susunan banten di merajan dan pura berfungsi sebagai klausa visual, warna, bentuk, posisi beras, buah, kue, dan lauk membentuk sintaks yang dibaca oleh keluarga dan tetangga. Visual ini memberi informasi tentang kesiapan spiritual rumah, status moral komunitas, dan tata sosial yang dijaga bersama. Jika kita mengabaikan struktur itu sebagai estetika semata, maka kita kehilangan instruksi etis yang disampaikan melalui susunan bahan dan posisi mereka.

Rasa Sebagai Metafora Etika

Sesaji dengan aneka visual dan rasa yang simbolik (dok foto @pitutsaputra)
Sesaji yang disajikan mengandung dimensi gustatori yang kaya makna. Manisan, kue, dan lauk bukan hanya untuk disantap, mereka berbicara tentang harapan hidup yang diwarnai manis, gurih, dan pahit-manis perjuangan. Distribusi makanan kepada tetangga menerjemahkan simbol menjadi tindakan sosial, praktik memberi yang mengokohkan konsep saling berkat dan tanggung jawab. Rasa menjadi indikator etika, bagaimana bahan dipilih, diolah, dan dibagikan mencerminkan komitmen komunitas terhadap keadilan pangan, rasa syukur, dan solidaritas praktis.

Nada Ritual Sebagai Penanda Transisi

Galungan juga menjadi momentum buat saling berbagi berkah dan mempererat persaudaraan (dok foto @pitutsaputra)
Suara mantra, gong, gamelan, dan suling membentuk lapisan auditorial yang mengatur ritme emosional perayaan. Bunyi-bunyian ini menandai transisi ritual, pemanggilan leluhur, permohonan, penutupan, dan menegaskan kehadiran spiritual. Dalam perspektif semiotik, bunyi adalah indeks yang menunjukkan intensitas ikatan antar-waktu dan antar-ruang, ketika suara menggaung, komunitas diarahkan pada kondisi khusyuk yang memungkinkan pesan simbolik dibaca dengan penuh perhatian. Nada-nada ini juga membentuk memori kolektif yang terekam bukan hanya sebagai lirik tetapi sebagai suasana batin yang diwariskan.

Gerak Kolektif dan Tubuh sebagai Pembaca Tulisan Ritual

Aneka banten dalam owrayaan Galungan di pura desa (dok foto @pitutsaputra)
Gerak dalam Galungan, memasang penjor, menata banten, prosesi sembah, menghidupkan teks ritual. Tubuh-tubuh yang bergerak adalah pembaca sekaligus penulis makna, langkah, postur, dan arah pandang menegaskan hierarki sosial, peran ritual, dan niat moral. Koreografi sosial ini mendidik generasi dalam praktik keteraturan, rasa hormat, dan solidaritas. Ketika ritual dijalankan bersama, gerak kolektif mengokohkan ikatan komunitas sehingga simbol tidak menjadi statis tetapi menjadi tindakan yang membentuk kebiasaan etis sehari-hari.

Asap Dupa dan Orkestra Alam

Galungan dan Kuningan adalah momentum reflektif dan evaluasi, serta penegasan kembali hubungan antara manusia, leluhur, alam semesta, dan pencipta (dok foto @pitutsaputra)
Asap dupa adalah indeks yang menghubungkan yang kasatmata dengan yang tak kasat. Ia menandai berlangsungnya ritual dan menjadi medium komunikasi antara umat dan leluhur, sebuah tata bahasa yang mengangkat niat kolektif menuju kosmos. Aroma dupa sekaligus menstabilkan emosi dan memberi jeda reflektif di antara kerumunan visual dan bunyi. Selain itu, Galungan juga terjalin erat dengan siklus ekologis, hasil bumi dalam banten, angin yang mengibarkan janur, kicau burung, dan gemerisik daun membentuk orkestra alam yang memperkaya makna simbolik. Ritual menjadi dialog berkelanjutan antara manusia dan unsur alam yang menopang kehidupan.

Siklus 210 Hari sebagai Metarangka Waktu

Sesaji adalah manifestasi dari doa dan harapan dalam bentuk visual, tanda dan simbol (dok doto @pitutsaputra)
Pengulangan setiap 210 hari, siklus itu bukan kebetulan melainkan konvensi temporal yang menjaga resonansi tanda-tanda ritual. Pengulangan berkala memberi frekuensi yang cukup bagi simbol untuk di internalisasi sehingga pesan moral dan ekologis tetap hidup dalam memori kolektif. Interval yang relatif singkat memberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan sosial dan praktik lingkungan melalui tindakan bersama, refleksi, dan pembaharuan komitmen spiritual. Ritme ini adalah metarangka yang memberi konteks kronologis bagi seluruh sistem tanda Galungan.

Pendidikan Partisipatif dan Pewarisan Makna

Pendidikan idealnya partisipatif dan edukatif agar generasi muda tidak kehilangan akar tradisinya (dok foto @pitutsaputra)
Mengajarkan semiotika Galungan berarti mengajak generasi muda membaca dan mempraktikkan alasan di balik tiap tindakan, mengapa janur dilipat demikian, bagaimana rasa sesaji merefleksikan etika memberi, bagaimana gerak sembah menandai hierarki moral. Pendidikan idealnya partisipatif, membuat banten bersama, menata dupa, mendengarkan penjelasan tokoh adat, agar tanda-tanda tidak tersisa sebagai estetika kosong tetapi menjadi peta moral dan ekologis yang hidup. Dengan cara ini, setiap generasi membaca naskah yang sama dengan kacamata baru namun tetap membawa hakikat, tanggung jawab, syukur, dan hubungan tak terputus antara manusia, leluhur, dan alam.
Galungan, ketika dibaca sebagai sistem tanda, membuka kemungkinan pedagogi budaya yang memelihara etika sosial dan kelestarian ekologis. Memahami semiotika ritual membantu kita merawat makna di balik simbol, menjadikan tradisi sebagai sumber pembelajaran yang hidup, relevan, dan transformatif bagi komunitas yang terus berubah.
Trending Now