Konten dari Pengguna

Menelaah Kendala dan Solusi Praktis Mengembalikan Daya Tarik SD Negeri

Pitut Saputra
Freelance Adventure. Seniman. Penulis. Jurnalis Online Media.
29 Juni 2025 10:27 WIB
Β·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Menelaah Kendala dan Solusi Praktis Mengembalikan Daya Tarik SD Negeri
Sinergi dan kolaborasi dengan berbagi sektor, berikut berbagai upaya kreatif. Adalah merupakan, kunci guna mengembalikan pamor sekolah negeri agar lebih menarik dan diminati.
Pitut Saputra
Tulisan dari Pitut Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kolaborasi sekolah dengan sektor swasta dalam upaya penanganan bullying (dok foto @pitutsaputra)
zoom-in-whitePerbesar
Kolaborasi sekolah dengan sektor swasta dalam upaya penanganan bullying (dok foto @pitutsaputra)
Minat pendaftaran Sekolah Dasar (SD) Negeri kian mengkhawatirkan secara serius dan nyata. Meski banyak pihak menilai penyebabnya adalah faktor demografi, angka kelahiran menurun serta urbanisasi meningkat, sebenarnya persoalan tersebut jauh lebih kompleks.
Persepsi, budaya, dan regulasi kaku turut menggerus daya tarik sekolah negeri. Tanpa pemetaan hambatan, potensi generasi muda di SD Negeri terancam terabaikan, sementara dilain sisi sekolah swasta kebanjiran murid. Data BPS menunjukkan pendaftar SD Negeri terus menurun, hal ini menunjukan perlunya langkah mitigasi dan prioritas cepat untuk segera diambil.
Banyak SD Negeri mencoba berbagai cara secara konvensional, promosi media sosial, jemput bola door to door, dari rumah ke rumah, pemberian benefit seragam gratis, dan tawaran ekstrakurikuler menarik. Meskipun brosur dan akun sekolah diisi rutin, hasilnya belum juga signifikan. Beberapa sekolah masih sepi pendaftar dan terancam tidak bisa membuka kelas baru.
SD Negeri menghadapi tantangan operasional nyata, keberadaan kurikulum yang sering berubah memicu kebingungan guru dan orang tua, sementara fasilitas masih minim, kelas sempit, alat peraga terbatas, serta kompetensi guru tidak merata, juga menimbulkan pembelajaran kurang variatif. Sementara prosedur birokrasi panjang membuat upaya penambahan sarana atau metode baru sulit terwujud. Minim ruang inovasi juga memicu metode stagnan dan kaku.
Orang tua milenial memandang sekolah sebagai β€œinstansi” yang harus sangat kompeten, dengan kebutuhan abad ke-21, kreativitas, akses teknologi, dan peluang bereksperimen. Fasilitas lengkap dan proses belajar inovatif lebih diminati ketimbang label gratis di SD Negeri. Ketika swasta menawarkan full day program dan kelas coding, banyak orang tua rela membayar lebih demi memastikan anak tidak ketinggalan. Metode ceramah dianggap kurang melatih soft skills.
Stigma β€œSD Negeri identik dengan belajar monoton dan kaku” kian kuat. Minim ruang bermain edukatif, laboratorium sains sederhana, atau pojok literasi memperkuat persepsi ini. Tawaran tanpa biaya bukan faktor utama, orang tua milenial justru tidak mau risiko memilih sekolah biasa saja. Mereka menginginkan sekolah dengan brand kuat dan track record pengembangan potensi anak yang mumpuni.
Meskipun masih ada juga orang tua yang memilih SD Negeri karena ekonomi dan lokasi dekat, tapi kini mayoritas memilih swasta. Tren biaya sekolah swasta tinggi dan transportasi yang kian menjauh, namun jaminan fasilitas dan model pembelajaran full day membuat mereka tetap tertarik. Sementara SD Negeri berjuang mempertahankan kuota pendaftar yang terus menurun.
Dalam manajemen SD Negeri, efisiensi anggaran amat membatasi ruang inovasi. Pengadaan peralatan baru memerlukan banyak persetujuan, sedangkan tenaga honorer yang memprakarsai terobosan kurang didukung. Guru dan kepala sekolah pun sulit mendahulukan kreativitas karena kewajiban menyelenggarakan ujian, lomba, dan kegiatan lain sesuai aturan. Kurikulum menuntut guru beradaptasi cepat tanpa pelatihan yang memadai.
Sosialsisasi Anti Bullying disekolah-sekolah dasar (dok foto @pitutsaputra)
Hal tersebut tentunya memicu keprihatinan bukan saja di ranah ekosistem pendidikan namun juga di setiap elemen masyarakat yang merindukan terciptanya generasi emas di masa mendatang. Berbagai upaya dan diskusi publik pun sempat mengemuka sebagai upaya mencari jalan keluar terbaik. Aneka rupa terobosan memang harus dicoba untuk bisa mengembalikan pamor sekolah dasar negeri yang kian menurun.
Beberapa pihak juga menawarkan sebuah solusi sederhana yang mungkin bisa diterapkan, misalnya merubah sekolah menjadi community hub, atau membuka ruang baca setiap akhir pekan sebagai kafe literasi, sekaligus mengundang murid dan orang tua berdiskusi sambil bersosialisasi. Ruang serbaguna di luar jam mengajar dapat dipakai co working space gratis bagi wirausaha mikro lokal contohnya. Maka masyarakat akan memandang sekolah lebih dari lembaga formal.
Di ranah branding, SD Negeri perlu memanfaatkan digital dan mengajak kerjasama alumni. Bentuk tim promosi internal dari guru muda dan siswa untuk mengelola media sosial, memproduksi video testimoni alumni sukses, dan aktif memamerkan karya siswa melalui vlog atau blog secara terbuka. Cerita nyata tentang murid yang menang lomba sains atau membuat inovasi sederhana bisa menarik calon pendaftar.
Inovasi pedagogis seperti project-based learning dan deep learning dapat lebih menyegarkan suasana SD Negeri. Guru juga bisa merancang proyek kolaboratif sesuai konteks lokal, misalnya merancang taman mini atau kampanye kebersihan, yang dipresentasikan secara digital. Integrasi teknologi, aplikasi belajar adaptif, atau flipped classroom sederhana membuat proses belajar lebih dinamis dan sangat relevan.
Kolaborasi dengan sektor swasta dan alumni luas, membuka peluang program siswa inklusif, atau model pendanaan dan beasiswa mikro. Jalin kemitraan dengan UMKM desa, perajin batik, petani padi, kopi atau usaha kuliner, sebagai sponsor kegiatan ekstrakurikuler. Siswa bisa magang ringan, belajar teknik produksi dan soft skills. Alumni profesional dapat menjadi mentor, menghadirkan workshop singkat dan motivasi dengan lebih mudah. Hal tersebut adalah beberapa gambaran upaya kreatif.
Namun bagaimanapun kunci utamanya adalah sinergi dan evaluasi berkelanjutan. Pemda, Dinas Pendidikan, komite sekolah, guru, orang tua, dan tokoh masyarakat perlu menyusun rencana kerja, target promosi, pengembangan fasilitas, pelatihan guru, dan evaluasi triwulanan. Dengan pendekatan inklusif dan transparan, setiap kemajuan, jumlah pengunjung literasi, pendaftar baru, dan capaian proyek siswa, akan menjadi bukti perubahan. SD Negeri dapat kembali menjadi pilihan utama dan fondasi masa depan anak yang lebih berprestasi dan mumpuni.
kerjasama dengan alumni dibutuhkan guna mendukung pendidikan dan pemgembangan generasi emas mendatang (@pitutsaputra)
Tentunya hal tersebut bukan solusi utama namun setidaknya bisa dicoba sembari terus melakukan upaya untuk menganalisis dan terus melakukan pengembangan guna mendongkrak kembali pamor sekolah dasar negeri untuk kembali bersinar.
( Pitut Saputra )
Trending Now