Konten dari Pengguna

Mengenal Tradisi Jamasan Pusaka Dalam Budaya Jawa

Pitut Saputra
Freelance Adventure. Seniman. Penulis. Jurnalis Online Media.
26 Juni 2025 16:09 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Mengenal Tradisi Jamasan Pusaka Dalam Budaya Jawa
Jamasan pusaka mengajarkan nilai gotong royong dan penghormatan. Prosesnya mengundang partisipasi berbagai pihak, sebagai wujud kolaborasi antar generasi.
Pitut Saputra
Tulisan dari Pitut Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tidak semua benda tajam disebut Pusaka ada beberapa kriteria tertentu yang musti dipahami (dok foto @pitutsaputra)
zoom-in-whitePerbesar
Tidak semua benda tajam disebut Pusaka ada beberapa kriteria tertentu yang musti dipahami (dok foto @pitutsaputra)
Bulan Satu Suro dalam kalender Jawa selalu dibayangi aura sakral. Bagi masyarakat yang masih menaruh hormat pada jalinan sejarah leluhur, malam pertama di bulan Suro menjadi waktu paling mujarab untuk melakukan jamasan pusaka. Ritual pemandian dan penyucian pusaka ini bukan semata prosesi adat yang dikagumi, melainkan juga wujud penghormatan terhadap nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Meski keraton Surakarta dan Yogyakarta menyelenggarakannya dengan skala besar, tradisi serupa juga hidup dalam keberagaman komunitas di berbagai pelosok Nusantara. Dari pantai selatan hingga lereng gunung Lawu. Nama ritualnya bisa berbeda, namun tujuan dasarnya senantiasa sama, menyelaraskan energi dan menjaga warisan budaya.
Pada intinya, jamasan pusaka adalah rangkaian upacara yang memadukan unsur fisik dan spiritual. Air suci yang diolah bersama jeruk nipis, kembang tujuh rupa, atau bunga kenanga dipakai untuk membasuh bilah keris, tombak, atau benda pusaka lain. Setelah dibilas, setiap bilah dilap dengan kain bersih sebelum diolesi minyak wewangian untuk menambah kesan khidmat. Di saat yang sama, pengantar ritual, biasanya pujangga atau sesepuh, membacakan doa dan mantra agar irisan besi itu kembali memiliki pamor positif, mampu menolak bala, dan menyebarkan berkah. Proses ini mencerminkan keyakinan bahwa pusaka bukan sekadar logam mati, melainkan penjaga nilai luhur, tutur tata keraton, dan simbol ikatan batin antara pemilik dengan leluhur.
Keraton Surakarta dan Yogyakarta rutin menggelar jamasan pusaka secara terpusat pada malam 1 Suro. Puluhan patok, tombak, dan keris berjajar di pendopo, menunggu giliran diterpa siraman air suci. Sementara itu, di pesisir Parangtritis, nelayan juga biasanya membawa pusaka untuk disucikan beserta sedekah lautnya untuk dilarung sebagai permohonan keselamatan. Di lereng Lawu, pendiri dan peziarah memandikan jogoboyo dan tombak kuno untuk mensyukuri berkah tanah leluhur. Walau tata cara dan jenis sesaji berbeda, benang merahnya adalah kesungguhan niat dan ritual bersih-bersih yang menghidupkan narasi kolektif sejak ratusan tahun lalu.
Pertanyaan krusial yang seringkali muncul, apakah setiap pusaka wajib dimandikan tepat pada malam Satu Suro? Secara adat sebenarnya tidak ada paksaan universal. Bagi abdi dalem keraton, tanggal 1 Suro dianggap puncak getaran spiritual sehingga paling sesuai untuk ritual resmi. Namun keluarga pewaris di luar keraton sering memilih waktu yang dianggap baik menurut hitungan lokal atau momentum tertentu, seperti ulang tahun leluhur atau peristiwa bersejarah. Bahkan sebagian pewaris hanya melaksanakan pembersihan sederhana setiap tahun tanpa harus terikat pada satu malam khusus. Dengan kata lain, ritual jamasan bersifat fleksibel, mengikuti kebutuhan spiritual dan ketersediaan pewaris masing-masing.
Di era modern, urgensi jamasan pusaka masih sangat relevan. Pertama, tradisi ini membantu memelihara identitas budaya yang kian tergerus homogenisasi global. Pemandian pusaka bukan hanya tindakan fisik, melainkan manifestasi cerita, filosofi, dan etika yang mengikat komunitas dalam satu kesadaran. Kedua, prosesi ritual menuntut khusyuk dan keterlibatan indera, sehingga memberi ruang bagi pelaku untuk melakukan refleksi diri. Di tengah derasnya arus digital, jamasan menjadi oase mindfulness, tempat berhenti sejenak dan meresapi napas leluhur. Ketiga, dari sisi konservasi material, logam pusaka yang terawat melalui perawatan berkala akan terhindar dari korosi sehingga nilai sejarahnya tetap terjaga. Terakhir, pagelaran jamasan dan kirab mampu menarik minat wisatawan budaya, mendorong ekonomi lokal tanpa mengesampingkan esensi spiritualitas.
Untuk menyeimbangkan kebutuhan tradisi dengan tantangan zaman, beberapa komunitas mulai memadukan ritual jamasan dengan teknologi. Dokumentasi digital melalui foto resolusi tinggi dan video 360 derajat kini menjadi arsip permanen yang dapat diakses oleh generasi muda. Workshop virtual membahas teknik pembersihan, sejarah pusaka, hingga etika pewarisan tanpa batas geografis. Bahkan tur budaya berkelanjutan menawarkan paket menghadiri jamasan keraton, menginap di desa adat, serta berpartisipasi dalam lokakarya konservasi pusaka dengan narasumber sesepuh setempat sebagai bagian dari upaya pelestarian tradisi dan edukasi.
Tidak semua benda tua dapat disebut pusaka dan layak dimandikan. Secara umum, tiga kriteria utama menentukan status pusaka. Pertama, asal usulnya, artefak harus memiliki jejak keturunan dan pernah menjadi bagian penting dalam sejarah keluarga atau komunitas. Kedua, bahan pusaka biasanya terbuat dari logam seperti besi pamor, baja berkualitas, emas, atau perak, karena kandungan pamornya dianggap menyimpan energi metafisik. Ketiga, fungsi sosial-spiritual, pusaka wajib pernah digunakan dalam upacara resmi, baik kerajaan maupun masyarakat adat, dan dipercayai berperan sebagai pelindung atau penolak malapetaka. Benda tanpa cerita kuat atau cenderung komersial tak termasuk kategori ini.
Di atas semua itu, jamasan pusaka mengajarkan nilai gotong royong dan penghormatan. Prosesnya mengundang partisipasi berbagai pihak, sesepuh, pujangga, pengrajin, hingga pemuda pewaris, sebagai wujud kolaborasi antar generasi. Sebuah bilah keris yang telah melalui ritual pemandian tidak sekadar bercahaya secara fisik, tetapi juga memancarkan kebersamaan dan semangat melestarikan warisan budaya. Dalam pusaran zaman yang serba cepat, jamasan pusaka menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan, sekaligus mengingatkan bahwa akar budaya adalah tiang penyangga identitas yang tak ternilai harganya.
( Pitut Saputra )
Trending Now