Konten dari Pengguna

Momentum Renungan di Bulan Suro

Pitut Saputra
Freelance Adventure. Seniman. Penulis. Jurnalis Online Media.
26 Juni 2025 17:01 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Momentum Renungan di Bulan Suro
Bulan Suro di Jawa selalu menyimpan aura yang berbeda, bukan sekadar pergantian kalender Hijriyah, melainkan momen sunyi penuh arti.
Pitut Saputra
Tulisan dari Pitut Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gladi Kirab Kerbau Bule Mahesa Kyai Slamet (dok foto @pitutsaputra)
zoom-in-whitePerbesar
Gladi Kirab Kerbau Bule Mahesa Kyai Slamet (dok foto @pitutsaputra)
Bulan Suro di Jawa selalu menyimpan aura yang berbeda, bukan sekadar pergantian kalender Hijriyah, melainkan momen sunyi penuh arti. Sejak zaman nenek moyang, masyarakat meyakini bahwa Suro adalah bulan sakral di mana lapisan dunia gaib dan nyata berdampingan lebih rapat. Heningnya pagi pertama Muharram menyiratkan pintu baru untuk introspeksi, sekaligus peringatan agar kita melangkah lebih hati-hati.
Tradisi pantangan yang berkembang, meski tak tertulis bak undang-undang, bukan semata takhayul, melainkan warisan kearifan lokal agar hidup tetap seimbang, aman, dan sarat hikmah.
Di antara pantangan paling populer, larangan bepergian jauh pada malam satu Suro paling sering terdengar. Cerita para sesepuh menyebut bahwa jiwa-jiwa leluhur sedang dalam perjalanan mistis, mencari ketenangan sebelum memasuki fase baru. Perjalanan manusia yang bersamaan waktunya akan “bersenggolan” dengan arwah pelancong itu, sehingga diyakini bisa memancing gangguan halus. Maka, banyak keluarga menunda mudik atau kunjungan jauh hingga pekan kedua atau ketiga Muharram, memilih menunggu “energi” Suro mereda baru melanjutkan rencana.
Pernikahan dan hajatan besar pun kerap diundur jauh dari bulan Suro. Resepsi yang penuh tawa dan riuh dianggap bertentangan dengan nuansa magis bulan ini, di mana langit seolah mengajarkan kesederhanaan dan kerendahan hati. Menurut kepercayaan yang berkembang di Jawa, bila memaksakan pesta, dikhawatirkan kebahagiaan kita tak langgeng, pertengkaran atau kesulitan finansial menanti di kemudian hari. Oleh karenanya, masyarakat Jawa sering menggeser tanggal akad dan resepsi ke bulan Safar atau Rabiul Awal, memelihara rasa hormat pada tradisi sekaligus menjaga ruang batin tetap tenteram.
Selain itu, memotong rambut atau kuku pada bulan Sura juga sering dihindari. Keyakinan mengatakan bahwa setiap helai rambut dan potongan kuku adalah bagian dari diri yang membawa aura keberuntungan. Melepasnya terlalu dini di bulan sakral berarti “melepaskan” pula kesempatan yang seharusnya bisa disimpan sebagai tabungan rezeki. Begitu pula larangan menggali tanah, baik untuk sumur, pondasi rumah, atau bahkan sekadar berkebun, dimaknai sebagai menghormati istirahat makhluk halus. Tanah Suro dianggap tertutup untuk proyek besar dan lebih pantas dibiarkan tenang.
Dunia perdagangan tak luput dari pantangan. Banyak pedagang grosir dan petani menunda panen besar-besaran atau transaksi spekulatif selama Sura. Namun bagaimanapun ini adalah sebuah kepercayaan dan kearifan lokal, karena Kuasa Ilahi diatas segalanya Namun di balik keyakinan mistis tersebut, sesungguhnya tersimpan juga gagasan manajemen risiko sederhana, seperti misalnya jangan mengambil resiko tinggi saat “rantai keberuntungan” sedang rapuh. Modal bisnis yang dipakai seminimal mungkin, transaksi dijalankan dengan etika, dan tabungan diprioritaskan untuk kebutuhan darurat, semua ini menumbuhkan prinsip kehati-hatian finansial yang sampai sekarang justru relevan dalam perencanaan ekonomi kontemporer.
Sejumlah pantangan lokal lain juga mencuri perhatian. Di beberapa desa, tidur di bawah pohon beringin pada malam Suro dianggap membuka celah bagi makhluk halus merasuki mimpi. Memotong ayam cemani untuk sesajen pun dihindari, karena bulunya yang hitam legam dipercaya memantulkan energi negatif. Bahkan memulai menanam padi atau menebas lahan sawah juga ditangguhkan, menjaga kesucian tanah agar daya magis panen pertama tak tergerus oleh keserakahan manusia. Namun sekali lagi ini hanya sebatas kepercayaan lokal bagi yang mempercayai.
Jika ditelaah jauh ke dalam, rangkaian pantangan ini sejatinya memuat ajakan untuk berdialog dengan alam dan jiwa sendiri. Larangan bepergian menyelipkan pelajaran pentingnya jeda sebelum bergerak, memberi ruang pada perasaan dan pikiran untuk teratur. Menunda hajatan mengajarkan arti keseimbangan emosi dan tanggung jawab sosial. Menahan diri dalam urusan materi dan konstruksi menghadirkan konsep mindfulness, kesadaran penuh pada setiap langkah. Inti pesan leluhur adalah, setiap tindakan sebaiknya dilatarbelakangi niat baik, perhitungan matang, dan sikap hormat pada kebesaran semesta. Jadi dalam menyikapi berbagai pantangan yang ada sebaiknya tidak gegabah dan tetap berhati hati serta bijak dalam mengambil keputusan.
Memaknai Sura secara modern tak harus terkungkung pada ritual baku. Kita bisa memaknainya sebagai kesempatan refleksi mendalam, membuka jurnal harian, menyisihkan waktu untuk meditasi atau dzikir, serta menata ulang prioritas hidup. Mempraktikkan sedekah dan solidaritas sosial selama Muharram adalah wujud konkret kepedulian, menggantikan kemewahan pesta dengan berbagi kebaikan. Mengasah diri lewat kajian ilmu, baik agama maupun keterampilan baru, menghidupkan semangat pembaruan yang sejati. Secara praktis, meninjau ulang rencana keuangan dan proyek rumah tangga di Sura adalah cara cerdas meminimalkan risiko dan memaksimalkan potensi.
Bulan Suro bukanlah penjara pantangan, melainkan taman perenungan yang menuntun kita keluar dari pusaran ego dan keserakahan. Saat kita berhenti sejenak, merendahkan diri, dan menghormati setiap unsur kehidupan manusia, alam, dan alam gaib, Bulan Suro bakal membuka pintu peluang baru, peluang untuk tumbuh lebih bijak, menguatkan ikatan sosial, dan menumbuhkan kedamaian batin. Dari kebisuan pantangan itu, mengalirlah aliran kesadaran yang menyejukkan jiwa.
Selain warisan pantangan, tradisi lokal seperti Kirab Kerbau Bule di Solo, Saparan di Banyuwangi, atau pembacaan maqamat Muharram menawarkan ragam cara merayakan Suro. Setiap ritual memancarkan karakter budaya setempat, memantulkan keindahan harmoni manusia dengan alam. Bilamana kita tertarik bisa juga menggali sejarah lebih jauh, menelusuri sejarah Kirab, mendokumentasikan kisah leluhur di balik Saparan, atau membedah lafadz Dzikir khusus Muharram. Dengan begitu, Sura akan terasa semakin utuh, bukan sekadar pantangan, melainkan titik tolak perjalanan batin yang kaya akan makna.
( Pitut Saputra )
Trending Now