Konten dari Pengguna

Prioritas Cerdas Menyikapi Nataru

Pitut Saputra
Freelance Adventure. Seniman. Penulis. Jurnalis Online Media.
6 Desember 2025 13:07 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Prioritas Cerdas Menyikapi Nataru
Menjelang Nataru, rencana belanja cerdas, pengelolaan anggaran disiplin, dan pemanfaatan program pasar murah menjadi kunci agar keuangan keluarga tidak bocor saat harga bahan pokok merangkak naik.
Pitut Saputra
Tulisan dari Pitut Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Banjir menjadi penanda cuaca jelang Nataru di berbagai daerah (dok foto @pitutsaputra)
zoom-in-whitePerbesar
Banjir menjadi penanda cuaca jelang Nataru di berbagai daerah (dok foto @pitutsaputra)
KLATEN - Kumparan.com
Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), masyarakat kerap menghadapi tekanan harga yang meningkat pada sejumlah komoditas pokok. Lonjakan permintaan musiman, gangguan distribusi, dan fluktuasi produksi menjadi kombinasi yang membuat harga bergejolak beberapa minggu sebelum libur panjang.
Fenomena ini bukan sekadar masalah ekonomi mikro, dampaknya terasa pada stabilitas anggaran rumah tangga, terutama bagi keluarga berpendapatan rendah. Oleh karena itu, pendekatan yang terencana dan prioritas belanja yang cerdas menjadi kunci agar perayaan tetap bermakna tanpa mengorbankan kondisi finansial jangka panjang.
Kenaikan harga berkaitan erat dengan tradisi menjelang Nataru (dok foto @pitutsaputra)
Di tingkat pemerintahan dan komunitas, berbagai upaya dilakukan untuk meredam tekanan harga, seperti operasi pasar, bazar sembako murah, dan pemantauan rantai pasok. Intervensi semacam ini efektif bila dilaksanakan cepat dan merata, namun kenyataannya akses ke program tersebut tidak selalu sama di seluruh wilayah.
Daerah terpencil yang menghadapi kendala logistik dan cuaca ekstrem sering kali lebih rentan terhadap kelangkaan dan kenaikan harga. Karena itu, peran aktif keluarga dalam menyiapkan strategi belanja menjadi pelengkap penting bagi kebijakan publik.
Tidak semua daerah bisa merayakan panen raya karena berbagai faktor dan kondisi cuaca (dok foto @pitutsaputra)
Memahami penyebab kenaikan harga membantu rumah tangga menyusun langkah antisipatif yang tepat. Permintaan yang meningkat menjelang perayaan mendorong konsumsi lebih tinggi, sementara distribusi yang terganggu akibat mobilitas dan cuaca mempersempit aliran barang ke pasar.
Selain itu, penipisan stok di sentra produksi akibat gagal panen atau gangguan pasokan input produksi turut mempercepat kenaikan harga. Komoditas seperti cabai, bawang, daging, telur, dan bahan bakar seringkali menjadi yang pertama terdampak, sehingga prioritas belanja harus disesuaikan dengan pola tersebut.
Cabe menjadi salah satu produk pertanian yang seringkali mengalami peningkatan extreme jelang Nataru (dok foto @pitutsaputra)
Langkah praktis pertama yang dapat dilakukan adalah menyusun daftar belanja prioritas. Bedakan antara kebutuhan pokok yang harus dipenuhi dan keinginan perayaan yang bisa ditunda atau disederhanakan. Dengan daftar yang jelas, keluarga lebih mudah mengendalikan impuls belanja dan mengalokasikan anggaran secara efisien.
Selanjutnya, membeli barang tahan lama lebih awal, seperti beras, minyak goreng, dan bahan kering, dapat mengurangi risiko terkena lonjakan harga mendekati hari H. Pembelian terencana juga memberi ruang untuk membandingkan harga dan mencari penawaran terbaik.
Program berbagi sembako atau bazar sembako murah seringkali banyak membantu kondisi masyarakat terutama jelang Nataru (dok foto @pitutsaputra)
Memanfaatkan program operasi pasar dan bazar sembako murah adalah strategi berikutnya. Informasi mengenai jadwal dan lokasi bazar sering diumumkan oleh pemerintah daerah atau organisasi sosial, memanfaatkannya dapat menekan biaya belanja. Selain itu, bandingkan harga antar pasar tradisional, pasar modern, dan platform daring sebelum membeli.
Perbedaan harga antar saluran distribusi sering signifikan dan bisa dimanfaatkan untuk menghemat. Jika memungkinkan, belanja kolektif bersama tetangga atau komunitas dapat membuka akses harga grosir yang lebih murah.
Program ketahanan mandiri cukup relevan membantu keluarga dalam kondisi masa masa sulit (dok foto @pitutsaputra)
Manajemen stok rumah tangga dan pengurangan pemborosan memberi dampak langsung pada pengeluaran. Simpan bahan makanan sesuai petunjuk agar umur simpan lebih panjang, rencanakan menu mingguan untuk menghindari pembelian berlebih, dan olah sisa makanan menjadi hidangan baru agar tidak terbuang. Kebiasaan sederhana ini menurunkan frekuensi belanja mendesak yang biasanya lebih mahal dan membantu menjaga kualitas gizi keluarga tanpa menambah beban biaya.
Aspek keuangan yang tak kalah penting adalah menjaga likuiditas dan menghindari hutang konsumtif. Siapkan dana darurat dan alokasikan pos anggaran khusus untuk Nataru sehingga pengeluaran perayaan tidak mengganggu kebutuhan bulanan.
Peternak kecil juga mengalami berbagai hambatan ketika harus mengejar stok ketersediaan khususunya jelang Nataru (dok foto @pitutsaputra)
Hindari pinjaman berbunga tinggi untuk menutup kebutuhan konsumtif, jika terpaksa, pilih skema yang paling aman dan terukur. Disiplin anggaran mencegah praktik β€œgali lubang tutup lubang” yang berisiko memperburuk kondisi finansial jangka panjang dan menimbulkan tekanan psikologis bagi kepala keluarga.
Di sisi kebijakan dan komunitas, solusi jangka menengah dan panjang diperlukan untuk memperkuat ketahanan pasokan. Penguatan cadangan lokal, perbaikan infrastruktur logistik, serta dukungan bagi petani dan nelayan agar produksi lebih stabil menghadapi cuaca ekstrem akan mengurangi frekuensi lonjakan harga.
Cuaca menjadi indikator penentu keberhasilan usaha pada waktu waktu tertentu (dok foto @pitutsaputra)
Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci agar intervensi pasar bersifat preventif, bukan hanya reaktif. Partisipasi masyarakat dalam program ketahanan pangan lokal juga dapat memperkecil ketergantungan pada rantai pasok yang rentan.
Sebagai penutup, kenaikan harga beberapa jenis BBM di awal Desember sebaiknya dipandang sebagai sinyal dini dalam rantai pasok yang berpotensi memicu gelombang kenaikan harga barang lain. Oleh karena itu, keluarga perlu mengambil langkah bijak, menyusun anggaran prioritas, menunda pembelian nonesensial, membeli kebutuhan pokok lebih awal, dan memperkuat jaringan sosial untuk berbagi sumber daya.
Bagi rumah tangga berpendapatan minim, belanja bersama, memanfaatkan bazar murah, dan mengurangi budaya konsumtif menjadi strategi penting agar daya beli tidak terkikis. Dengan perencanaan yang matang, pengelolaan stok yang baik, dan disiplin finansial, keluarga dapat menyambut momentum Nataru dengan tenang tanpa harus menanggung beban hutang yang berkepanjangan.
( Pitut Saputra )
Trending Now