Konten Media Partner

Review Serial Reacher: Anti-Hero yang Diasingkan Negaranya

9 Februari 2022 20:01 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Review Serial Reacher: Anti-Hero yang Diasingkan Negaranya
Serial Reacher, yang ditayangkan pada Amazon Prime, mengambil cerita dari novel pertamanya, yaitu Killing Floor. #publisherstory
Play Stop Rewatch
Serial Reacher (Foto: Amazon Prime)
zoom-in-whitePerbesar
Serial Reacher (Foto: Amazon Prime)
Play Stop Rewatch, Jakarta - Mungkin bagi masyarakat Indonesia, karakter Jack Reacher lebih dikenal dalam film berjudul serupa rilisan tahun 2012 dan sekuelnya 2016 yang diperankan oleh Tom Cruise.
Terlepas dari kebintangan Tom Cruise, karakter tersebut belum terlalu melekat di kalangan penikmat film yang lebih mengenalnya sebagai sosok agen mata-mata Ethan Hunt.
Oleh karena itu, begitu karakter Jack Reacher diangkat dalam bentuk serial, tidak begitu menarik perhatian di Indonesia. Sebaliknya, bagi mereka yang mengikuti seri novelnya, kehadiran serial ini begitu dinanti, terutama mengenai sosok siapa yang memerankan Jack Reacher yang sempat memantik protes di kalangan penggemarnya ketika diperankan oleh Tom Cruise.

Seorang Anti Hero, seorang vigilante

Serial Reacher (Foto: Amazon Prime)
Jack Reacher, yang kini diperankan oleh Alan Ritchson (serial Titan, Teenage Mutant Ninja Turtles), memilih turun dari bus di kota kecil, Margrave, untuk mencari musisi blues yang sudah meninggal.
Tiba-tiba, karena dia adalah satu-satunya orang asing, dirinya ditangkap atas tuduhan pembunuhan yang tidak dikenalnya. Begitu pembunuhan semakin banyak, para penegak hukum menyadari telah menangkap orang yang salah.
Serial Reacher, yang ditayangkan pada Amazon Prime, mengambil cerita dari novel pertamanya, yaitu Killing Floor.
Plot yang berputar pada konspirasi di kota terpencil Amerika Serikat dengan sindikat kriminal membuat Reacher mau tak mau terlibat, terutama kejadian di sana merenggut orang yang paling dekat dalam hidupnya. Berbekal pengetahuan dan pelatihan sebagai polisi militer yang cemerlang, Reacher menyelidiki apa yang terjadi di Margrave.
Menariknya, Jack Reacher sebenarnya bukan orang Amerika tulen. Meski dia merupakan mantan tentara Amerika Serikat, dia justru tidak tumbuh besar di negeri Paman Sam.
Sebagai anak tentara, dia menjalani kehidupan masa kecil di pangkalan AS di seluruh dunia seperti di Jepang dan Jerman. Dalam serial, kita dapat melihat seorang warga negara Amerika yang berusaha mengenal negara yang dibela tapi tak pernah ditinggali seumur hidupnya.
Jack Reacher, yang memiliki latar belakang militer, tidak memiliki pandangan getir pada negaranya seperti John Rambo di First Blood. Dia hanyalah seorang tunawisma yang bergantung pada tunjangan pensiun militer untuk bertahan hidup.
Tidak seperti Rambo yang kembali ke negaranya dengan sambutan hujatan setelah pulang dari Perang Vietnam, Reacher hanyalah mantan anak militer yang berusaha beradaptasi di sebagai warga sipil. Jika pembaca belum tahu siapa Jack Reacher, serial ini membantu melalui kilas balik masa kecil Reacher hingga dia menjadi sosok sekarang.
Itulah sebabnya sudut pandang Reacher menarik dalam serial ini untuk diikuti. Dia tidak bergerak dalam koridor hukum atau cara pandang orang Amerika biasa, melainkan melakukannya dengan caranya sendiri.
Layaknya seorang vigilante (orang main hakim sendiri), Reacher merupakan manifestasi modern dari sosok Paul Kersey dari seri film Death Wish. Ditambah dengan catatan militernya, sosok Reacher seakan menjadi pahlawan dan pembela keadilan yang mempersetankan hukum yang semakin tumpul.

Kegagapan modernitas Paman Sam

Serial Reacher (Foto: Amazon Prime)
Serial Reacher berupaya menampilkan sisi lain dari kehidupan masyarakat Amerika dengan mengambil latar belakang negara bagian Georgia yang masih lekat imaji konfederasi yang mendukung perbudakan di Perang Saudara Amerika. Reacher menonjolkan bagaimana masyarakat Amerika yang masih konservatif dan tidak terbuka dengan orang asing.
Reacher dapat menjadi kacamata kita untuk melihat kehidupan sosial di pedalaman Amerika. Di balik tampilan kota Margrave yang bersih dan berkilau, terdapat rahasia kotor dibalik kemakmuran kota.
Terutama ketika kota tersebut dikuasai oleh konglomerat sebagai modus tindakan kriminal, warganya memilih diam dan tidak ingin tahu. Singkatnya, mereka seakan masih hidup di tahun 1950-an, ketika aksi Black Lives Matter belum populer dan Martin Luther King belum menyampaikan mimpinya.
Meskipun diambil dari novel yang dirilis tahun 1997, masa ketika AS menikmati status negara adidaya pasca kejatuhan Uni Soviet, serial ini mengambil latar waktu 2022, ketika kedigdayaan Amerika tersaingi oleh China dan Rusia dan kalah di Afghanistan.
Sebagai seorang berlatar belakang militer, Jack Reacher tidak mengkritik militer AS yang telah bertanggung jawab atas kekacauan di Irak, Suriah, dan Afganistan. Sehingga, kita tidak akan melihat imigran dari Timur Tengah yang hidup terlunta-lunta, walaupun kita masih bisa merasakan konflik politik yang ditimbulkan dari Washington di Margrave.
Keengganan mengeksplorasi ketimpangan sosial di masyarakat Amerika maupun tidak adanya kritik atau sindiran terhadap militer AS menjadikan serial ini sebatas pada upaya eksploitasi studio atas sosok Jack Reacher.
Terlepas dari itu, dengan respon yang bagus dari kalangan penggemar dan kritikus, serial ini memiliki potensi untuk membuka tabir kehidupan sosial di Amerika lebih luas dan mengeksplorasi kejatuhan Amerika, sebagaimana yang kita lihat di Nomadland (2020) garapan Chloe Zhao, yang dikombinasikan dengan aksi thriller ala Dirty Harry-nya Clint Eastwood.
LUTHFI ADNAN
Trending Now