Konten dari Pengguna

Memajukan Pendidikan Indonesia, Belajar dari Finlandia

Pormadi Simbolon
Alumnus Magister Ilmu Filsafat STF Driyarkara Jakarta. Penulis buku Pemikiran Zygmunt Bauman (2024) dan buku Mendidik dengan Iman dan Cinta (2025). Buku dapat dipesan via: https://s.id/PesanBukuPormadi
28 Agustus 2025 16:20 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Memajukan Pendidikan Indonesia, Belajar dari Finlandia
Visi untuk membangun generasi yang unggul, mandiri, dan kreatif harus menjadi komitmen bersama seluruh ekosistem pendidikan—mulai dari pemerintah, sekolah, guru, orang tua, hingga masyarakat
Pormadi Simbolon
Tulisan dari Pormadi Simbolon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi pendidikan Indonesia (Foto: Pormadi)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pendidikan Indonesia (Foto: Pormadi)
Pendidikan sering kali menjadi cermin kemajuan sebuah bangsa. Namun, bagi Indonesia, cermin itu sering menunjukkan bayangan yang buram: integritas pendidikan kita menurun alias masih tertinggal.
Di tengah berbagai masalah klasik yang tak kunjung usai, perhatian kita kerap tertuju pada Finlandia, sebuah negara di utara Eropa yang sistem pendidikannya diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
Pertanyaannya, mengapa kita masih tertinggal, dan pelajaran apa yang sesungguhnya bisa kita petik dari "fenomena" Finlandia?
Saat menapaki jenjang pendidikan di Indonesia, banyak dari kita merasakan tekanan yang luar biasa. Sistem pendidikan kita seolah-olah dirancang sebagai sebuah arena kompetisi yang melelahkan. Ujian nasional menjadi gerbang penentu, ranking kelas menjadi simbol kebanggaan, dan pekerjaan rumah (PR) menumpuk hingga malam. Pola-pola ini secara tidak sadar membentuk sebuah mentalitas bahwa belajar adalah beban, bukan sebuah proses yang menyenangkan untuk berkembang.
Selain itu, Ketika keluar dari ruang sekolah, apa yang diajarkan berbeda realitas di luar sekolah. Misalnya,kejujuran bertentangan dengan korupsi yang terjadi di lingkungan. Kerukunan atau keharmonisan bertentangan dengan kejadian intoleransi yang dialami atau didengar dalam berita media massa. Masih banyak contoh lain yang menunjukkan bahwa lingkungan sekitar tidak mendukung untuk Pendidikan yang membebaskan dan menyenangkan. Hal ini merupakan testimoni dari mantan duta besar Indonesia yang diceritakan kepada penulis.
Kondisi ini sangat kontras dengan apa yang terjadi di Finlandia. Alih-alih mengejar nilai, mereka fokus pada pembangunan manusia seutuhnya. Anak-anak di Finlandia baru memulai pendidikan formal pada usia 7 tahun, sebuah kebijakan yang didasarkan pada riset mendalam bahwa bermain di usia dini adalah cara terbaik untuk belajar. PR minim, ujian tidak menjadi momok, dan ranking kelas tidak dikenal. Pendekatan ini terbukti efektif dalam menekan tingkat stres siswa dan menumbuhkan kecintaan mereka terhadap belajar (Sahlberg, 2015).
Filosofi di Balik Keberhasilan Finlandia
Keberhasilan Finlandia bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari sebuah filosofi pendidikan yang kuat dan konsisten. Setidaknya ada tiga pilar utama yang menjadi fondasi mereka:
Pertama, guru dihargai sebagai profesional unggul. Di Finlandia, profesi guru sangat dihormati dan dianggap sebagai pekerjaan paling prestisius.
Untuk menjadi guru, seseorang harus menempuh pendidikan setara master (S2) dan melalui proses seleksi yang ketat. Investasi pada kualitas guru ini membuahkan hasil yang luar biasa.
Guru-guru Finlandia diberi otonomi penuh dan kepercayaan untuk merancang metode pembelajaran yang paling sesuai dengan kebutuhan siswa mereka, tanpa harus terikat oleh kurikulum yang kaku. Mereka adalah arsitek pendidikan, bukan sekadar pelaksana (OECD, 2017).
Kedua, pemerataan kualitas, bukan kompetisi. Finlandia meniadakan sekolah favorit atau sekolah unggulan. Semua sekolah, baik di kota besar maupun di pedesaan, memiliki fasilitas dan kualitas yang setara. Tidak ada pemisahan siswa berdasarkan kemampuan atau nilai.
Filosofi ini didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anak berhak mendapatkan pendidikan terbaik, tanpa terkecuali. Dampaknya, tidak ada anak yang tertinggal hanya karena faktor geografis atau ekonomi.
Ketiga, lingkungan belajar yang humanis. Pembelajaran di Finlandia tidak hanya terjadi di dalam kelas. Mereka menggabungkan kegiatan bermain, aktivitas di luar ruangan, dan eksplorasi sebagai bagian integral dari proses belajar.
Sekolah adalah tempat yang aman dan nyaman, di mana siswa didorong untuk berpikir kritis, berkolaborasi, dan mengembangkan kreativitas. Mereka tidak didikte, melainkan difasilitasi untuk menemukan jawaban mereka sendiri.
Di luar sekolah, apa yang mereka pelajari di sekolah, kompatibel dengan realitas di lingkungan masyarakat. Nilai-nilai kejujuran dan toleransi yang diajarkan, benar-benar dihidupi masyarakat.
Menuju Perubahan yang Pragmatis untuk Indonesia
Meskipun sistem pendidikan di Indonesia dan Finlandia memiliki konteks dan budaya yang sangat berbeda, bukan berarti kita tidak bisa belajar dari mereka. Kita bisa memulai perubahan dengan langkah-langkah yang pragmatis dan bertahap:
Pertama, mengubah paradigma penilaian. Kita perlu bergeser dari obsesi terhadap nilai dan ranking. Penilaian harus lebih holistik, tidak hanya berfokus pada hasil ujian, tetapi juga pada proses belajar, karakter, dan perkembangan individu. Kementerian yang mengurusi bidang pendidikan telah memulai langkah ini melalui program seperti Merdeka Belajar, yang perlu terus didukung dan diterapkan secara konsisten.
Kedua, investasi signifikan pada guru. Kesejahteraan dan kualitas guru harus menjadi prioritas utama. Pemerintah perlu memperketat seleksi guru, memberikan pelatihan yang berkelanjutan, dan meningkatkan insentif. Guru yang berkualitas dan sejahtera akan menghasilkan generasi yang unggul. Pertanyaannya, apakah sertifikasi guru yang menghabiskan dana dan tenaga sudah membawa kemajuan mutu Pendidikan di Indonesia?
Ketiga, memperkecil kesenjangan digital dan Fisik. Di era digital, pemerataan akses internet dan teknologi di seluruh wilayah Indonesia menjadi krusial. Apakah anggaran pendidikan sudah maksimal digunakan untuk menjembatani kesenjangan ini?
Selain itu, fasilitas fisik sekolah, terutama di daerah terpencil, harus terus diperbaiki dan ditingkatkan. Data dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan bahwa ketimpangan fasilitas pendidikan masih menjadi tantangan besar yang harus segera diatasi (Bappenas, 2020).
Keempat, mendorong pembelajaran aktif dan kontekstual. Misalnya, memberikan ruang bagi guru untuk bereksperimen dengan metode pembelajaran yang lebih kreatif, misalnya berbasis proyek atau studi kasus. Biarkan siswa belajar dengan cara yang relevan dengan kehidupan nyata mereka, sehingga ilmu tidak hanya menjadi teori, tetapi juga bekal untuk memecahkan masalah di masa depan.
Perubahan pendidikan adalah sebuah maraton, bukan sprint. Visi untuk membangun generasi yang unggul, mandiri, dan kreatif harus menjadi komitmen bersama seluruh ekosistem pendidikan—mulai dari pemerintah, sekolah, guru, orang tua, hingga masyarakat.
Dengan demikian, refleksi kita terhadap Finlandia tidak hanya berhenti pada kekaguman, tetapi diwujudkan dalam aksi nyata untuk mengejar ketertinggalan. (*)
Trending Now