Konten dari Pengguna
Cara Membedakan Batu Biasa Dengan Alat Serpih Purbakala
24 November 2025 15:30 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Cara Membedakan Batu Biasa Dengan Alat Serpih Purbakala
Salah satu ciri paling penting dari alat serpih adalah adanya platform pukul (striking platform), yaitu permukaan tempat batu dipukul hingga menghasilkan serpihan.Hardiat Dani S
Tulisan dari Hardiat Dani S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membedakan batu biasa dengan alat serpih purbakala adalah keterampilan penting dalam arkeologi, terutama ketika seseorang menemukan batu yang bentuknya menarik atau terlihat tajam. Banyak orang mengira batu tajam adalah artefak purba, padahal sebagian besar batu kali yang terbawa arus sungai juga bisa pecah dengan pola yang sekilas mirip alat serpih. Karena itulah diperlukan pengamatan lebih teliti terhadap ciri teknis yang hanya muncul pada batu yang sengaja dibuat manusia pada masa prasejarah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Balai Konservasi Artefak Desa (Bakonardes), alat serpih atau flake tools biasanya dibuat melalui teknik pemangkasan yang disebut knapping, yaitu memukul batu inti (core) untuk menghasilkan serpihan yang memiliki sudut tajam. Proses ini meninggalkan tanda-tanda khusus pada permukaan batu, seperti bidang pukul, jejak benturan, atau pola serpihan berulang. Sebaliknya, batu biasa yang pecah secara alami akibat tekanan tanah, benturan antar batu, atau proses geologi tidak menunjukkan pola yang teratur maupun sistematis.
Salah satu ciri paling penting dari alat serpih adalah adanya platform pukul (striking platform), yaitu permukaan tempat batu dipukul hingga menghasilkan serpihan. Dari titik pukul ini akan muncul bulb of percussion, yaitu tonjolan kecil menyerupai gelombang yang mengindikasikan batu tersebut retak akibat pukulan manusia. Jejak ini umumnya sangat sulit muncul secara alami, sehingga kehadirannya menjadi indikator kuat bahwa batu tersebut merupakan artefak prasejarah.
Selain itu, alat serpih sering menampilkan retouch atau penyerpihan kecil-kecil di bagian tepinya. Retouch ini dibuat untuk mempertajam, membentuk, atau menyesuaikan fungsi alat agar dapat digunakan untuk mengikis kulit, memotong, atau meraut kayu. Ciri ini membedakan alat serpih dengan batu biasa yang cenderung memiliki tepian acak dan tidak beraturan. Alat serpih juga umumnya memiliki bentuk yang lebih simetris sesuai tujuan penggunaannya.
Kontrasnya, batu biasa biasanya tidak memiliki pola pecahan yang sistematis. Meskipun batu kali dapat pecah dengan bentuk mirip conchoidal fracture (retakan menyerupai kerang), namun tidak menunjukkan platform pukul yang jelas, tidak ada bulb of percussion yang rapi, dan tepinya tidak menunjukkan retouch. Batu alami juga biasanya memiliki banyak permukaan yang aus akibat abrasi air atau tanah, sehingga terlihat lebih halus tanpa pola pengerjaan manusia.
Melalui pemahaman ciri-ciri tersebut, siapa pun menjadi dapat membedakan antara batu biasa dan alat serpih prasejarah dengan lebih tepat. Meskipun identifikasi pasti tetap memerlukan analisis oleh arkeolog, pengenalan awal seperti ini dapat membantu menghindari kesalahan interpretasi terhadap batu-batu alami yang kebetulan memiliki bentuk menarik. Jika menemukan batu yang mencurigakan, sebaiknya dokumentasikan berupa foto detail, terutama pada tepi dan titik pecah, karena hal tersebut dapat membantu proses analisis lebih lanjut.

