Konten dari Pengguna
Masihkah Penampilan Menjadi Tiket Utama di Dunia Kerja?
14 Juni 2025 14:13 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Masihkah Penampilan Menjadi Tiket Utama di Dunia Kerja?
Kita memang hidup di era di mana penampilan menjadi tolok ukur. Namun, bukan berarti kita harus menerima realitas tersebut sebagau sesuatu yang lumrah.puji utami
Tulisan dari puji utami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah โberpenampilan menarikโ atau good looking kerap muncul dalam berbagai iklan lowongan kerja. Meski terasa wajar di bidang industri tertentu seperti layanan publik atau perhotelan, faktanya, kriteria ini kini semakin meluas ke berbagai sektor lainnya. Tanpa banyak disadari, kita sedang menghadapi kenyataan yang tidak sepenuhnya adil, di mana beauty privilege atau keuntungan karena penampilan fisik berperan besar dalam proses rekrutmen. Apakah ini bagian dari strategi membentuk citra perusahaan, atau justru bentuk diskriminasi yang tidak kasatmata?
Beauty privilege merujuk pada keuntungan sosial yang diperoleh seseorang karena dianggap memiliki penampilan menarik secara umum. Faktor ini terbentuk oleh pengaruh media, budaya populer, serta stereotip sosial yang telah melekat lama dalam masyarakat. Akibatnya, muncul asumsi bahwa mereka yang tampil menarik dianggap lebih ramah, kompeten, atau berpotensi lebih sukses di tempat kerja. Padahal hal ini tidak selalu mencerminkan kenyataan.
Penelitian dari University of British Columbia menunjukkan bahwa kandidat dengan penampilan fisik yang dinilai menarik lebih sering dipilih dalam proses seleksi kerja, bahkan ketika kualifikasi mereka sejajar dengan pelamar lain. Fakta ini menegaskan bahwa proses rekrutmen kerap dipengaruhi oleh subjektivitas, bukan murni berdasarkan kompetensi. Ironisnya, banyak calon potensial tersingkir bukan karena kurang mampu, melainkan karena tidak sesuai dengan standar penampilan tertentu yang sering kali tidak tertulis secara resmi.
Dari sudut pandang manajemen sumber daya manusia, fenomena ini menimbulkan sejumlah persoalan. Di antaranya adalah potensi diskriminasi dalam rekrutmen, ketimpangan kesempatan antarpegawai, turunnya semangat kerja akibat lingkungan yang tidak adil, hingga rusaknya citra perusahaan yang berisiko menurunkan kepercayaan publik.
Karena itu, sudah saatnya perusahaan meninjau ulang proses rekrutmen dan budaya kerjanya secara menyeluruh. Langkah seperti penerapan blind recruitment dan kebijakan inklusif yang berkeadilan bukan hanya relevan, tetapi juga penting sebagai bentuk investasi jangka panjang dalam membangun sumber daya manusia yang kuat, adil, dan berdaya saing.
Kita memang hidup di era di mana penampilan masih kerap dijadikan tolok ukur. Namun, bukan berarti kita harus menerima realitas tersebut sebagai sesuatu yang lumrah. Dunia kerja semestinya menjadi ruang yang menghargai kapasitas, karakter, dan kontribusi nyata. Karena pada akhirnya, penampilan bisa memudar, tetapi kualitas pribadi dan integritas akan tetap menjadi nilai yang paling berharga dalam membangun karier jangka panjang.

