Konten dari Pengguna
Menjaga Reputasi Industri Media di Tengah Disrupsi Kecerdasan Artifisial
29 September 2025 18:12 WIB
ยท
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Menjaga Reputasi Industri Media di Tengah Disrupsi Kecerdasan Artifisial
AI mempercepat informasi dalam jurnalisme namun rawan disinformasi dan penghindaran berita. AI dipakai untuk penguatan data dan personalisasi dengan etika, verifikasi, dan kendali redaksi.Pupung Arifin
Tulisan dari Pupung Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam satu dekade terakhir, praktik jurnalisme telah berjuang untuk beradaptasi dan berkompromi dengan eksistensi media sosial di tengah masyarakat. Media sosial bukan lagi menjadi ruang manusia untuk saling terhubung, namun telah berhasil menantang jurnalisme institusional. Media sosial bukan lagi menjadi media alternatif, namun bisa dikatakan menjadi salah satu media arus utama pilihan masyarakat saat ini. Bisa dilihat dari bukti banyaknya politisi dan pemimpin daerah yang memanfaatkan media sosial sebagai saluran komunikasi dengan publik, jika tidak mau dikatakan sebagai etalase pencitraan yang sempurna.
Tidak seperti lembaga media jurnalisme yang harus tunduk pada UU Pers dan UU Penyiaran, media sosial cenderung lemah akan pengawasan yang bersifat institusional dan bebas nilai. Citra yang nampak di depan layar media sosial dapat diatur sedemikian rupa sesuai dengan tujuan si pembuat, dan dengan biaya yang relatif murah bila dibandingkan eksposur di media jurnalisme institusional. Kewajiban pencerdasan kehidupan bangsa yang dibebankan kepada media arus utama menjadi tenggelam oleh konten buatan pengguna (user generated content) yang dibalut dengan berbagai bumbu pemesona.
Keterpesonaan dan empati semu itu juga yang membuat masyarakat terkadang dengan mudah larut dalam cerita, sehingga cepat mengambil kesimpulan dan sampai hati melakukan cemoohan tanpa melihat sebuah peristiwa dari berbagai sudut pandang. Sebagai contoh, bisa kita lihat kasus antara seorang dosen perguruan tinggi swasta di Jawa Timur yang berseteru dengan tetangganya yang terjadi beberapa waktu lalu. Reputasi dan kehidupan seseorang bisa dengan mudah runtuh karena narasi keliru namun meyakinkan di media sosial.
Berdasarkan laporan dari Reuters Digital News Report 2025, media sosial menjadi media pilihan utama sebagai sumber mencari berita. Sedangkan jumlah pengakses portal berita online dan televisi terus mengalami penurunan. Menariknya, tren peningkatan media sosial sebagai pilihan utama untuk mengakses berita, secara khusus terjadi di Amerika, banyak negara di Amerika Latin, Afrika dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Secara khusus, media sosial berbasis video seperti Instagram dan TikTok.
Belum habis dengan tantangan tersebut, saat ini lembaga media berbasis kerja jurnalisme semakin ditekan dengan kehadiran Kecerdasan Artifisial (KA) atau Artificial Intelegence (AI) yang sering disebut sebagai the new google. Hadirnya KA mempercepat sampainya sebuah informasi dan berita ke tangan khalayak. Beberapa pengguna juga setuju bahwa KA menggunakan pendekatan bahasa yang lebih personal dibandingkan narasi di media berita online tradisional. Meskipun begitu, masifnya penggunaan KA menimbulkan kekhawatiran. Potensi penyalahgunaan seperti deepfake dan disinformasi semakin mengemuka di tengah ledakan konten buatan KA. Ahmed, dkk., (2024) menegaskan bahwa keakurasian seseorang dalam mengidentifikasi disinformasi akan semakin lemah ketika paparannya semakin tinggi.
Berdasarkan laporan Reuters (2025), Indonesia menjadi negara ketiga di dunia yang nyaman dengan konten berita yang sebagian besar diproduksi oleh KA, dan hanya sedikit mendapat sentuhan manusia. Meningkatnya jumlah berita yang dihasilkan oleh KA berpotensi menaikkan potensi perilaku penghindaran berita (news avoidance). Berdasarkan laporan yang sama, perilaku ini muncul karena beberapa penyebab, diantaranya karena responden merasa berita akan memberikan dampak negatif pada suasana hati dan menimbulkan rasa lelah karena berita yang melimpah.
Masifnya penggunaan Kecerdasan Artifisial (KA) untuk berbagai kepentingan bisa saja semakin menjauhkan publik dari media berita tradisional yang menjalankan prinsip jurnalisme dengan disiplin. Seseorang yang kurang memiliki wawasan yang luas, bisa saja merasa tahu segalanya dengan bantuan KA. Sedangkan orang sudah membaca berita dari media berita institusional, menjadi tidak yakin dengan pengetahuannya karena masih merasa perlu bertanya kepada KA. Potensi bahaya akan semakin besar jika suatu hari terjadi AI slop, yaitu suatu kondisi ketika sebuah KA ternyata men-generate dari karya KA lainnya. Jika ini terjadinya, maka spam informasi menjadi semakin masif tersirkulasi di jagad maya.
Meskipun demikian, tentu hadirnya Kecerdasan Artifisial (KA) bukan sesuatu yang harus dihidari atau bahkan ditolak. Ruang redaksi perlu memastikan bahwa penggunaan KA bukan hanya sekedar untuk mempercepat produksi sebuah naskah berita dengan menggunakan KA generatif. Setidaknya ada dua potensi AI yang bisa dieksplorasi lebih lanjut oleh media agar make journalism great again.
Pertama, Kecerdasan Artifisial dapat membantu jurnalis untuk membuat sebuah tulisan semakin kuat. Tulisan yang kuat tentu salah satunya didukung dengan pusat data yang baik. Maka dalam hal ini, komunitas jurnalis dapat membangun alat KA yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk membangun pusat data dan informasi yang kredibel dan sudah diverifikasi oleh manusia. Meluasnya ketergantungan publik pada KA, akan memperkuat posisi jurnalis untuk membuat karya yang otentik, alih-alih karya sintetik buatan KA.
Kedua adalah tingginya kebutuhan personalisasi konten berita. Semakin kuatnya โkuasaโ pengguna atas media yang mereka konsumsi sehari-hari, otomatis memperkuat tuntutan khalayak untuk mendapatkan berita yang mudah diakses, nyaman, dan relevan untuk tiap individu. KA bisa digunakan untuk menyaring berita sesuai dengan preferensi, lokasi, dan minat khalayak sehingga dapat mencegah information overload. Praktik ini salah satunya bisa digunakan penyedia news aggregator untuk melakukan kurasi atas berita yang akan ditampilkan ke tiap ponsel pengguna. Personalisasi ini bukan hanya tentang berita yang relevan dengan pengguna, namun juga personalisasi format berita.
Sebagai contoh seperti yang dilakukan Radio BBC yang mencoba menggunakan KA untuk menyediakan fiturpembuat naskah tertulis dari sebuah program radio. Sedangkan media India dan Amerika ada yang sudah memanfaatkan KA untuk membuat format audio dari sebuah teks berita. Contoh lain yaitu media di Swedia mampu memanfaatkan KA untuk membuat ringkasan otomatis dari sebuah artikel berita.
Akhir kata, bisa disimpulkan bahwa Kecerdasan Artifisial dapat mendukung produktivitas dan sekaligus memperdalam riset dalam kerja jurnalistik. KA juga dapat dimanfaatkan untuk memberikan pengalaman beragam kepada khalayak sesuai dengan kebutuhan personalnya. Meskipun demikian, risiko bias, rendahnya transparansi dan potensi ilusi kebenaran dapat mengancam kredo publik terhadap redaksi. Karena itu, pemanfaatan KA di kerja jurnalistik harus melekat pada prinsip pengutamaan peran manusia sebagai master pada penggunaan KA di tiap tahapan produksi berita, penghargaan atas privasi, tata kelola ruang redaksi berbasis etika jurnalistik dan upaya penguatan literasi KA bagi publik. Hal tersebut untuk memastikan bahwa produk jurnalistik sarat atas sentuhan rasa dari manusia yang tidak bisa digantikan oleh peran teknologi apapun.

