Konten dari Pengguna

Lombanya Itu ke Dalam Bukan Keluar

Putri Azzahra
Mahasiswa Program Studi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. Menjadi bersemangat jika berbicara tentang kecantikan dan gaya hidup
3 Januari 2022 14:52 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Lombanya Itu ke Dalam Bukan Keluar
Dalam dunia yang tidak pernah berhenti bergerak, kita jadi mudah untuk membandingkan diri dengan orang lain. Sampai lupa harusnya berlomba ke dalam bukan ke luar. #userstory Putri Azzahra
Putri Azzahra
Tulisan dari Putri Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lanskap campuran warna jingga dan biru menghiasi langit pagi itu. Matahari perlahan bangun dari tidurnya, dengan lembut mencium para pelari yang memadati ruas jalan utama Ibukota untuk sekadar berlatih atau berlomba dengan rekor terakhir yang mereka dapatkan.
Hembusan napas tiba-tiba berderu. Langkah kaki ku perbesar dan percepat, merasa tak ingin tertinggal oleh sekelompok pelari andal yang ada di depan. Lari bagi beberapa orang adalah kebebasan, bebas untuk melangkah secepat ataupun sekuat apa pun. Lari bagi beberapa orang juga sebuah meditasi, untuk menengok ke dalam dan merefleksi berbagai hal yang sudah dilewatkan.
Ilustrasi berlari (sumber: Freepik.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berlari (sumber: Freepik.com)
Malam itu, saya baru saja mengikuti kelas bersama salah satu content creator yaitu @andrewnulis. Dalam salah satu presentasinya ia menulis sebuah kalimat.
‘Lombanya itu ke dalam, bukan keluar’.
Perlombaan sering kali jadi tempat pembuktian. Bukti seberapa kuat fisik yang kita punya, seberapa jauh kapasitas kemampuan otak yang kita miliki, sampai seberapa kreatif indra imajinasi kita untuk berpikir. Dalam olahraga lari setiap orang punya kecepatannya masing-masing. Kecepatan itu disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari umur, fisik, ketahanan dan kekuatan tubuh, sampai seberapa sering lari menjadi rutinitas bagi orang tersebut.
Lari bukanlah olahraga pertama saya. Dulu saya benci berlari, bagi saya lari hanya membuang waktu dengan gerakan yang statis. Tapi, sejak tahun lalu lari menjadi tempat saya untuk bermeditasi, refleksi berbagai kejadian yang pernah berlalu-lalang. Lari jadi tempat pembuktian saya dengan diri saya sendiri.
Lari bersama para pelari lain membuat saya merasakan rasa kebersamaan. Walaupun tidak saling kenal, namun kesamaan hobi menjadi hal yang membuat kami merasa dekat. Saat saya berlari pagi itu, kaki dan pikiran tanpa saya sadari mengikuti kecepatan orang di sekitar saya. Seakan tidak mau kalah dengan kemampuan yang saya punya. Saya kemudian mencoba menyamakan kecepatan sampai napas menjadi lebih berat.
Kaki saya tidak berhenti bahkan ia semakin melebarkan langkahnya, sampai akhirnya saya memperlambat sembarin mengambil napas. Kemudian saya bertanya pada diri saya sendiri. “Kamu lari untuk diri sendiri atau orang lain?”
Dalam dunia yang tidak pernah berhenti, kita menjadi lebih mudah untuk melihat pencapaian orang lain. Dengan konten yang sudah difilter di media sosial kita seringkali lupa dengan perjuangan yang tidak terlihat di layar kaca. Ingin ikut memiliki pencapaian tersebut tanpa tahu apakah benar itu adalah kebutuhan utama kita atau tidak.
“Wah dia keren banget udah jadi founder”, “Wah dia keren banget bisnisnya udah meluas sampai ke kota lain”, “Enak ya jadi dia, bisa lanjut S2 di luar negeri”, “Seru banget hidupnya liburan terus”, dan berbagai reaksi negatif lainnya saat kita membuka media sosial.
Dalam berlari, setiap orang punya tujuannya masing-masing. Ada yang ingin berlari karena sudah jadi rutinitas, ada yang ingin berlari untuk memperbaiki pola hidup yang lebih sehat, ada yang ingin berlari karena sedang berlatih untuk kejuaraan, ada yang berlari hanya karena sesederhana ingin merasa lebih bahagia. Sama dalam hidup setiap orang punya tujuannya masing-masing.
Salah satu pelari marathon dari Amerika Ryan Hall dalam wawancaranya dengan Newyorker.com, membagikan tujuan dia dalam berlari setelah beberapa kali sempat gagal menyelesaikan maraton yang ia ikuti karena cedera yang diderita. Tujuan Hall dalam berlari adalah untuk tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Baginya, membandingkan diri dengan orang lain adalah hal yang buruk baik dalam olahraga maupun kehidupan. Hall kemudian menjadikan lari maraton-nya sebagai tempat pembuktian untuk ia dapat melakukan yang lebih baik dari hari kemarin.
Hall mengatakan ia berlari sebagai bentuk lomba dengan versi dia yang pernah ia buat, ia berlari untuk berlomba menjadi diri yang lebih baik setiap harinya. Hall tidak takut untuk gagal. Ia merasa hidup akan terus berjalan, ia sadar bahwa ia telah melakukan semua latihan yang harus iya lakukan sehingga apa pun hasilnya itu adalah yang terbaik. Bagi Hall, Lari bisa menjadi olahraga yang begitu indah, lari adalah caranya untuk berhubungan dengan tuhan.
Salah satu faktor yang membuat pelari bisa memiliki kecepatan yang baik adalah alat yang mereka gunakan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan. Ada yang menggunakan sepatu lari seharga jutaan rupiah, ada pula yang menggunakan jam dengan alat pengukur detak jantung untuk memudahkan mengukur napas.
Tetapi, tidak semua orang harus menggunakan alat yang mahal atau jam pintar untuk menjadi pelari andal. Selama nyaman dengan apa yang dipunya dan memiliki komitmen serta konsistensi siapa pun bisa menjadi pelari. Sama dengan hidup, selama kamu nyaman dengan skill dan potensi yang kamu punya dan kamu bisa mengukur dan meningkat potensi tersebut, kamu pun bisa jadi sesuatu yang kamu impikan.
Momen saya untuk memperlambat dan berhenti tadi membuat saya merenung sejenak. Mungkin saat ini saya terlalu fokus dengan apa yang ada di luar sampai lupa apa yang saya miliki di dalam. Padahal pada akhirnya, kita akan berlomba sama diri kita sendiri. Berlomba untuk mengalahkan rekaman terbaik diri kita, berlomba untuk mengalahkan ego diri kita sendiri.
Lari kali ini kemudian jadi pengingat, betapa pentingnya untuk berhenti dan bertanya apa yang sebenarnya diri ini butuhkan. Nyaman gak sama gerakannya, terlalu cepat atau enggak, dan untuk berhenti membandingkan diri dengan sekitar. Karena pada akhirnya, kita semua sudah punya tujuan masing-masing. Tinggal bagaimana kita berlomba dengan diri kita sendiri untuk bisa menang dan jadi versi terbaik diri kita sendiri.
Trending Now