Konten dari Pengguna
Muslim Minoritas Menang di New York: Refleksi Kosmopolitan atas Zohran Mamdani
13 November 2025 14:00 WIB
Ā·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Muslim Minoritas Menang di New York: Refleksi Kosmopolitan atas Zohran Mamdani
Terpilihnya Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York menandakan arah baru peradaban politik yang menilai manusia bukan dari identitas primordial, melainkan dari kapasitas moral dan sosial. #userstoryQonitah Rohmadiena
Tulisan dari Qonitah Rohmadiena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemenangan Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York bukan sekadar peristiwa politik lokal, melainkan simbol dari pergeseran nilai global. Di tengah meningkatnya populisme kanan dan sentimen anti-imigran di berbagai belahan dunia, munculnya seorang pemimpin Muslim di pusat kekuatan ekonomi dan budaya dunia seperti New York adalah fenomena yang patut dibaca dengan kacamata yang lebih luas.
Fenomena ini bukan hanya tentang representasi etnis atau agama, melainkan tentang transformasi nilai universal yang sedang tumbuh di dunia pasca-globalisasi: yakni pengakuan terhadap keberagaman sebagai fondasi legitimasi politik baru.
Zohran Mamdani lahir dari keluarga imigran Uganda-India dan tumbuh besar di Queens, salah satu distrik paling multikultural di dunia. Ia dikenal vokal memperjuangkan isu keadilan sosial, perumahan rakyat, dan solidaritas lintas ras dan agama.
Karier politiknya menembus batas-batas yang dulu dianggap mustahil bagi seorang Muslim di Amerika Serikatāterlebih di kota yang pernah menjadi sasaran serangan 9/11. Fakta bahwa masyarakat New York memilihnya menandakan bahwa kota ini tidak hanya memeluk pluralitas sebagai identitas, tetapi juga mempercayakan pluralitas itu sebagai sumber moral dan intelektual dalam kepemimpinan.
Kosmopolitanisme dan Politik yang Mengakui āYang Lainā
Dalam teori kosmopolitanismeāsebagaimana dijelaskan oleh tokoh seperti Immanuel Kant, Martha Nussbaum dan Kwame Anthony Appiahāmasyarakat dunia idealnya tidak mendasarkan legitimasi politik pada kesamaan identitas, tetapi pada nilai-nilai universal, seperti kebebasan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Kepemimpinan Mamdani di New York ini mencerminkan pergeseran ke arah itu. Terpilihnya ia sebagai Wali Kota New York menjadi penanda bahwa politik di abad ke-21 tidak lagi bergantung pada āsiapa kitaā berdasarkan asal-usul, melainkan pada āapa yang kita perjuangkanā sebagai warga dunia.
Jika dulu kekuasaan di AS selalu diasosiasikan dengan homogenitas dan mayoritas, terpilihnya Mamdani menandakan transformasi simbolik: dunia kini mulai terbuka untuk menerima keberagaman bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari rasionalitas politik modern. Dengan kata lain, kosmopolitanisme tidak lagi berhenti di tataran ide; kosmopolitanisme kini telah ada representasinya dalam politik praktis.
Dalam banyak studi politik global, keberhasilan kelompok minoritas menduduki posisi puncak kekuasaan kerap menjadi indikator kematangan demokrasi. Namun, di New York, konteksnya lebih dalam. Kota ini bukan hanya demokratis, melainkan juga simbol hegemoni budaya global. Maka ketika seorang Muslim berdiri menjadi pemimpinnya, dunia melihat lebih dari sekadar āseorang wali kotaā; dunia melihat arah baru peradaban politik yang menilai manusia bukan dari identitas primordialnya, melainkan dari kapasitas moral dan sosialnya.
Dunia yang sedang Belajar dari Minoritas
Terpilihnya Mamdani juga memberi pesan bagi negara-negara lain bahwa keterbukaan dan meritokrasi bukanlah konsep Barat semata, melainkan nilai universal yang dapat menumbuhkan legitimasi politik dan sosial. Fenomena ini memperlihatkan bahwa nilai-nilai kosmopolitan bukan lagi bersifat geografis, melainkan moral.
Ia bisa tumbuh di mana pun ada masyarakat yang berani menerima āyang lainā sebagai bagian dari dirinya. Dalam konteks ini, kemenangan Mamdani bukan hanya kemenangan komunitas Muslim, melainkan juga kemenangan bagi gagasan kemanusiaan global yang lebih inklusif.
Politik Dunia di Era Identitas
Kemenangan Zohran Mamdani mungkin tidak langsung mengubah tatanan politik dunia, tetapi menjadi penanda simbolik bahwa politik identitas kini sedang mengalami reorientasi. Identitas tidak lagi digunakan untuk memisahkan, tetapi untuk menghubungkan.
Dalam pandangan kosmopolitanisme, politik masa depan adalah tentang kemampuan menciptakan solidaritas lintas identitas. Dan Mamdaniādengan latar belakangnya sebagai Muslim, aktivis sosial, dan anak imigranāmewujudkan itu dalam satu sosok.
Jika New York kini mempercayakan kepemimpinannya kepada seorang Muslim, barangkali dunia sedang memberi sinyal: kita sedang bergerak menuju tatanan baru di mana keberagaman tidak sekadar diterima, tetapi dianggap sebagai keunggulan moral dan politik, bahkan bisa menduduki kursi kepemimpinan. Dan bisa jadi, di masa depan, kemenangan seperti ini tidak lagi dilihat sebagai ākeajaiban politikā, tetapi sebagai hal yang sepenuhnya normalāsebuah tanda bahwa dunia akhirnya mulai belajar menjadi benar-benar kosmopolitan.

