Konten dari Pengguna

Anak Terlindungi, Indonesia Tak Hanya Maju Tapi Juga Waras

Raden Siska Marini
Founder Ruang Aman, lembaga advokasi yang berfokus pada pengarusutamaan gender, serta terlibat dalam penyusunan kebijakan berbasis komunitas.
21 Juli 2025 7:45 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Anak Terlindungi, Indonesia Tak Hanya Maju Tapi Juga Waras
Perlindungan anak bukan hanya syarat menuju Indonesia Emas 2045, tapi cermin kewarasan kita hari ini. Hentikan kekerasan, mulai dari rumah.
Raden Siska Marini
Tulisan dari Raden Siska Marini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen pribadi
Tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Tahun ini, temanya cukup besar: Anak Hebat, Indonesia Kuat: Anak Terlindungi Menuju Indonesia Emas 2045. Tapi sebelum bicara 2045, mari kita lihat realitas 2025: anak-anak masih jadi korban kekerasan, justru di tempat yang seharusnya paling aman—rumah dan sekolah.
Laporan Kementerian PPPA tahun 2024 menyebut ada lebih dari 15 ribu kasus kekerasan terhadap anak. Itu baru yang tercatat. Praktik kekerasan fisik, verbal, hingga psikis seringkali dibungkus dengan label "pendidikan" atau "disiplin." Faktanya, banyak anak tumbuh dengan luka, bukan cinta.
Kita terlalu sering bicara soal SDM unggul dan mimpi Indonesia Emas, tapi lupa bahwa manusia unggul hanya lahir dari proses tumbuh kembang yang aman dan sehat. Dalam konteks SDGs, perlindungan anak erat kaitannya dengan pendidikan berkualitas (SDG 4) dan masyarakat damai (SDG 16). Kalau anak takut pulang ke rumah, atau trauma di ruang kelas, bagaimana bisa mereka berkembang maksimal?
Ada harapan. Forum Anak yang kini tumbuh di berbagai daerah bisa jadi ruang penting untuk mendengar suara anak. Mereka tak hanya butuh perlindungan, tapi juga pengakuan. Anak bukan penonton masa depan, tapi aktor hari ini.
Kita juga butuh kolaborasi nyata. Pemerintah, sekolah, media, komunitas, bahkan sektor swasta perlu bergandengan tangan. Unit layanan seperti UPTD PPA bisa diperluas, dan guru-guru perlu dibekali pelatihan pengasuhan non-kekerasan. Tapi yang paling penting: keluarga. Rumah harus kembali jadi tempat aman, bukan sumber luka.
Anak terlindungi bukan cuma soal masa depan bangsa, tapi juga tentang kewarasan kita sebagai masyarakat. Kalau kekerasan masih dianggap hal biasa, jangan heran jika Indonesia Emas cuma jadi mimpi yang basi.
Yang perlu kita ingat, kekerasan terhadap anak bukan hanya soal fisik. Banyak anak yang secara lahiriah tampak baik-baik saja, tapi menyimpan trauma karena cemoohan, teriakan, atau tekanan yang berlebihan. Kekerasan emosional sering luput dari perhatian karena tidak meninggalkan memar, tapi efek jangka panjangnya bisa menghancurkan rasa percaya diri dan kesehatan mental anak. Kita hidup di era ketika tekanan akademik, tuntutan media sosial, dan relasi keluarga yang dingin membuat anak kehilangan ruang aman untuk menjadi dirinya sendiri.
Tantangan kita hari ini juga tidak lepas dari cepatnya perubahan zaman. Anak-anak generasi alfa tumbuh dengan internet sejak usia dini. Mereka terpapar konten kekerasan, pornografi, dan perundungan digital tanpa selalu punya filter yang cukup kuat. Maka selain pengasuhan yang lembut, literasi digital dan pengawasan penuh kasih dari orang dewasa menjadi kebutuhan mutlak. Bukan untuk membatasi, tapi untuk membimbing.
Perlindungan anak di era sekarang juga membutuhkan pendekatan berbasis komunitas. Kita butuh tetangga yang peduli, RT dan RW yang aktif, guru yang peka, dan tokoh agama yang ikut menyuarakan pentingnya mendidik tanpa menyakiti. Jangan sampai urusan perlindungan anak hanya dianggap sebagai tanggung jawab kementerian atau lembaga tertentu. Ini tugas bersama, karena anak-anak tumbuh di lingkungan yang saling terhubung.
Dan terakhir, mari ubah cara kita bicara tentang anak. Mereka bukan beban, bukan pelengkap pencitraan keluarga, dan bukan juga aset semata. Mereka manusia seutuhnya, dengan hak untuk merasa aman, didengar, dan dihormati. Jika kita sungguh ingin membangun Indonesia yang kuat dan waras, perlindungan anak harus jadi fondasi awal, bukan rencana cadangan.
Trending Now