Konten dari Pengguna

Kenapa Artikel Saya Ditolak Kumparan? Ketahui Alasannya!

Raditya Rafi Akbar
Saya Raditya Rafi Akbar, seorang mahasiswa baru sosiologi Universitas Airlangga.
16 November 2025 10:48 WIB
Ā·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kenapa Artikel Saya Ditolak Kumparan? Ketahui Alasannya!
Artikel ini membahas alasan mengapa artikel sering ditolak oleh Kumparan. Tulisan ini memberi panduan praktis agar penulis pemula dapat memperbaiki kualitas tulisannya.
Raditya Rafi Akbar
Tulisan dari Raditya Rafi Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi melihat notifikasi ditolak Kumparan. Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi melihat notifikasi ditolak Kumparan. Foto: Freepik
Mengapa naskah artikel yang terasa bagus tiba-tiba mendapat penolakan — dan apa yang bisa kita lakukan supaya tidak mengulanginya?
Kamu sudah menulis dan pemberian judulnya menggigit. Tapi notifikasi di konten saya menunjukkan artikel ditolak dengan alasan, "Silakan menulis dengan tema dan/atau angle lain". Membaca alasan penolakan kadang seperti diterjemahkan dari bahasa birokrasi: samar, mengecewakan, dan membuat sedikit kesal dan bertanya-tanya.
Sebenarnya ada pola — sebagian berasal dari aturan platform, sebagian lagi dari logika editorial dan perubahan besar pada bagaimana berita dan opini diseleksi di era digital.
Yuk, kenali ciri dan cara menulis yang baik di Kumparan!
Opini atau Cerita Harus Menarik dan Sesuai
Pembaca tertarik dengan artikel yang dibuat. Foto: Freepik
Di balik setiap artikel yang lolos kurasi, selalu ada satu ciri mendasar: ia relevan dengan kanal yang dituju dan memiliki cerita yang membuat pembaca mau bertahan. Banyak naskah ditolak bukan karena idenya tidak bagus, tetapi karena bentuknya tidak cocok dengan rumahnya.
Dalam konteks media digital Indonesia, tren inovasi memberi bobot besar pada storytelling dan keterlibatan emosi pembaca semakin nyata. Misalnya, pada Indonesia Digital Conference (IDC) 2024, para ahli media menekankan bahwa model berita tradisional saja tidak cukup. Wenseslaus Manggut, Chief Content Officer Kapanlagi Youniverse, menyatakan:
ā€œPendekatan storytelling dalam pemberitaan bisa memengaruhi bisnis media. Kisah yang menarik tidak hanya mudah dimengerti oleh pembaca, tetapi juga menyisipkan pesan yang mendalam ke ingatan pembaca.ā€
Perhatikan EYD dan Kurangi Salah Ketik
Banyak artikel sebenarnya sudah punya ide bagus, tetapi akhirnya ditolak hanya karena masalah teknis yang sepele: ejaan berantakan, huruf kapital salah tempat, atau tanda baca yang kacau. Editor tentu ingin memuat tulisan yang enak dibaca, jadi kesalahan-kesalahan kecil seperti itu bisa membuat naskah terlihat kurang siap.
Salah satu alasan sederhana tetapi sering membuat artikel terpental dari meja editor adalah kesalahan dasar dalam penulisan. Penelitian Dwi Alifah Putri, Roma Kyo Saniro, dan rekan-rekan (2024) dari Universitas Galuh menemukan bahwa,
ā€œMasih terdapat banyak kesalahan dalam penggunaan ejaan, tanda baca, gaya bahasa, dan huruf kapital yang tidak sesuai dengan PUEBI.ā€
Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan ejaan bukan sekadar urusan teknis. Ketika penulisan tidak rapi, pembaca—termasuk editor—bisa salah menangkap maksud penulis.
Artikel Tidak Boleh Bertele-tele
Salah satu kesalahan yang sering dilakukan penulis adalah terlalu banyak mengulur-ulur informasi penting. Padahal, pembaca media digital cenderung ingin langsung tahu inti pembahasan dalam beberapa detik pertama. Jika paragraf pembuka terlalu panjang, berputar-putar, atau dipenuhi kalimat tidak perlu, editor akan menilai tulisan itu ā€œtidak efisienā€ dan akhirnya melewatinya.
Dalam pola konsumsi berita digital terbaru, waktu rata-rata pembaca bertahan pada satu konten hanya sekitar 8–12 detik. Itu artinya, setiap kalimat harus bekerja: membawa informasi baru, memberi konteks, atau memajukan argumen. Jika terlalu banyak ā€œhiasanā€ tanpa substansi, artikel malah kehilangan daya tariknya.
Foto yang Melanggar Hak Cipta
Ilustrasi bahwa foto harus bebas dari pelanggaran hak cipta. Foto: Freepik
Terkadang orang asal mengambil foto dalam penulisan artikel agar lebih menarik. Memang kalau hanya narasi saja, tulisan bisa terasa kering. Namun, soal gambar bukan sekadar soal estetika—ada etika dan hukum yang ikut bermain. Banyak penulis pemula tidak sadar bahwa satu foto yang ā€œkelihatan biasa sajaā€ bisa saja memiliki pemilik, lisensi, atau batasan penggunaan tertentu.
Kumparan (2024) sendiri sudah mengingatkan, ā€œUnggah foto yang orisinal atau hasil jepretan sendiri. Jika tidak punya, kamu bisa mengunduhnya dari sumber-sumber gratis.ā€
Menggunakan foto legal—baik hasil jepretan sendiri, stok bebas royalti, maupun gambar berlisensi Creative Commons—tidak hanya menghindarkan dari risiko pelanggaran, tetapi juga menunjukkan bahwa penulis menghargai proses kreatif orang lain. Pada akhirnya, tulisan yang rapi secara visual dan etis memberikan kesan lebih profesional dan meningkatkan peluang artikel diterima.
Menulis Itu Seni, Tapi Lolos Kurasi Itu Strategi
Pada akhirnya, ditolak editor bukan berarti tulisan itu buruk—mungkin hanya belum memenuhi standar yang dibutuhkan media profesional.
Kumparan mencari artikel yang rapi, berbasis data, mengalir, dan relevan dengan cara pembaca digital menghabiskan waktu mereka. Mulai dari ketepatan EYD, kekuatan argumen, pilihan foto, sampai efisiensi kalimat, semuanya berperan dalam menentukan apakah sebuah tulisan layak naik tayang atau harus kembali diperbaiki.
Kabar baiknya, semua itu bisa dipelajari. Menulis bukan soal bakat semata, tetapi keterampilan yang terus diasah. Karena pada akhirnya, dalam dunia kepenulisan, yang bertahan bukan yang tidak pernah ditolak—tetapi yang terus mengirimkan tulisan baru.
"Jika artikel ini ditolak oleh Kumparan, maka benar apa adanya yang saya kemukakan.ā€ ~ Raditya Rafi Akbar
Artikel ini ditulis oleh Raditya Rafi Akbar mahasiswa sosiologi Universitas Airlangga tahun 2025 yang mencoba mengetahui sistem penerimaan artikel pada Kumparan.
Daftar Pustaka
Indonesia Digital Conference (IDC). (2024). Diskusi panel ā€œMasa Depan Media Digital dan Storytellingā€. Jakarta: Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI).
Putri, D. A., Saniro, R. K., dkk. (2024). Analisis Kesalahan Penggunaan EYD pada Deskripsi Posting Instagram. Jurnal Diksatrasia, Universitas Galuh.
Kumparan. (2024). Cara Membuat Artikel di Kumparan dan Panduan Penulisannya. Kumparan Editorial.
Trending Now