Konten dari Pengguna

Ketika Mimpi Sadar Disalahartikan: Menyingkap Pseudoscience di Balik Lucid Dream

Muhammad Ragil Ridhani
Muhammad Ragil Ridhani Mahasiswa S1 Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya
2 Desember 2025 8:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ketika Mimpi Sadar Disalahartikan: Menyingkap Pseudoscience di Balik Lucid Dream
Artikel ini mengulas fenomena Lucid Dream (mimpi sadar) melalui pendekatan ilmiah (neuropsikologi) untuk melawan narasi pseudoscience yang beredar. Penulis menjelaskan bah
Muhammad Ragil Ridhani
Tulisan dari Muhammad Ragil Ridhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi lucid dream (sumber: pikisuperstar on Freepik)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lucid dream (sumber: pikisuperstar on Freepik)
Pernahkah Anda merasa sadar sedang bermimpi, dan semuanya terasa begitu nyata sekaligus aneh, seolah Anda benar-benar menjadi bagian dari mimpi itu? Fenomena tersebut dikenal sebagai lucid dream, atau mimpi sadar. Fenomena ini pertama kali diperkenalkan oleh sinolog Prancis, Léon d’Hervey de Saint-Denys (1867), dan psikiater Belanda, Frederik Willem van Eeden (1913). Lucid dream merupakan kondisi ketika seseorang bermimpi sambil menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam mimpi secara riil, bahkan memungkinkan mereka untuk memengaruhi jalannya mimpi. Meskipun terdengar mistis bagi sebagian orang, fenomena ini adalah kondisi natural dari siklus tidur manusia dan dapat dijelaskan secara ilmiah. Namun, popularitasnya sering kali dibarengi dengan mitos, miskonsepsi, dan pseudoscience yang menyesatkan.

Lucid Dream dalam Perspektif Neuropsikologis

Secara neuropsikologis, lucid dream adalah keadaan kesadaran yang unik. Berbeda dengan mimpi biasa di mana kita kehilangan kesadaran diri, lucid dream melibatkan pengaktifan kembali area otak tertentu saat tidur REM (Rapid Eye Movement). Studi neuroimaging menunjukkan adanya aktivasi pada korteks prefrontal dorsolateral dan korteks frontopolar selama lucid dream. Area-area berkaitan dengan fungsi metakognitif dan pemrosesan referensi diri yang biasanya tidak aktif selama tidur REM biasa (Oldoni et al., 2024). Selain itu, berdasarkan penelitian Herrero et al. (2025), meskipun lucid dream terjadi selama fase tidur REM, pola aktivitas otaknya menunjukkan ciri khas kondisi terjaga (wakefulness), terutama aktivitas peningkatan gelombang otak beta dan gamma di area frontal-parietal. Hal ini membuktikan bahwa lucid dream merupakan fenomena neurobiologis, dan tidak memerlukan penjelasan supranatural.

Manfaat dan Potensi dari Lucid Dream

Lucid dream bukan hanya fenomena tidur, tetapi memiliki manfaat potensial yang signifikan. Berikut adalah beberapa manfaat dari lucid dream:

Miskonsepsi Lucid Dream sebagai Pseudoscience

Meskipun lucid dream merupakan fenomena neurobiologis yang nyata, hal ini sering disertai dengan klaim pseudoscience yang tidak berdasar. Terdapat tiga miskonsepsi utama terkait hal ini:
Lucid Dream Dapat Membuka Portal ke Dunia Lain
Fenomena lucid dream di media soial sering dikaitkan dengan cara masuk ke “portal dunia isekai” atau portal menuju dimensi lain. Namun, anggapan tersebut hanyalah bersifat metaforis karena lucid dream tidak secara harfiah dapat membawa seseorang pergi ke dunia lain. Pada kenyataannya, lucid dream hanya memungkinkan Anda untuk sadar dan “menciptakan” dunia isekai di dalam mimpi. Selama proses lucid dream, Anda dapat menciptakan, mengendalikan alur cerita, dan berinteraksi seolah-olah pengalaman nyata.
Terjebak di Dalam Mimpi
Ketakutan akan “terjebak” selamanya dalam mimpi sering muncul karena banyak orang salah memahami lucid dream dan mencampurkannya dengan fenomena lain seperti sleep paralysis dan false awakening. Padahal, ketiganya memiliki mekanisme neurologis yang berbeda, sleep paralysis terjadi ketika otak setengah sadar tetapi tubuh masih berada dalam atonia REM, sedangkan false awakening adalah mimpi tentang bangun tidur yang terasa sangat nyata. Kebingungan inilah yang memunculkan anggapan bahwa lucid dream berbahaya atau dapat mengunci seseorang dalam mimpi. Faktanya, dalam proses lucid dream, Anda sadar sedang bermimpi, sehingga dapat mengendalikan, menahan, bahkan memaksa diri Anda untuk terbangun.
Berinteraksi dengan Entitas Asing atau Orang Mati
Di media sosial muncul berbagai narasi yang mengklaim lucid dream sebagai jembatan untuk berkomunikasi dan bertemu dengan roh, entitas asing, atau orang yang telah meninggal. Namun secara neurobiologis, figur-figur tersebut hanyalah hasil gabungan dari memori, keinginan, ketakutan, dan imajinasi yang diproses otak selama fase REM. Aktivitas kognitif yang lebih tinggi membuat pengalaman tersebut terasa sangat nyata sehingga banyak individu sulit membedakan antara representasi mimpi dan kenyataan, bahkan mengalami sensasi emosional yang mendalam

Alasan Klaim Pseudoscience tentang Lucid Dream Mudah Menyebar

Pada dasarnya mitos, miskonsepsi, dan klaim pseudoscience terhadap lucid dream dapat menyebar luas di media sosial dan masyarakat, karena narasi metaforis yang dibesar-besarkan sehingga membentuk persepsi keliru tentang fenomena ini. Selain itu, individu yang mengalami lucid dream dapat kesulitan membedakan antara representasi mimpi dan realitas akibat adanya "kekaburan batas" (blurring boundaries) pada praktisi lucid dream yang berpotensi memunculkan sensasi derealisasi. Sensasi realisme yang tinggi ini membuat pengalaman dalam lucid dream mudah direpresentasikan sebagai sesuatu yang bersifat supranatural.

Kesimpulan

Lucid dream adalah fenomena neurobiologis yang terjadi dalam tidur REM dan didukung dengan aktivasi daerah otak terkait kesadaran diri. Namun, fenomena ini sering kali disalahartikan sebagai pengalaman supranatural, sehingga memunculkan berbagai bentuk pseudoscience. Narasi di media sosial turut memperkuat mitos seperti portal dimensi lain, terjebak dalam mimpi, atau bertemu entitas asing. Realitas tinggi dalam lucid dream membuat beberapa individu keliru membedakan antara mimpi dan kenyataan, sehingga klaim pseudoscience tentang itu mudah diterima.
Trending Now