Konten dari Pengguna

Math Anxiety: Alasan Banyak Siswa Indonesia Tidak Bisa Matematika

Noor Rahmadani
Psikologi, Universitas Brawijaya
5 Desember 2025 8:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Math Anxiety: Alasan Banyak Siswa Indonesia Tidak Bisa Matematika
Bukan karena tidak pintar—banyak anak sulit matematika karena stres dan kecemasan yang melemahkan memori kerja. Kenali penyebabnya dan cara mengatasinya! #userstory
Noor Rahmadani
Tulisan dari Noor Rahmadani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Siswa SDN 2 Bocek sedang belajar matematika bersama mahasiswa UB
zoom-in-whitePerbesar
Siswa SDN 2 Bocek sedang belajar matematika bersama mahasiswa UB
Apa yang terlintas di benak kalian saat mendengar kata matematika?
Banyak yang berpikir bahwa matematika merupakan tantangan terberat bagi para siswa. Saat belajar, tidak sedikit siswa yang menunjukkan penolakan sejak awal karena menganggap matematika itu sulit, menekan, bahkan memicu stres.
Sikap dan pemikiran negatif inilah yang mungkin menjadi alasan seseorang kesulitan memahami matematika. Namun, apa kaitan penolakan tersebut dengan hasil pemahaman siswa?

Kaitan antara Stres, Emosi, dan Memori

Penelitian dalam bidang neurokognitif menyatakan bahwa stres dan emosi negatif dapat memengaruhi kinerja memori dan working memory (memori kerja). Memori kerja adalah sistem otak yang menyimpan dan memproses informasi, sementara untuk menjalankan tugas kognitif, seperti pemahaman, penalaran, dan pemecahan masalah (Baddeley, 1992). Sistem ini berperan penting dalam pembelajaran matematika.
Dalam konteks belajar, ketika siswa merasa cemas atau takut, beban emosional tersebut dapat “mengambil” sebagian kapasitas memori kerja mereka. Akibatnya, kapasitas yang tersisa untuk berpikir, menalar, dan memproses konsep matematika menjadi jauh lebih sedikit.
Ilustrasi Anak Belajar Matematika. Foto: Shutterstock
Faktanya, studi Van Der Ven et al. (2023) menunjukkan bahwa ketika tugas matematika memicu kecemasan (math anxiety), performa siswa dalam menyelesaikan soal menurun, meskipun secara intelektual mereka sebenarnya mampu.
Selain itu, stres kronis atau tekanan emosional jangka panjang dapat memengaruhi area penting otak, seperti hipokampus dan korteks prefrontal, yang berperan dalam pembentukan memori jangka panjang dan kemampuan berpikir.
Dengan demikian, jika siswa terus-menerus menganggap matematika sebagai sesuatu yang menakutkan, menekan, atau membuat stres, proses pembelajaran dapat terganggu secara neurokognitif.

Math Anxiety

Fenomena math anxiety (kecemasan terhadap matematika) bukan hanya disebabkan oleh kurangnya minat atau ketidaksukaan semata, melainkan secara ilmiah berdampak negatif pada pemahaman konsep dan kemampuan pemecahan masalah matematika.
Ilustrasi Matematika. Foto: Rawpixel.com/Shutterstock
Menurut model kognitif-emosional integratif, ketika siswa mengalami math anxiety, beban pada memori kerja meningkat—bukan karena soal matematika terlalu sulit, melainkan karena otak harus memproses rasa cemas terlebih dahulu.
Hasilnya, meskipun potensi matematika siswa sebenarnya tinggi, kemampuan tersebut tidak dapat dimanfaatkan karena “diambil alih” oleh emosi negatif. Lebih jauh lagi, stres yang tinggi dapat mengganggu memori jangka panjang.

Mengapa Banyak Siswa Mengalami “Math Anxiety”?

Mengapa kondisi ini sangat sering terjadi pada siswa di Indonesia? Ada beberapa faktor pemicunya.
1. Budaya “yang penting hasil”
Banyak sekolah dan orang tua hanya memerhatikan nilai, bukan proses. Akibatnya, siswa merasa tertekan untuk cepat menguasai matematika. Tekanan ini memunculkan kecemasan.
2. Stigma bahwa salah berarti bodoh
Kesalahan saat belajar matematika sering dianggap sebagai kegagalan berpikir, bukan bagian dari proses belajar. Hal ini membuat siswa takut gagal dan enggan mencoba, sehingga memicu siswa untuk menghindari matematika.
3. Kurangnya pendekatan emosional dalam pembelajaran
Metode pengajaran matematika sering bersifat mekanis dan hanya berfokus pada aspek kognitif, tanpa memperhatikan kondisi emosional siswa. Padahal, pemahaman mendalam membutuhkan perpaduan antara kognisi, emosi, dan pengalaman belajar yang nyaman.
Akibat faktor-faktor tersebut, banyak siswa tumbuh dengan persepsi bahwa matematika adalah beban, sulit, dan menekan. Lama-kelamaan, matematika menjadi beban psikologis, bukan lagi proses memperoleh pemahaman baru.

Apa Solusinya?

Ilustrasi pendidikan Foto: kumparan
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, guru, orang tua, dan sistem pendidikan di Indonesia perlu memperhatikan aspek emosional dan psikologis dalam proses pembelajaran matematika. Beberapa solusi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
1. Menciptakan budaya yang menghargai proses
Siswa perlu diajarkan bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Keberhasilan bukan hanya dinilai dari jawaban yang benar, melainkan dari usaha, pemahaman konsep, dan perkembangan kognitif.
2. Menciptakan lingkungan belajar yang aman secara emosional
Lingkungan belajar sebaiknya bebas tekanan berlebihan terkait nilai atau ejekan atas kesalahan. Guru dan orang tua dapat memberikan dukungan, penghargaan atas usaha, dan suasana yang nyaman ketika belajar matematika.
3. Menerapkan regulasi emosi dalam pembelajaran
Regulasi emosi dapat dilakukan melalui latihan mindfulness sederhana, olahraga ringan sebelum pelajaran berat, atau memberikan jeda ketika siswa tampak stres. Hal ini penting untuk menjaga memori kerja tetap optimal.
Dengan langkah-langkah tersebut, matematika secara perlahan dapat berubah dari sesuatu yang menakutkan menjadi tantangan yang layak dicoba—bahkan menyenangkan—sehingga potensi dan pemahaman siswa berkembang secara maksimal.

Kesimpulan

Kesulitan siswa Indonesia dalam memahami matematika bukan semata-mata karena kurang pintar, melainkan karena persepsi negatif yang memicu stres dan kecemasan. Emosi negatif dapat mengganggu memori kerja dan memori jangka panjang, dua aspek penting dalam belajar matematika.
Oleh karena itu, peningkatan kemampuan matematika harus dimulai dari upaya membangun lingkungan belajar yang suportif: mengurangi tekanan, menghargai proses, dan menciptakan ruang belajar yang aman secara emosional. Jika solusi tersebut diterapkan dengan baik, pembelajaran matematika dapat menjadi lebih mudah, efektif, dan menyenangkan.
Trending Now