Konten dari Pengguna
Healing Seru Keluarga Kecilku di Ibu Kota Kepulauan Riau, Tanjungpinang
11 Februari 2023 14:24 WIB
·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Healing Seru Keluarga Kecilku di Ibu Kota Kepulauan Riau, Tanjungpinang
Dari tulisan saya ini menceritakan tentang perjalanan singkat dengan penuh rasa yang menyenangkan hati. #userstoryRahmi
Tulisan dari Rahmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Halo, semua! Sebelum saya menceritakan perjalanan healing ke Ibu Kota Tanjungpinang. Kita harus tau dulu apa itu healing ya. Ternyata healing dan refreshing itu berbeda. Karena sebagian orang salah mengartikan.
Saya akan menjelaskan sedikit apa itu perbedaan healing dan refreshing. Yang selama ini ada kekeliruan dalam menyebutkan kata healing. Healing yang selama ini kamu sebut dengan mencari kesenangan saat ada ketidaknyamanan ternyata bukan arti kata healing yang sesungguhnya. Apalagi jika ternyata itu menjadi alasan untuk bisa membuatmu lepas dari tanggungjawab yang tidak ingin kamu selesaikan.
Refreshing tidak keliru, karena refreshing adalah proses penyegaran kembali kondisi fisik dan mental yang bisa dilakukan setiap hari dengan cara yang sederhana. Namun tentunya, tidak lari dari tanggungjawab.
Refreshing sifatnya sementara, hanya untuk membuatmu merasa segar, namun sejatinya tidak menyelesaikan masalah. Masalahmu tidak akan selesai hanya dengan refreshing, tapi kamu butuh healing dengan artian yang sebenarnya.
Healing bukanlah sebuah kondisi di mana kamu akhirnya tidak lagi merasakan sedih, takut, kecewa, marah, dan lainnya. Melainkan sebuah kondisi di mana akhirnya kamu mampu untuk bisa memahami dan merasa aman saat perasaan tersebut hadir kembali.
Ketidaknyamanan adalah sebuah kondisi yang tidak bisa kamu hindari, kamu harus bisa hidup berdampingan dengan ketidaknyamanan. Bukan melawan atau berusaha lari darinya. Terus menerus ingin merasa nyaman dan kurang mampu menghadapi ketidaknyamanan, sebenarnya juga kondisi yang perlu diselesaikan dengan cara healing yang tepat, yaitu bisa dengan bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.
Jadi dari penjelasan tentang perbedaan tersebut. Dapat disimpulkan healing atau refreshing punya arti yang berbeda.
Pada tulisan ini saya akan menceritakan pengalaman healing dengan cara traveling bersama keluarga kecil saya yang beranggotakan Suami, saya sendiri, 2 orang anak laki-laki, ke Ibu Kota Kepulauan Riau yakni Tanjung Pinang sewaktu liburan semester tepatnya 25 Juni 2022.
Kami menggunakan transportasi pesawat terbang. Berangkat pukul 09.00 WIB dari Pekanbaru menuju Batam dan tiba di Batam pukul : 10.00 WIB. Dari bandara kami harus ke Pelabuhan Telaga Punggur menggunakan transportasi taksi di dengan ongkos Rp 100.000 dengan jarak tempuh 19 Menit.
Dan tibalah kami di pelabuhan tapi sayang nya ketinggalan kapal feri yang berangkat di pukul 12.30 WIB. Tapi untungnya kapal feri berikutnya tidak menunggu waktu yang begitu lama. Kami hanya menunggu satu jam saja.
Di Pelabuhan Telaga Punggur tempatnya bersih, nyaman, fasilitas lengkap, dan pemandangan juga bagus. Sambil menunggu kami istirahat, salat, dan makan siang di pelabuhan telaga punggur. Tetapi untuk harga makan masakan Padang di pelabuhan tersebut terbilang mahal, untuk 1 orang Rp 35.000 ribu, tambah nasi Rp 15.000.
Awalnya saya kaget karena tidak pernah makan di pelabuhan tersebut. Setelah makan kami membeli Tiket kapal Ferry Rp 65.000 per orang, berselang beberapa menit kami pun bersiap-siap untuk memasuki kapal Feri untuk berangkat ke Tanjung Pinang dengan jarak tempuh sekitar 60 menit.
Alhamdulillah, dengan perjalanan panjang akhirnya kami sampai di Kota Tanjung Pinang dengan selamat. Di pelabuhan Tanjung pinang kami harus menggunakan transportasi Maxim untuk sampai ke rumah Mertua saya. Kenapa saya tidak dijemput keluarga saja ke pelabuhan?. Ya jawabannya karena kami sengaja tidak memberi tau orang tua karena ingin memberikan kejutan di hari ulang tahun ibu mertuaku.
Sampailah saya dan keluarga kecil di rumah. Tetapi Bapak dan Ibu kebetulan lagi keluar. Dan kami bersembunyi di kamar. Berselang beberapa menit Bapak dan Ibu sampai dirumah. Kami pun memberikan kejutan dengan memberikan kue ultah ke ibu. Timbulkan suasana sedih, senang di saat itu.
Lanjut di hari berikutnya kami pergi ke Vihara yang unik bernama Ksitigarbha Bodhisatvva. Vihara ini adalah tempat ibadah yang sangat megah dan juga unik karena memiliki seribu patung dengan wajah yang berbeda-beda, cocok untuk wisatawan religi atau sejarah. Dari Vihara kamu melanjutkan perjalanan ke pulau penyengat yang menempuh perjalanan sekitar 15 menit.
Yuk kita perlu tau juga sejarah pulau penyengat. Menurut masyarakat lokal, Penyengat berasal dari kisah seorang pelaut yang disengat lebah pada saat mengambil air di pulau ini sehingga disebutlah Pulau Penyengat. Di Pulau Penyengat, terdapat sebuah masjid dengan kisah yang unik.
Masjid ini merupakan Masjid Raya Sultan Riau. Konon katanya, salah satu bahan pembuat masjid ini adalah putih telur. Dengan warna kuning dan hijau yang dominan, penampakan Masjid Raya Sultan Riau tampak lebih menonjol dibandingkan dengan bangunan lain di sekelilingnya. Warna kuning melambangkan kesejahteraan, sedangkan warna hijau merupakan simbol agama.
Dahulu, masjid ini terbuat dari papan kayu. Namun di tahun 1832, Yang Dipertuan Muda VII Raja Abdurrahman mengumumkan akan membangun masjid tersebut. Masyarakat pun sontak bergotong royong untuk membangun masjid ini.
Ada yang menyumbang tenaga, ada pula yang menyuplai logistik, termasuk telur ayam yang jumlahnya bisa sampai berkapal-kapal. Karena takut mubazir tidak termakan, akhirnya telur ini dipakai untuk bahan perekat bangunan.
"Masjid ini adalah masjid kubah beton cor pertama di Indonesia. Dulu, banyak pekerja dari India membantu pembangunan masjid. Banyak yang menyumbang telur sampai berkapal-kapal, daripada tidak kemakan, putih telur dibuat sebagai perekat bangunan, Bangunan utama masjid berukuran 18 x 20 meter.
Kubahnya berjumlah 13 buah yang berbentuk seperti bawang. JIka ditambah dengan jumlah menara, total ada 17 buah menara dan kubah di masjid ini. Angka tersebut melambangkan jumlah rakaat salat selama sehari semalam.
Di hari berikutnya saya dan keluarga besar pergi Pantai Trikora yang terletak di Kepulauan Riau ini tepatnya terletak di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Pulau Bintan. Dengan menempuh perjalanan 2 jam.
Sebelum tiba di pantai Trikora, dalam perjalanan juga akan menikmati keindahan pemandangan, seperti perkampungan nelayan yang berjejer rapi, kawasan mangrove, resort-resort, pantai-pantai. Karena pantai Trikora termasuk pantai yang panjang dan indah di Kepulauan Riau.
Selain itu, ketika melewati daerah Kawal pengunjung akan menjumpai sejumlah pedagang otak-otak dan tape yang dibungkus dengan daun pandang yang membuat aroma tape menjadi khas dan menggugah selera. Sudah menjadi makanan tradisional otak-otak di Pulau Bintan disini bahan menggunakan ikan atau sotong.
Memasuki daerah Desa Teluk Bakau, pengunjung juga akan menikmati barisan pohon kelapa dan pohon pinus. Tentunya tiba di pantai Trikora jangan lupa untuk mencicipi segar air kelapa muda yang manis.
Di akhir perjalanan kami di Kepulauan Riau ini. Tepatnya pada malam hari. Sebelum paginya sudah berangkat lagi ke Pekanbaru. Kami menikmati ramainya kota Tanjung Pinang di gedung gonggong, dan di sana banyak orang berjualan, menyediakan permainan anak, seperti mobil-mobilan remot.
Dari perjalanan ini saya merasa kepuasan untuk diri sendiri ketika disaat bekerja merasa lelah, capek dan dengan peran saya sebagai seorang ibu yang memiliki 2 orang anak laki-laki dengan jarak yang dekat.
Dari tulisan ini belum semuanya yang dapat saya tuliskan. Semoga cerita perjalanan saya bermanfaat untuk pembaca dan menjadi referensi kalian yang sedang mencari tempat wisata di Kepulauan Riau. Demikian cerita healing saya di tulisan ini. Mohon maaf bila ada kata yang sulit dimengerti untuk pembaca. Salam healing dari kami.

