Konten dari Pengguna

Jastip: Jalan Ninja Anak Muda Cari Cuan dari Hobi Traveling

Rajiv Fadel
Mahasiswa aktif Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
19 Juni 2025 21:52 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Jastip: Jalan Ninja Anak Muda Cari Cuan dari Hobi Traveling
Jasa titip (jastip) jadi bisnis yang digemari anak muda. Modal kecil, peluang besar. Tapi jangan salah, tetap butuh strategi dan kejujuran.
Rajiv Fadel
Tulisan dari Rajiv Fadel tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
โ€œEh, titip dong! Di sana kan lebih murah.โ€
Kalimat ini mungkin terdengar sepele. Tapi buat sebagian anak muda, ini justru awal mula peluang bisnis. Dari yang awalnya sekadar nitip teman beli lipstik di Korea atau sepatu di Singapura, lama-lama berkembang jadi bisnis serius. Ya, inilah yang dikenal sebagai jastip, atau jasa titip.
Ilustrasi jasa titip (Sumber: https://freepik.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi jasa titip (Sumber: https://freepik.com)
Bukan Sekadar Titipan, Tapi Ladang Cuan
Tren jastip makin ramai beberapa tahun terakhir, terutama setelah pembatasan pandemi mereda. Orang-orang mulai melancong lagi. Tapi yang nggak sempat ikut jalan-jalan tetap bisa ikut belanja lewat para pelaku jastip.
Cara kerjanya simpel. Si pelaku jastip mengumumkan lewat Instagram atau TikTok bahwa mereka akan bepergian, lengkap dengan tanggal dan kota tujuan. Lalu, mereka menawarkan siapa saja yang mau nitip barang dari tempat tersebut. Pembeli tinggal transfer, dan barang akan dibawakan pulang dengan fee tertentu. Biasanya dihitung per item atau persentase dari harga barang.
Yang menarik, modal awalnya nyaris nol. Tidak perlu stok barang. Tidak perlu sewa toko. Hanya butuh smartphone, koneksi internet, dan kepercayaan dari pelanggan.
Ilustrasi packing barang jasa titip (Sumber: https://freepik.com)
Jastip = Gaya Hidup Baru Anak Muda
Bagi banyak anak muda, jastip bukan cuma cara cari uang. Ini juga bagian dari gaya hidup: traveling sambil kerja, belanja sambil cuan, dan berbagi rekomendasi barang yang sedang tren.
Generasi Z, yang akrab dengan media sosial dan tahu cara membangun personal branding, jadi pemain utama di bisnis ini. Mereka pintar membuat konten, entah itu video unboxing, review barang, sampai live belanja dari lokasi. Hasilnya? Follower naik, pesanan bertambah, dan loyal customer terbentuk.
Beberapa bahkan menjadikan jastip sebagai batu loncatan untuk membuka toko online sendiri, lengkap dengan branding dan sistem pre-order.
Tapi, Nggak Semua Manis
Meski terlihat mudah, jastip juga punya tantangan. Mulai dari batasan bagasi, resiko barang rusak, sampai urusan bea cukai kalau barang bawaan dianggap komersial. Belum lagi kalau pembeli tiba-tiba batalin pesanan pas barang sudah dibeli.
Itu sebabnya, kejelasan aturan jadi penting. Para pelaku jastip profesional biasanya sudah punya SOP sendiri, seperti batas waktu pembayaran, sistem refund, dan estimasi pengiriman.
Kalau omzet sudah lumayan besar, ada baiknya mulai pikirkan aspek legalitas. Misalnya, mendaftarkan bisnis, punya rekening khusus usaha, dan pelaporan pajak. Tujuannya bukan cuma biar โ€œamanโ€, tapi juga agar bisnis makin dipercaya.
Jastip Bisa Jadi Awal yang Besar
Kita hidup di zaman di mana peluang bisa datang dari mana saja termasuk dari satu kalimat sederhana: โ€œTitip dong.โ€
Selama kita peka melihat peluang, punya komunikasi yang baik, dan konsisten menjaga kepercayaan, bisnis sekecil jastip bisa tumbuh jadi besar. Bahkan, bisa jadi awal dari brand milik sendiri.
Jadi, buat kamu yang suka jalan-jalan, suka belanja, dan ingin memulai bisnis tanpa modal besar mungkin inilah โ€œjalan ninjaโ€-mu.
Trending Now