Konten dari Pengguna
Generasi Muda, Generasi Food Waste?
27 Oktober 2025 14:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Generasi Muda, Generasi Food Waste?
Fenomena meningkatnya food waste di kalangan generasi muda diakibatkan oleh budaya konsumsi cepat, tren media sosial, dan kurangnya literasi pengelolaan makanan. #userstoryRandi Syafutra
Tulisan dari Randi Syafutra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Generasi muda tumbuh di tengah era digital yang serba cepat dan serba mudah. Hidup mereka dibentuk oleh kemudahan akses dan pilihan tanpa batas. Segala sesuatu bisa dipesan dalam hitungan detik, dari kopi pagi hingga makan malam. Namun di balik kemudahan itu, muncul ironi besar. Generasi yang paling sering berbicara tentang kepedulian lingkungan justru menyumbang limbah makanan terbanyak. Di antara unggahan tentang gaya hidup hijau, terselip tumpukan sisa makanan yang berakhir di tempat sampah tanpa rasa bersalah.
![Masalah sampah makanan dapat dikurangi dengan mengompos sisa makanan dan menerapkan gaya hidup konsumsi yang lebih bertanggung jawab @ 2021 VectorMine [https://www.shutterstock.com/id/image-vector/food-waste-problem-garbage-composting-meal-2011886654].](https://blue.kumparan.com/image/upload/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,f_auto,q_auto:best,w_640/v1634025439/01k84zy5fxfmg9bebxm5ghzpkh.png)
Laporan dari UNEP menunjukkan bahwa setiap orang di dunia rata-rata membuang sekitar 121 kilogram makanan per tahun dan sebagian besar berasal dari rumah tangga. Di Indonesia, persoalan ini semakin menonjol. Sekitar 40,3% sampah nasional adalah sisa makanan, dengan 80% bersumber dari dapur rumah. Potensi ekonomi yang hilang karena makanan terbuang mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun. Angka itu menunjukkan betapa seriusnya masalah ini dan betapa mudahnya makanan kehilangan nilai di mata masyarakat modern.
Gaya hidup generasi muda—terutama milenial dan Gen Z—punya peran besar dalam fenomena ini. Mereka hidup di tengah derasnya arus promosi dan tren konsumsi cepat. Diskon, voucher, dan konten kuliner viral menggoda mereka untuk membeli lebih dari yang dibutuhkan.
Rasa ingin mencoba sering mengalahkan logika. Makanan dipesan karena tampak menarik di layar, bukan karena lapar. Begitu rasa penasaran terjawab, sisanya dibiarkan. Piring yang tidak habis menjadi pemandangan biasa. Dalam banyak kasus, kepuasan visual lebih penting daripada menghargai makanan itu sendiri.
Media sosial ikut memperkuat perilaku konsumtif. Makanan kini sering diperlakukan sebagai konten, bukan kebutuhan. Banyak orang membeli menu unik atau minuman trendi hanya untuk diabadikan dalam foto. Setelah tampil di linimasa, makanan itu kehilangan daya tarik. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana makanan berubah menjadi simbol gaya hidup, bukan sumber kehidupan yang patut dihormati. Dalam situasi seperti ini, makna sederhana tentang rasa syukur perlahan memudar.
Kurangnya literasi pengelolaan makanan juga memperburuk keadaan. Banyak anak muda tidak terbiasa merencanakan kebutuhan pangan harian. Lemari es sering penuh dengan bahan yang akhirnya busuk karena lupa dipakai. Pengetahuan tentang cara menyimpan, mengolah, dan memanfaatkan bahan sisa belum menjadi kebiasaan umum. Padahal, langkah sederhana seperti memperkirakan porsi makan atau mengolah sisanya menjadi menu baru bisa menekan jumlah limbah makanan secara signifikan.
Generasi muda seharusnya menjadi kelompok paling siap untuk berinovasi, tetapi justru sering terjebak dalam kenyamanan berlebihan.
Banyak penelitian menyatakan bahwa perilaku membuang makanan berkaitan erat dengan sikap dan kebiasaan sosial. Rasa tanggung jawab terhadap makanan masih lemah dan rasa malu saat membuang makanan belum menjadi norma.
Di negara lain, menghabiskan makanan dianggap sebagai bentuk sopan santun dan rasa hormat terhadap kerja keras orang lain. Nilai itu bisa dihidupkan kembali melalui edukasi sederhana, dimulai dari rumah, kantin, dan tempat makan umum. Perubahan tidak selalu membutuhkan kampanye besar, cukup dengan kebiasaan yang dilakukan secara konsisten.
Generasi muda memiliki potensi besar untuk membalik keadaan. Mereka kreatif, peka terhadap isu sosial, dan terhubung satu sama lain melalui dunia digital. Kampanye di media sosial dapat diarahkan untuk menumbuhkan rasa bangga pada tindakan kecil yang berdampak besar, seperti menghabiskan makanan atau berbagi ke sesama.
Tantangan seperti “No Food Waste Challenge” bisa menjadi tren positif yang menular. Komunitas kuliner juga dapat berperan dalam mengedukasi pengikutnya mengenai pentingnya konsumsi bertanggung jawab tanpa menggurui.
Beberapa universitas telah memulai langkah konkret. Program pengelolaan sisa makanan, pelatihan pengomposan, dan inisiatif dapur berkelanjutan mulai diterapkan. Mahasiswa diajak berperan aktif dalam menciptakan solusi, bukan sekadar menjadi penonton. Di tingkat keluarga, konsep meal planning perlu diperkenalkan agar anak muda terbiasa memperkirakan porsi dengan bijak.
Pemerintah pun dapat memperkuat upaya ini dengan menyediakan fasilitas pengolahan sampah organik dan mendorong kerja sama antara restoran, lembaga sosial, serta masyarakat.
Masalah food waste mencerminkan perubahan nilai dalam masyarakat modern. Ketika makanan mudah didapat, rasa menghargai berkurang. Setiap butir nasi yang terbuang sebenarnya membawa energi, air, dan tenaga manusia yang ikut hilang. Makanan tidak lahir dari ruang kosong. Ia melalui perjalanan panjang dari ladang hingga meja makan. Kesadaran tentang hal itu perlu dihidupkan kembali agar konsumsi menjadi lebih bijaksana.
Generasi muda memiliki kesempatan besar untuk memperbaiki keadaan. Label “generasi food waste” tidak harus menjadi identitas tetap. Dengan kreativitas dan kesadaran sosial yang dimiliki, mereka bisa membangun budaya baru yang menghormati pangan. Perubahan bisa dimulai dari langkah kecil: membeli secukupnya, menghabiskan yang sudah diambil, dan memperlakukan makanan dengan hormat.
Dunia tidak membutuhkan kata-kata besar, melainkan tindakan sederhana yang konsisten. Ketika piring kembali kosong karena rasa syukur—bukan karena tren—saat itulah generasi muda benar-benar menjadi agen perubahan yang sesungguhnya.

