Konten dari Pengguna
Krisis Satwa Liar dan Peringatan yang Terus Diabaikan
20 Desember 2025 23:21 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Krisis Satwa Liar dan Peringatan yang Terus Diabaikan
Tulisan tentang krisis satwa liar global dan Indonesia, menyoroti kepunahan spesies, lemahnya konservasi, serta peringatan 4 Desember yang kerap diabaikan tanpa aksi nyata.Randi Syafutra
Tulisan dari Randi Syafutra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Peringatan Hari Konservasi Satwa Liar Sedunia setiap 4 Desember kembali mengingatkan dunia tentang krisis yang semakin memburuk. Namun peringatan ini sering berlalu tanpa perubahan berarti, seolah hanya ritual tahunan yang tidak mengguncang kesadaran global. Sementara itu, laju kepunahan spesies terus meningkat dan habitat alam semakin menyusut. Indonesia, yang memegang status sebagai salah satu negara mega biodiversitas, berada di garis depan ancaman tersebut.
Hari Konservasi Satwa Liar Sedunia diresmikan pada tahun 2012 sebagai seruan global menghadapi maraknya perdagangan satwa liar dan meningkatnya kejahatan lingkungan. Peringatan ini berbeda dari Hari Satwa Liar Sedunia PBB yang jatuh pada tanggal 3 Maret. Momentum 4 Desember seharusnya menjadi pengingat bahwa krisis konservasi tidak lagi berada di titik peringatan, melainkan sudah menjadi kenyataan yang mendesak.

Laporan terbaru WWF melalui Living Planet Report 2024 menunjukkan penurunan populasi satwa liar global rata-rata 73 persen sejak 1970. Angka ini mencerminkan resesi biodiversitas terbesar dalam sejarah modern. Perubahan iklim menjadi pendorong yang semakin dominan, mempercepat degradasi habitat dan menggeser ekosistem lebih cepat dibanding kemampuan adaptasi satwa. Tiga spesies anjing laut Arktik (Cystophora cristata, Erignathus barbatus, dan Pagophilus groenlandicus) mengalami peningkatan risiko akibat hilangnya es laut yang menjadi ruang penting untuk berkembang biak. Lebih dari separuh spesies burung dunia juga mengalami penurunan populasi karena tekanan ekspansi pertanian dan penebangan liar.
Daftar Merah IUCN yang diperbarui pada Oktober 2025 menegaskan tren ini. Beberapa spesies dinyatakan Punah di Alam Liar/Extinct in the Wild (EW), termasuk tiga mamalia Australia (Perameles myosuros, Perameles notina, dan Perameles papillon) dan burung curlew berparuh ramping (Numenius tenuirostris). Situasi ini menegaskan bahwa sistem konservasi global tidak cukup kuat untuk menahan laju kerusakan lingkungan.
Di tengah kabar suram tersebut, terdapat sedikit harapan. Populasi penyu hijau (Chelonia mydas) global menunjukkan pemulihan setelah perlindungan selama beberapa dekade. Statusnya diturunkan menjadi Risiko Rendah/Least Concern (LC). Namun kabar positif seperti ini semakin jarang dan tidak mampu menutupi kenyataan bahwa mayoritas spesies sedang menghadapi masa depan yang tidak pasti.
Indonesia tidak terlepas dari tekanan tersebut. Negara ini menyimpan satwa-satwa kunci dunia yang berstatus Kritis. Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) hanya tersisa sekitar 87-100 ekor dan terjebak di habitat tunggal di Ujung Kulon. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) diperkirakan hanya tersisa sekitar 600 ekor di alam liar. Tiga spesies orangutan dari Sumatera (Pongo abelii), Kalimantan (Pongo pygmaeus), dan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) terus terdesak oleh deforestasi dan perdagangan satwa. Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) menghadapi fragmentasi habitat yang semakin parah akibat ekspansi perkebunan dan infrastruktur.
Ancaman terhadap satwa liar di Indonesia tidak hanya lahir dari kerusakan habitat. Perburuan liar, perdagangan ilegal, dan lemahnya penegakan hukum menambah beban konservasi. Banyak kasus perdagangan satwa dibongkar tetapi rantai aktor besar jarang tersentuh. Ini menciptakan ruang aman bagi kejahatan satwa liar untuk terus berkembang.
Peringatan 4 Desember seharusnya menjadi momen refleksi dan tindakan. Setiap individu dapat berperan, mulai dari edukasi tentang spesies lokal yang terancam, mendukung organisasi konservasi, hingga menjadi konsumen yang bertanggung jawab. Pelaporan terhadap kejahatan satwa liar juga menjadi langkah penting untuk menekan rantai perdagangan ilegal.
Namun tanggung jawab utama tetap berada pada negara melalui kebijakan yang konsisten dan penegakan hukum yang kuat. Pemerintah tidak cukup hanya menambah daftar peringatan atau membuat kampanye tahunan. Konservasi membutuhkan langkah nyata yang menyasar akar masalah, yaitu degradasi habitat, lemahnya perlindungan kawasan, dan ketergantungan ekonomi pada eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan.
Krisis satwa liar seharusnya menjadi alarm keras yang memaksa perubahan cara pandang terhadap pembangunan. Ekonomi tidak boleh berdiri di atas kehancuran ekosistem. Kepunahan spesies bukan sekadar kehilangan satwa, tetapi kehilangan keseimbangan ekologis yang menopang kehidupan manusia.
Peringatan 4 Desember hanya akan bermakna jika diikuti komitmen nyata. Dunia membutuhkan lebih dari sekadar seremoni. Dunia membutuhkan tindakan. Jika peringatan ini kembali diabaikan, maka generasi mendatang tidak hanya mewarisi planet yang miskin spesies, tetapi juga kehilangan bagian penting dari identitas ekologisnya.
REFERENSI
CBD. (2025). Indonesia - Country Profile. Convention on Biological Diversity (CBD). https://www.cbd.int/countries/profile?country=id
FFI. (2025). Sumatran Tiger: Indonesiaβs Last Tiger. Fauna & Flora International. https://www.fauna-flora.org/species/sumatran-tiger/
IPB University. (2025, Agustus 5). IPB University Conservationist: Javan Rhinos, Indonesiaβs Only Biodiversity in the World. Institut Pertanian Bogor (IPB) University. https://www.ipb.ac.id/news/index/2025/08/ipb-university-conservationist-javan-rhinos-indonesias-only-biodiversity-in-the-world/
IUCN. (2025, Oktober 10). Arctic Seals Threatened by Climate Change, Birds Decline Globally β IUCN Red List. IUCN Red List of Threatened Species (IUCN). https://iucn.org/press-release/202510/arctic-seals-threatened-climate-change-birds-decline-globally-iucn-red-list
Sandler, V. (2022, Desember 4). World Wildlife Conservation Day. International Aid for the Protection & Welfare of Animals (IAPWA). https://iapwa.org/world-wildlife-conservation-day/
Syafutra, R. (2025a, April 22). Rekor Suhu Panas Bumi dan Krisis Iklim yang Kian Nyata. Mongabay Indonesia. https://mongabay.co.id/2025/04/22/rekor-suhu-panas-bumi-dan-krisis-iklim-yang-kian-nyata/
Syafutra, R. (2025b, November 20). Ujian Serius Komitmen Iklim Indonesia. Detik. https://news.detik.com/kolom/d-8219989/ujian-serius-komitmen-iklim-indonesia
Syafutra, R. (2025c, November 28). Tesso Nilo dan Dilema Negara: Melindungi Satwa atau Warga?. Kompas. https://regional.kompas.com/read/2025/11/28/07073401/tesso-nilo-dan-dilema-negara-melindungi-satwa-atau-warga?page=all
WWF. (2024). Living Planet Report 2024 β A System in Peril. World Wildlife Fund (WWF). https://www.worldwildlife.org/documents/614/5gc2qerb1v_2024_living_planet_report_a_system_in_peril.pdf
WWF Indonesia. (2025). Orangutan. World Wildlife Fund (WWF) Indonesia. https://www.wwf.id/en/learn/forest-wildlife/orangutan

