Konten dari Pengguna
Panduan Budidaya Lele dengan Sistem Bioflok untuk Pemula
21 Juli 2025 13:48 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Panduan Budidaya Lele dengan Sistem Bioflok untuk Pemula
Pelajari panduan tahapan budidaya lele menggunakan sistem bioflok, yang meningkatkan produktivitas dan menjaga kualitas lingkungan.M Naufal Rauf Ibrahim
Tulisan dari M Naufal Rauf Ibrahim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sejarah Bioflok
Konsep bioflok pertama kali diperkenalkan pada tahun 1970-an oleh para peneliti yang tertarik pada pengelolaan limbah dalam budidaya perikanan. Mereka mengamati bahwa mikroorganisme dapat digunakan untuk mendekomposisi bahan organik dan mengubahnya menjadi sumber protein. Pada tahun 1990-an, sistem bioflok mulai dikenal di Asia Tenggara, terutama di Indonesia dan Thailand. Para peternak mulai menerapkan metode ini untuk meningkatkan produktivitas budidaya udang dan ikan, termasuk lele. Sejak awal 2000-an, teknologi bioflok semakin disempurnakan dengan penambahan probiotik dan pengelolaan pakan yang lebih baik. Penelitian tentang manfaat dan efektivitas sistem ini semakin meluas, dan bioflok mulai diadopsi secara lebih luas di berbagai negara.
Bioflok bisa diartikan sebagai gumpalan (flok) dari berbagai campuran heterogen mikroba (plankton, protozoa, fungi), partikel, polimen organik, koloid dan kaiton yang saling berinteraksi dengan sangat baik di dalam air.
Sistem bioflok bekerja dengan mengubah senyawa organik dan anorganik, termasuk karbon (C), oksigen (O), hidrogen (H), dan nitrogen (N) menjadi massa sludge. Hal ini dilakukan dengan menggunakan bakteri yang dapat membentuk gumpalan floc untuk mengubah bio polymer menjadi bioflok. Teknologi bioflok mengubah nitrogen anorganik menjadi nitrogen organikyang tidak beracun yang dapat digunakan untuk budidaya lele dalam perairan. Nitrogen yang sudah diubah ini digunakan untuk pakan lele, yang membuatnya lebih murah.
Budidaya lele dengan sistem bioflok menjadi salah satu metode yang populer dalam akuakultur modern. Sistem ini tidak hanya meningkatkan efisiensi pakan tetapi juga menjaga kualitas air. Berikut adalah tahapan dalam budidaya lele menggunakan sistem bioflok:
1. Persiapan Kolam
Tahap pertama dalam sistem bioflok adalah mempersiapkan kolam. Secara umum ada 4 jenis kolam yang digunakan untuk budidaya lele, yaitu kolam dari beton, kolam dari tanah, kolam dari kotak terpal, dan kolam dari bulat terpal. Dari keempat jenis kolam tersebut, yang sering dipakai sama pembudidaya lele adalah kolam dari bulat terpal karena lebih efisien (bongkar pasang) dan hemat biaya. Selain pemilihan jenis kolam yang akan digunakan, pembudidaya juga harus memperhatikan lokasi yang strategis dengan akses air yang baik. Pastikan kolam memiliki sirkulasi air yang baik dan dilengkapi dengan aerator untuk menjaga oksigen terlarut.
Cara pembuatan kolam terpal bulat
2. Persiapan Air
Setelah pembuatan kolam, langkah selanjutnya adalah mempersiapkan air untuk pembesaran lele. Masukkan air dengan ketinggian 80-100 cm. Pada hari kedua masukkan probiotik 5ml/m3, kemudian hari ketiga masukkan probiotik molase (tetes tebu) 250 ml/m, pada malam harinya taburkan dolomite 150/200 g/m3. Setelah semuanya tercampur, diamkan media pembesaran lele selama 7 hingga 10 hari. Kemudian di hari ke 11 lakukan penebaran benih ikan lele.
3. Penebaran Benih
Sebelum menyebarkan benih ke dalam kolam, penting untuk kita memperhatikan kualitas dari benih lele. Benih harus berasal dari induk unggulan, memiliki gerakan yang aktif, organ tubuh yang lengkap, bentuk proporsional, dan warna yang sama. Tebarkan benih dengan kepadatan yang sesuai, biasanya sekitar 20-30 ekor per meter kubik. Pastikan benih diletakkan dengan hati-hati untuk mengurangi stress pada ikan. Setelah menebarkan benih, keesokan harinya tambahkan probiotik 5 ml/m3.
4. Pemeliharaan
Pemeliharaan menjadi kunci dalam keberhasilan budidaya lele. Pantau kualitas air secara rutin, termasuk pH, amonia, dan nitrit. Berikan pakan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan lele, umumnya pakan terapung yang kaya protein. Ukuran pakan harus disesuaikan dengan mulut ikan lele. Pemberian pakan dilakukan pagi dan sore hari dengan dosis 80% dari daya kenyang. Seminggu sekali harus dipuasakan. Pastikan keseimbangan antara pakan yang diberikan dan mikroorganisme tetap terjaga untuk mendukung pertumbuhan bioflok.
5. Panen
Tahap terakhir adalah panen. Lele dapat dipanen setelah mencapai ukuran yang diinginkan, biasanya dalam waktu 3-4 bulan. Gunakan metode yang minim stres untuk ikan selama proses panen, dan pastikan kebersihan tetap terjaga. Setelah panen, bersihkan kolam untuk persiapan siklus budidaya berikutnya
Dengan mengikuti tahapan-tahapan ini, budidaya lele dengan sistem bioflok dapat dilakukan secara efektif, memberikan hasil yang optimal dengan dampak lingkungan yang lebih kecil. Salam budidaya!!

