Konten dari Pengguna
Revitalisasi Sekolah: Pembangunan Fisik, Mental, dan Karakter Anak Bangsa
19 September 2025 19:00 WIB
Ā·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Revitalisasi Sekolah: Pembangunan Fisik, Mental, dan Karakter Anak Bangsa
Revitalisasi sekolah sebagai pembangunan fisik, mental, dan karakter anak bangsa: bukan sekadar agenda pembangunan fisik, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa. #userstoryFariz Aryo Suzeno
Tulisan dari Fariz Aryo Suzeno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahun 2025 ditetapkan pemerintah sebagai momentum besar dalam sejarah pendidikan nasional. Tidak berlebihan jika tahun ini disebut sebagai titik balik arah pendidikan Indonesia. Melalui Program Revitalisasi Sekolah, sebanyak 10.440 satuan pendidikan ditargetkan mendapat perbaikan sarana dan prasarana, mulai dari ruang kelas, ruang guru, ruang administrasi, perpustakaan, laboratorium, toilet, hingga Unit Kesehatan Sekolah (UKS).
Alokasi anggarannya mencapai Rp17,1 triliun, jumlah yang menandai keseriusan negara menghadirkan fasilitas pendidikan yang layak. Dana ini kini dikelola langsung oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) setelah sebelumnya berada di bawah Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Pergeseran kewenangan ini bukan sekadar teknis birokrasi, melainkan juga strategi agar pembangunan sekolah benar-benar sejalan dengan kebutuhan pembelajaran.
Namun, konteks besar di balik langkah ini tak kalah penting. Indonesia tengah menghadapi tantangan serius: ketimpangan kualitas pendidikan antara kota dan daerah pelosok. Menurut data Kemendikbudristek (2024), 27% sekolah dasar di wilayah 3T tidak memiliki perpustakaan layak, sementara 19% SMP kekurangan laboratorium sains. Angka ini menunjukkan bahwa ketidakmerataan masih menjadi luka lama pendidikan Indonesia. Di sisi lain, Indonesia terus menggaungkan mimpi Generasi Emas 2045. Pertanyaannya: Bagaimana cita-cita melahirkan SDM unggul diwujudkan bila infrastruktur dasar pendidikan saja belum merata?
Menariknya, program revitalisasi kali ini berbeda. Mekanisme swakelola dipilih sebagai pola pelaksanaan. Dana ditransfer langsung ke rekening sekolah dan dikelola oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) yang terdiri dari kepala sekolah, guru, komite, dan masyarakat lokal. Sistem ini dianggap terobosan karena memangkas rantai birokrasi panjang sekaligus menumbuhkan transparansi. Lebih jauh lagi, mekanisme ini menghidupkan kembali nilai gotong royong. Sekolah tidak lagi dipandang sebagai institusi milik negara semata, tetapi juga sebagai ruang kebanggaan masyarakat.
Kisah sederhana dari Pati, Jawa Tengah menggambarkan hal itu. Orang tua siswa ikut mengecat kelas dan membangun pagar sekolah, seakan ingin menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada pemerintah. āSekolah ini milik kita semua, bukan hanya pemerintah,ā kata seorang kepala PAUD yang terlibat langsung. Dari sinilah terlihat, revitalisasi sekolah bukan hanya soal bangunan yang diperbarui, tetapi juga tumbuhnya rasa memiliki yang memperkuat keberlanjutan.
Meski demikian, catatan kritis tak bisa diabaikan. Mekanisme swakelola tetap rentan jika tidak dibarengi dengan pengawasan ketat. Risiko penyalahgunaan dana, pembangunan seadanya, hingga praktik korupsi harus diantisipasi.
Sutanto, Widyaprada Ahli Utama Ditjen PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah, menegaskan komitmen pemerintah, āZero tolerance terhadap penyimpangan. Semua proses, dari perencanaan hingga pelaporan, wajib transparan.ā
Pernyataan ini meneguhkan bahwa revitalisasi bukan sekadar proyek biasa, melainkan agenda yang menyangkut kredibilitas negara.
Dengan semua dinamika ini, jelas bahwa revitalisasi sekolah bukan proyek instan. Ia adalah fondasi jangka panjang. Pemerintah menargetkan bahwa pada 2030, setiap sekolah Indonesia memiliki sarana sesuai standar nasional. Lebih jauh, pada 2045, sekolah-sekolah Indonesia diharapkan tidak hanya layak secara fisik, tetapi juga menjadi pusat pembentukan karakter, pengetahuan, dan keterampilan yang sejajar dengan standar global.
Revitalisasi Guru: Kelas Tidak Dibangun oleh Tembok, tapi oleh Interaksi
Sebagus apa pun infrastrukturātanpa guru berkualitasāpendidikan tidak akan melangkah jauh. Data Survei PISA 2022 menegaskan hal itu: Indonesia masih tertinggal dalam literasi membaca, matematika, dan sains, dibandingkan dengan negara tetangga. Fakta ini membuka mata bahwa kelas sejati dibangun oleh interaksi guru dan murid, bukan sekadar dinding yang baru dicat.
Kesadaran inilah yang mendorong pemerintah meluncurkan Permendikdasmen No. 1 Tahun 2025, yang memberi ruang bagi guru ASN mengajar di sekolah swasta atau sekolah dekat domisili mereka. Aturan ini lahir dari ketimpangan distribusi guru.
Menurut Kemendikbudristek (2024), meski rasio guru-murid nasional terlihat cukup, distribusinya timpang: sekolah di kota besar sering kelebihan guru, sementara di daerah 3T kekurangan hingga 40% tenaga pengajar.
Langkah lain adalah peningkatan kompetensi. Tahun 2025, pemerintah menyalurkan beasiswa lanjutan untuk 12.000 guru agar bisa menuntaskan pendidikan ke jenjang D4 atau S1. Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) memungkinkan guru yang pernah kuliah tapi belum lulus melanjutkan pendidikan tanpa mengulang dari awal.
Tidak berhenti di sana, target besar juga dicanangkan: 806.000 guru ditargetkan mengikuti Program Profesi Guru (PPG). Skala ini adalah yang terbesar dalam sejarah pendidikan Indonesia. Tujuannya bukan sekadar sertifikasi formal, tetapi melahirkan pendidik profesional dengan kompetensi pedagogi modern, literasi digital, dan metodologi kreatif.
Masalah klasik lain juga disentuh: beban administrasi. Selama ini, guru sering menghabiskan waktu untuk laporan dan dokumen ketimbang mengajar. Pemerintah kini menyederhanakan sistem: penilaian kinerja dilakukan oleh kepala sekolah dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Ditambah lagi, ada inovasi Hari Belajar Guruāsatu hari setiap pekan di mana guru terbebas dari kewajiban mengajar dan diberi ruang untuk belajar, berdiskusi, atau mengembangkan diri.
Langkah ini sederhana, tetapi revolusioner. Sebab, guru pun juga manusia; mereka perlu ruang untuk tumbuh. Harapannya, jika konsisten, revitalisasi guru akan membentuk ekosistem baru: guru sebagai inspirator, mentor, sekaligus teladan. Dengan begitu, revitalisasi sekolah tidak hanya soal bangunan, melainkan juga tentang jiwa pendidikan itu sendiri.
Mimpi Bersama: Sekolah Sebagai Pusat Peradaban Lokal dan Pilar Indonesia Emas
Pada akhirnya, revitalisasi sekolah bukan hanya proyek pembangunan, melainkan mimpi kolektif bangsa; mimpi di mana setiap anakādari kota hingga pelosokābelajar di ruang kelas yang aman, nyaman, modern, sekaligus ruang yang dapat membentuk karakter.
Direktur PAUD Kemendikbud, Nia Nurhasanah, menegaskan bahwa revitalisasi adalah āpembangunan fisik sekaligus mental, semangat kebersamaan, dan masa depan anak-anak kita.ā
Kalimat ini menegaskan bahwa sekolah harus dipandang sebagai pusat peradaban lokal: tempat anak-anak belajar sains di laboratorium, membaca di perpustakaan, berolahraga dengan sehat, hingga mendapatkan layanan UKS yang memadai.
Lebih jauh, sekolah juga harus menjadi tempat karakter bangsa ditempa. Program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dan Pagi Ceria yang diluncurkan Kemendikdasmen adalah bagian dari ikhtiar ini: membiasakan anak bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, gemar belajar, aktif bermasyarakat, dan tidur tepat waktu. Sebab, generasi emas tidak hanya ditentukan oleh nilai rapor, tetapi juga oleh kesehatan fisik, mental, dan moralnya.
Namun, cita-cita ini membutuhkan konsistensi. Revitalisasi sekolah harus bebas dari praktik KKN dan terus dijaga dengan transparansi. Sinergi lintas sektorāpemerintah pusat, daerah, perguruan tinggi, hingga masyarakatāharus diperkuat. Tanpa kolaborasi, angka besar seperti Rp17,1 triliun bisa habis tanpa dampak nyata.
Proyeksi ke depan jelas: pada 2030, setiap sekolah di Indonesia minimal sudah memenuhi standar sarana nasional; dan pada 2045, ketika Indonesia berusia satu abad, sekolah-sekolah di tanah air diharapkan sejajar dengan standar internasionalādigital, ramah anak, inklusif, dan berakar pada nilai gotong royong bangsa.
Harapan besarnya sederhana, tapi mendalam: anak-anak di Papua harus punya peluang yang sama dengan anak-anak di Jakarta. Sekolah di Nusa Tenggara harus setara dengan sekolah di Bandung; tidak boleh ada lagi generasi yang terhambat hanya karena keterbatasan fasilitas.
Jika revitalisasi sekolah dan guru berjalan seiring, maka Indonesia bukan hanya membangun ruang kelas baru, tetapi membangun masa depan. Seperti diingatkan oleh Dirjen PAUD, Dikdasmen, Gogot Suharwoto, āRevitalisasi ini adalah monumen pendidikan, warisan terbaik bagi anak cucu kita.ā
Sejatinya, revitalisasi sekolah bukan sekadar agenda pembangunan fisik, melainkan investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa. Dinding yang baru dicat, perpustakaan yang lengkap, laboratorium yang modern, hingga toilet yang bersih hanyalah satu sisi dari wajah pendidikan. Wajah sejati pendidikan ada pada kualitas guru dan interaksi mereka dengan murid.
Pemerintah telah meletakkan fondasi melalui berbagai kebijakan: mekanisme swakelola yang melibatkan masyarakat, beasiswa lanjutan untuk 12.000 guru, PPG bagi 806.000 guru, hingga kebijakan Hari Belajar Guru. Semua itu adalah upaya menghadirkan pendidik yang lebih profesional, kreatif, dan berdaya saing global. Namun, kerja besar ini hanya akan berhasil jika dijalankan dengan konsistensi, integritas, dan kolaborasi lintas sektor.
Harapan ke depan jelas: setiap anak Indonesiaādari perkotaan hingga pelosok 3Tāberhak atas ruang belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan membentuk karakter. Sekolah tidak boleh lagi menjadi simbol kesenjangan, tetapi harus menjadi pusat peradaban lokal yang melahirkan generasi cerdas, sehat, dan berkarakter.
Tahun 2045, ketika Indonesia berusia satu abad, bangsa ini bercita-cita melahirkan generasi emas yang siap bersaing di kancah global. Revitalisasi sekolah adalah jalannya. Sebab, dengan pendidikan yang bermutu, Indonesia tidak hanya membangun ruang belajar, tetapi juga membangun masa depan.

