Konten dari Pengguna

Api di Balik Runtuhnya Langit

Refli Sarakan
Undergraduate Communication Science student at Padjadjaran University
18 Desember 2025 4:00 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Api di Balik Runtuhnya Langit
Cahaya di matanya membuat langit retak. Diburu manusia, ditantang dewa, ia jadi harapan terakhir dunia.
Refli Sarakan
Tulisan dari Refli Sarakan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Poster (Sumber: Freepik)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Poster (Sumber: Freepik)
Langit selalu bergetar setiap kali Malvin membuka matanya. Sejak bayi, ia lahir dengan cahaya di bola matanya, cahaya putih yang tak semestinya dimiliki manusia. Saat ia pertama kali menangis, ruangan tempat kelahirannya memanas, lampu minyak padam, dan udara bergetar seperti petir tanpa suara.
“Matanya… matanya bersinar!” teriak bidan ketakutan.
Ayahnya segera menutup mata bayi itu dengan kain hitam dan menunduk dalam doa.
“Dia bukan kutukan,” bisik sang ibu. “Dia hadiah.”
Namun di luar sana, dunia berpikir sebaliknya.
Saat itu, kerajaan Aerwyn sedang dilanda ketakutan. Retakan kecil pertama sudah muncul di langit utara, dan orang-orang mulai melihat cahaya aneh turun dari langit malam. Gereja kerajaan menyebarkan perintah: “Siapa pun anak yang lahir dengan mata bercahaya, adalah tanda murka para dewa.”
Mereka harus diserahkan, atau dibakar.
Ilustrasi Foto Malvin (Sumber: Freepik)
Keluarga kecil itu melarikan diri dari kota, hidup bersembunyi di hutan-hutan dingin. Malvin tumbuh dalam gelap, matanya selalu tertutup kain hitam, agar tidak ada yang tahu siapa dia. Ia belajar berjalan, berlari, bahkan menenun tanpa membuka mata.
Namun meski tertutup, matanya tetap melihat. Ia melihat dunia lewat energi, bayangan kehidupan, warna panas dari napas manusia, dan cahaya halus dari dedaunan yang tumbuh. Ia bisa merasakan setiap gerakan, setiap getaran. Dunia bagi Malvin tidak gelap, hanya berbeda.

Rahasia yang Terbakar

Tahun-tahun berlalu. Keluarganya berpindah-pindah, selalu diburu oleh biarawan kerajaan yang mencari “anak bermata langit.” Suatu malam, ketika Malvin berumur sembilan tahun, para biarawan itu menemukan mereka. “Buka matanya!” teriak pemimpin mereka. “Kita harus memastikan!”
Ayah Malvin berdiri di depan pintu, menghalangi mereka. “Anakku buta. Dia bukan yang kalian cari!”. Tapi salah satu biarawan mendorong masuk. Mereka menyeret ibunya keluar, menarik kain di kepala Malvin. Cahaya kecil bocor dari sela matanya sehingga cukup untuk membuat seisi ruangan bergetar. Biarawan-biarawan itu menjerit. “Dia anak langit! Bakar dia!”
Ayahnya menebas satu dari mereka dengan parang kayu, sementara ibunya berteriak memeluk Malvin. “Tutup matamu, Nak! Jangan buka, apa pun yang terjadi!”. Mereka berlari ke luar rumah, bersembunyi di hutan basah. Tapi para biarawan membawa obor, mengejar tanpa henti. Akhirnya, di tepi sungai, mereka terpojok. Ayahnya bertarung sampai jatuh, tubuhnya terbakar oleh obor suci. Ibunya menutup Malvin dengan jubahnya, sambil berbisik di telinganya: “Kau bukan kutukan. Kau adalah cahaya terakhir manusia. Lindungi dunia, Malvin… bahkan jika dunia takkan melindungimu.” Ia mencium kening anaknya, lalu mendorongnya ke dalam sungai, agar arus membawanya menjauh.
Saat Malvin mengambang di antara arus air yang dingin, ia mendengar jeritan ibunya, jeritan yang terbakar di ingatannya seumur hidup. Keesokan paginya, ia ditemukan oleh bibinya, Liora, yang tinggal di pinggiran Aerwyn. Sejak itu, ia hidup bersama Liora dan sepupu laki-lakinya, Arlen, bocah ceria berumur lima tahun.
Bagi mereka, Malvin hanyalah keponakan buta yang baik hati. Mereka tak tahu bahwa matanya, meski tertutup, bisa melihat jauh lebih banyak dari siapa pun. Ia bisa merasakan panas tubuh mereka, kehangatan dapur, bahkan pola jantung yang berdebar. Kadang, di malam hari, ketika Liora dan Arlen tidur, Malvin membuka sedikit kain hitam di matanya dan menatap bintang. Dan setiap kali, bintang-bintang itu berdenyut seolah menjawab tatapannya.

Malam Langit Pecah

Suatu malam, langit berubah aneh. Angin berhenti. Burung tidak berkicau. Malvin merasa dunia seperti menahan napas. “Bibi…” katanya perlahan, “sesuatu akan datang.” Liora berhenti menenun. “Kau selalu bilang begitu ketika badai tiba.” “Tidak kali ini,” jawabnya lirih. “Ini bukan badai.”
Langit benar-benar pecah. Retakan emas membentang dari ujung ke ujung cakrawala, menyala seperti luka di tubuh langit. Dari dalamnya, mata raksasa terbuka yang terlihat dingin, tanpa emosi. Makhluk-makhluk bersayap turun, membawa cahaya di tangan mereka. Orang-orang berseru memanggil nama dewa, namun cahaya yang turun bukan berkat. Itu api.
Bangunan meledak, tanah bergetar. Liora menarik Arlen dan Malvin berlari. “Ke belakang rumah!” teriaknya. “Cepat!”. Mereka berlari di antara kobaran api. Malvin menutup matanya rapat-rapat, tapi tetap bisa “melihat”, ada bentuk cahaya aneh dari makhluk langit yang berterbangan, energi mereka panas dan kasar.
Kemudian, dari langit, cahaya emas turun yang menghantam tanah tempat Liora dan Arlen berdiri. Malvin hanya sempat menoleh. Dalam sekejap, mereka lenyap. Tak tersisa apa pun, bahkan bayangan. Dunia Malvin ikut hancur malam itu.
Di tengah kehancuran, sesuatu jatuh dari langit: pusaka perak berbentuk pecahan pedang, berdenyut seperti jantung. Ia menyentuhnya, dan cahaya menelan seluruh tubuhnya. “Keturunan-Ku… akhirnya kau bangun.” Suara itu bergema di kepalanya, dalam dan hangat. “Aku Michael, pelindung manusia. Kekuatanmu adalah warisanku. Bangkitlah, dan lindungi dunia dari murka langit.”
Tubuhnya terbakar dari dalam. Kain hitam robek, dan dari matanya keluar cahaya putih yang menghancurkan makhluk langit di sekelilingnya. Tapi bersama cahaya itu, air mata pun jatuh. “Kenapa sekarang… saat aku sudah kehilangan semuanya?”

Perjalanan Cahaya

Tahun-tahun berlalu. Dunia berubah jadi puing. Manusia bersembunyi, dan para makhluk langit terus turun dari celah di angkasa. Malvin bertemu tiga orang yang kelak menjadi keluarga barunya: Seraphine, gadis pemanah dengan panah sihir; Kael, pria tua pengendali tanah; dan Daren, remaja keras kepala yang tubuhnya bisa berubah baja.
Mereka melawan bersama, bertahan hidup di reruntuhan dunia. Tapi kekuatan Malvin selalu membuat yang lain takut. Beberapa menyebutnya penyelamat, beberapa menganggapnya makhluk langit berkedok manusia. “Kenapa kau masih menutup matamu kalau itu bisa menyelamatkan kita?” tanya Daren suatu malam. “Karena setiap kali aku membuka mata,” jawab Malvin, “sesuatu mati.”

Benteng Astralis

Perjalanan mereka berakhir di Benteng Astralis, kota terakhir manusia. Namun benteng itu bukan perlindungan sejati. Para pemimpin di dalamnya membuat kesepakatan gelap yaitu menyerahkan sebagian manusia kepada makhluk langit sebagai persembahan agar mereka selamat.
Malvin marah. “Dewa bukan untuk disembah!” teriaknya. “Mereka datang untuk memperbudak kita!”. Namun para tetua hanya menatapnya dengan ngeri. “Cahaya itu,” kata salah satu, “bukan cahaya manusia.”
Malamnya, mereka mencoba menangkap Malvin. Kael membantu melarikan diri, terluka parah dalam prosesnya. Sementara itu, Daren yang diam-diam dipengaruhi bisikan dari celah langit mulai goyah. “Kau tahu, Malvin?” katanya dengan suara serak. “Mungkin mereka benar. Mungkin kau memang bukan manusia.”
Saat itu juga, cahaya emas keluar dari tubuh Daren yang menandakan bahwa roh dewa telah merasukinya. Ia menyerang Malvin dengan kekuatan mengerikan. Pertempuran mereka mengguncang seluruh menara. Seraphine menjerit. “Berhenti! Kalian berdua sama-sama manusia!” Malvin menatap Daren dengan sedih. “Maaf,” katanya lirih. Ia membuka matanya sedikit, cukup untuk melepaskan cahaya putih yang menembus dada Daren. Daren terjatuh. “Ternyata… kau benar-benar manusia,” katanya sebelum mengembuskan napas terakhir.
Ilustrasi Malvin dengan Pusakanya (Sumber: Freepik)

Perang Terakhir

Hari ke-99 sejak retakan pertama. Langit pecah lebih besar dari sebelumnya. Dewa tertinggi turun dengan bertubuh perunggu, empat tangan, wajah bertopeng obsidian. Sekali hentak, separuh benteng Astralis hancur.
Seraphine menembakkan panah sihir, Kael mengguncang tanah, tapi sia-sia. Malvin berdiri di depan mereka, pusaka di tangannya bersinar seperti matahari. “Keturunan Michael,” suara dewa itu bergema. “Wadah yang gagal. Dunia ini bukan milik manusia.” “Bukan,” balas Malvin. “Dunia ini milik mereka yang masih berani mencintai.” Ia membuka matanya sepenuhnya. Cahaya putih menyembur, membentuk naga raksasa yang menembus langit. Pedang pusaka di tangannya berubah menjadi nyala suci. Seraphine berteriak, “Malvin! Tubuhmu!” Ia menatapnya dengan senyum lembut. “Michael menutup retakan pertama. Aku menutup yang terakhir.” “Atas nama manusia, langit ini kututup!” Ledakan cahaya menelan dunia.

Bintang Malvin

Ketika debu reda, langit telah utuh kembali. Namun Malvin tak ada. Di reruntuhan, hanya tersisa kain hitam dan pusaka retak yang masih berdenyut lemah. Seraphine berlutut, menggenggamnya erat-erat. “Dia bukan pewaris malaikat,” katanya lirih. “Dia manusia yang memilih jadi pelindung.”
Bertahun-tahun kemudian, manusia kembali menanam, bernyanyi, dan membangun dunia baru. Dan setiap malam, di antara bintang-bintang, satu cahaya paling terang bersinar “Bintang Malvin” ucap mereka. Mereka percaya, bila kau menutup mata di bawah sinarnya, kau akan melihat dunia seperti yang dilihat Malvin: penuh kehidupan, bahkan dalam gelap. Dan di antara bisikan langit malam, suara lembut terdengar: “Aku bisa melihat sekarang… dunia ini memang pantas diselamatkan.”
Trending Now