Konten dari Pengguna
Kerja Sunyi Masyarakat Menjaga Pariwisata Pantai Batu Hiu Pangandaran
23 Desember 2025 10:29 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Kerja Sunyi Masyarakat Menjaga Pariwisata Pantai Batu Hiu Pangandaran
Jajat Sudrajat, Ketua Pokdarwis Batu Hiu, mengabdikan diri hampir 15 tahun menjaga pariwisata berbasis masyarakat. Dari kerja sunyi warga, Batu Hiu terus bertahan sebagai destinasi yang lestari. Refli Sarakan
Tulisan dari Refli Sarakan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah meningkatnya arus wisata ke Pangandaran, keberlangsungan sebuah destinasi tidak hanya ditentukan oleh promosi dan pembangunan fisik. Ada kerja kerja sunyi yang berlangsung setiap hari, dikerjakan oleh warga yang jarang terlihat oleh wisatawan. Di kawasan wisata Pantai Batu Hiu, kerja itu dijalani Jajat Sudrajat, Ketua Kelompok Sadar Wisata setempat, yang selama hampir lima belas tahun mengabdikan diri menjaga keseimbangan antara alam, masyarakat, dan kepentingan pariwisata.

Jajat lahir dan tumbuh di lingkungan pariwisata Patai Batu Hiu. Orang tuanya merupakan bagian dari generasi awal masyarakat yang membuka dan merawat kawasan tersebut. Sejak kecil, ia terbiasa melihat kerja bakti, gotong royong, dan keterlibatan warga dalam mengelola ruang wisata. Lingkungan itu membentuk cara pandangnya terhadap pariwisata sebagai ruang hidup bersama, bukan sekadar tempat mencari keuntungan.
Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis merupakan organisasi sosial yang dibentuk dengan dukungan pemerintah dan memiliki surat keputusan resmi. Sebelumnya, organisasi ini dikenal sebagai Kompepar atau Kelompok Masyarakat Penggerak Pariwisata. Seiring perubahan kebijakan nasional di bidang pariwisata, struktur dan nama organisasi disesuaikan. Bagi Jajat, perubahan administratif tersebut tidak menggeser tujuan utama Pokdarwis, yakni membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga dan mengelola pariwisata secara kolektif.
Keterlibatan Jajat di Pokdarwis bermula dari keinginannya melihat Pantai Batu Hiu berkembang tanpa kehilangan karakter alam dan sosialnya. Ia melihat potensi besar kawasan tersebut, tetapi juga menyadari bahwa pariwisata tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah. Melalui mekanisme musyawarah dan pemilihan warga, Jajat dipercaya memimpin Pokdarwis. Kepengurusan berlangsung lima tahunan, dan hingga kini ia telah menjalani tiga periode kepemimpinan.
Memimpin organisasi berbasis masyarakat menghadirkan tantangan tersendiri. Jajat mengakui bahwa posisi ketua kerap berada di tengah kepentingan yang saling berseberangan. Keputusan yang diambil tidak selalu diterima semua pihak. Ia harus menghadapi kritik, perbedaan pendapat, hingga konflik terbuka. Namun pengalaman itu justru menjadi proses pembelajaran yang tidak ia temukan di bangku pendidikan formal.
Salah satu tantangan paling berat muncul ketika kebijakan pemerintah tidak disertai kesiapan solusi di lapangan. Jajat mencontohkan kebijakan pelarangan berjualan di area tertentu tanpa menyediakan lokasi alternatif. Dalam situasi seperti itu, Pokdarwis berada di posisi sulit, berusaha menegakkan aturan sekaligus melindungi mata pencaharian warga. Peran sebagai penengah menjadi bagian tak terpisahkan dari tugasnya.
Pengabdian di Pokdarwis juga menuntut pengorbanan personal. Pada masa awal merintis, Jajat kerap menghabiskan hari dari pagi hingga sore untuk rapat dan koordinasi. Waktu bersama keluarga berkurang. Secara ekonomi, peran tersebut tidak langsung memberikan hasil. Ia bahkan harus meninggalkan beberapa pekerjaan dan membatalkan panen di sektor perikanan karena kewajiban organisasi. Konflik dalam keluarga sempat muncul, tetapi perlahan dapat dilalui dengan komunikasi dan saling pengertian.
Hingga kini, Pokdarwis Pantai Batu Hiu tidak menerima dana rutin dari pemerintah. Untuk menjaga keberlangsungan organisasi, anggota menyepakati sistem iuran. Setiap anggota menyumbang tiga ribu rupiah per minggu, sementara pedagang menyisihkan sepuluh ribu rupiah per bulan. Dana tersebut digunakan untuk kebutuhan mendesak pariwisata, bantuan anggota yang sakit, serta keperluan kemanusiaan. Meski sempat disalahpahami sebagai pungutan liar, Jajat menegaskan bahwa seluruh mekanisme berjalan atas dasar kesepakatan dan transparansi. Laporan pertanggungjawaban disampaikan secara rutin, dan saat ini kas organisasi tercatat lebih dari lima belas juta rupiah.
Kontribusi Pokdarwis tidak selalu tampak mencolok. Perawatan fasilitas, pengecatan prasarana, dan menjaga kebersihan kawasan dilakukan secara gotong royong. Dengan sekitar 160 anggota, Jajat menjaga kekompakan melalui pertemuan rutin setiap tiga bulan. Selain laporan kegiatan, pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi dan penguatan solidaritas.
Salah satu peristiwa yang membekas bagi Jajat adalah runtuhnya sebuah saung tua saat kawasan wisata sedang ramai. Kejadian itu viral dan memicu perhatian publik, termasuk dari pemerintah daerah. Di balik kegaduhan tersebut, Jajat melihatnya sebagai pengingat akan pentingnya perawatan fasilitas dan kesiapan pengelolaan risiko di kawasan wisata.
Di tengah berbagai tantangan, ada kepuasan tersendiri ketika melihat peningkatan kunjungan wisata, terutama pada akhir pekan. Bagi Jajat, keberhasilan itu bukan hasil kerja individu, melainkan buah dari kegigihan dan kekompakan masyarakat. Prinsip yang ia pegang sederhana, bekerja dengan ikhlas dan dari hati demi tanah kelahiran.
Di luar aktivitas harian tersebut, Pokdarwis Pantai Batu Hiu juga rutin terlibat dalam agenda budaya tahunan seperti Ruwat Jagat Sila Saamparan. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara tradisi, pariwisata, dan masyarakat lokal. Bagi Jajat, menjaga nilai budaya sama pentingnya dengan merawat alam, karena pariwisata yang kuat selalu berangkat dari identitas dan ingatan kolektif warga setempat.
Menurut Jajat, keunikan Pantai Batu Hiu terletak pada lanskap alamnya. Wisatawan tidak datang untuk berenang, melainkan menikmati bukit karang yang menyuguhkan pemandangan laut lepas, sunrise, dan sunset. Ia berharap pemerintah lebih serius merawat sarana prasarana, meningkatkan kolaborasi dengan masyarakat, serta melibatkan akademisi dan generasi muda. Baginya, pariwisata yang berkelanjutan hanya mungkin terwujud jika alam, manusia, dan kebijakan berjalan seiring.
Sejalan dengan harapan tersebut, Jajat menilai peran dunia akademik semakin relevan. Kehadiran Universitas Padjadjaran di Pangandaran dipandang sebagai peluang kolaborasi antara kampus dan masyarakat. Mahasiswa dan dosen, termasuk dari Jurusan Ilmu Komunikasi, dapat berkontribusi melalui kajian, pendampingan, serta penguatan narasi pariwisata yang bertanggung jawab. Menurut Jajat, komunikasi yang tepat tidak hanya membantu promosi, tetapi juga membangun kesadaran bersama agar Pantai Batu Hiu tetap terjaga sebagai ruang hidup warga sekaligus destinasi wisata yang

