Konten dari Pengguna
Kisah Pak Uus dengan Gerobak Cuankinya di Pantai Barat Pangandaran
15 Desember 2025 20:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Kisah Pak Uus dengan Gerobak Cuankinya di Pantai Barat Pangandaran
Di balik ramainya Pantai Barat Pangandaran, ada kisah ketahanan seorang pedagang cuanki bernama Pak Uus. Pernah merantau 16 tahun ke Bali, ia kembali ke Jawa demi keluarga dan memulai hidup dari awal Refli Sarakan
Tulisan dari Refli Sarakan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi itu, Pantai Barat Pangandaran masih terbilang sepi. Matahari baru saja naik, memantulkan cahaya lembut yang belum terlalu panas. Angin laut membawa aroma asin dan hawa hangat khas pantai, sementara bau asap kendaraan yang melintas sesekali bercampur dengan wangi daging rebus yang menyengat dari sebuah gerobak kecil di jalur pedestrian.
Di balik gerobak itu, berdiri seorang lelaki berusia 58 tahun dengan baju berwarna biru yang sudah lusuh. Warnanya memudar, tetapi bukan semangatnya. Meski usia tak lagi muda, Pak Uus tetap tampak sigap mendorong gerobaknya. Setiap langkahnya pelan namun pasti, seolah pagi yang tenang itu menyambut tekad yang tak ikut menua.
Gerobaknya sederhana: panci kecil berisi kuah mengepul ringan, beberapa cuanki yang aromanya khas, dan peralatan yang ditata rapi. “Pagi begini lumayan sepi, tapi enak buat mulainya,” kata Pak Uus sambil tersenyum, mengusap sedikit keringat yang muncul bukan karena lelah, melainkan kebiasaan tubuh yang sudah terbiasa bekerja sebelum matahari tinggi.
Perjalanan hidupnya panjang dan berliku. “Dulu saya merantau ke Bali,” ia bercerita sambil menuang kuah panas ke dalam mangkuk. “Sekitar awal tahun 2000-an saya di sana, total hampir 16 tahun.” Di Pulau Dewata, ia berjualan kerupuk dan siomay khas Bandung, perantauan yang membuatnya bolak-balik ke Bandung sampai tiga kali demi melepas rindu dengan keluarganya. “Saya betah di Bali. Orangnya ramai, kerja lancar. Tapi lama-lama kepikiran anak, jauh terus rasanya nggak enak,” ujarnya. Keresahan itu, ditambah situasi pasca-pandemi, menggerakkan langkahnya kembali ke Jawa.
Kepulangan itu bukan akhir dari perantauan, melainkan awal babak baru. Di Pangandaran, ia tak langsung punya gerobak sendiri. “Awalnya ketemu teman kampung dari Bandung, dia nawarin jualan,” ujarnya. Tawaran itu membuatnya mulai berdagang kembali. Awalnya ia hanya menjual cilok, kemudian beberapa tahun belakangan bergeser ke cuanki. “Saya mulai jualan cuanki itu setelah pandemi, sekitar tiga tahun yang lalu,” tambahnya. Gerobak yang ia dorong setiap hari bukanlah miliknya, melainkan milik sang bos. Persiapannya pun sederhana; bahan utama seperti bakso dan pelengkapnya sudah disediakan, sementara ia tinggal meracik kuah, menata peralatan, dan memastikan semuanya siap untuk berjualan. Dari pekerjaan itu, ia memperoleh bagian 30 persen serta jatah makan sebesar Rp15.000 setiap hari.
Sebelum kembali ke dunia lapangan, hidupnya pernah menapak jalur yang berbeda. Ia sempat bekerja di sebuah yayasan sebagai kesekretariatan dan bahkan pernah mengajar di SMA. Ia juga sempat menapaki bangku perkuliahan, meski tak sampai menuntaskannya. “Waktu itu dapat diskon, jadi bayar setengah,” kenangnya sambil tersenyum. Namun bekerja di balik meja bukan dunianya. “Saya malas kerja di belakang meja. Saya lebih suka kerja di lapangan karena lebih bebas namun tetap ada aturannya,” ujarnya. Ia merasa lebih bebas saat berjualan, bisa bergerak sesuka hati, dan tak terikat ritme pekerjaan kantor yang membuatnya cepat jenuh.
Rutinitas panjang itu membuat waktu istirahatnya sering tergerus. “Susah atur tidur. Pulang kadang tengah malam, lalu masih harus bersih-bersih peralatan biar besok bisa dipakai.” Sang istri kerap ikut membantu membersihkan dan menyiapkan perlengkapan agar bebannya tidak menumpuk pada dirinya seorang. Pendapatannya sendiri tidak menentu; ada hari yang cukup ramai, ada pula yang sepi, sehingga ia harus cermat mengatur uang dari hari ke hari.
Di balik lelah dan derit roda gerobak, ada dorongan kuat yang membuatnya tetap bangun pagi yaitu keluarga. “Sebetulnya saya dan istri bisa saja pulang kampung, nanam sayur, hidup sederhana. Tapi saya mikirin anak saya yang masih perlu dibiayai, ditambah cucu yang kadang harus dibelikan jajan. Itu yang bikin saya tetap semangat kerja,” ujarnya. Motivasi itu yang membuatnya memilih bertahan di jalur yang seringkali tak menentu namun memberinya nafkah.
Siang menjelang, matahari semakin menegaskan dirinya. Di sudut kecil Pantai Barat, aroma kuah cuanki bercampur angin laut. Para pembeli datang bertahap, ada yang penasaran mencicipi, ada yang memang sudah jadi langganan. Sementara Pak Uus sibuk menyajikan mangkuk demi mangkuk dengan gerakan yang kini terasa amat terlatih. Mungkin bagi wisatawan, cuanki itu sekadar pengganjal perut setelah berenang. Namun bagi Pak Uus, setiap mangkuk adalah bukti langkah kecil yang terus dijalankan demi keluarga, sebuah pilihan hidup yang sederhana namun sarat makna.
Di bawah terik pantai, cerita Pak Uus berjalan: tentang perantauan di Bali, tentang pilihannya bekerja di lapangan ketimbang di balik meja, tentang ketergantungannya pada gerobak milik orang lain, tentang pergulatannya dengan waktu tidur yang sedikit, dan terutama tentang langkah-langkah yang ia ambil setiap hari demi keluarga yang ia cintai.

