Konten dari Pengguna

Berawal dari Meja Makan Keluarga

Restu Utami
Head of Creative Daya Inovasi Keluarga
31 Agustus 2025 19:11 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Berawal dari Meja Makan Keluarga
Meja makan keluarga sebagai ruang pertama penanaman nilai moral.
Restu Utami
Tulisan dari Restu Utami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi keluarga makan bersama (Sumber: AI Freepik)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keluarga makan bersama (Sumber: AI Freepik)
Sebagaimana rutinitas, malam itu kami menghabiskan waktu di meja makan bersama. Suara gelas dan piring bersautan dengan obrolan ringan. Sambil menonton TV, biasanya ada tawa kecil atau komentar lepas. Namun belakangan, suasana berbeda. Berita tentang aksi demokrasi yang ricuh kerap muncul di layar: suara sirine, kerusuhan jalanan, korban jiwa, hingga kabar anak-anak yang ikut terlibat. Dada terasa sesak, sementara anak kami hanya duduk bingung, mungkin bertanya-tanya: negara macam apa yang sedang ia warisi?
Situasi sosial-politik Indonesia kini menunjukkan kegagalan ganda. Aparat dan pejabat publik bertindak tanpa etik, sementara sebagian kelompok mengekspresikan kemarahan dengan cara yang kurang bijak. Mungkin niat awal mereka sederhanaβ€”menuntut hak demi mengisi piring keluarga. Indonesia saat ini memang sedang tidak baik-baik saja, harga bahan pokok melonjak, fasilitas umum rusak, rasa aman memudar. Lebih jauh, semua ini menjadi tontonan buruk bagi anak-anak dan remaja yang sedang belajar menimbang benar-salah. Tanpa pondasi moral yang kuat, mereka mudah terseret emosi, ikut-ikutan, dan kehilangan integritas.
Di titik inilah keluarga memegang peran krusial. Meja makan, percakapan sehari-hari, dan interaksi sederhana bisa menjadi laboratorium moral pertama. Sebagaimana Albert Bandura (1977) menjelaskan, anak belajar melalui observasi dengan empat tahap: perhatian (attention), penyimpanan (retention), reproduksi perilaku (reproduction), dan motivasi (motivation). Anak memperhatikan sikap orang tua, menyimpannya dalam ingatan, mencoba menirunya, lalu termotivasi oleh apresiasi atau kesadaran nilai moral.
Sebagai contoh, ketika di meja makan orang tua membagi lauk yang terbatas secara adil, beda porsi antara ayah, ibu dan anak. Anak kemudian memperhatikannya (attention). Anak lalu menyimpan gambaran tersebut dalam ingatan (retention), dan kemudian mencoba menirunya ketika berbagi camilan dengan temannya di sekolah (reproduction), dan merasa senang karena dipuji teman atau guru (motivation). Dari pengalaman sederhana ini, anak belajar makna keadilan bahwa berbagi sesuai porsi adalah wujud peduli pada sesama.
Hal lain misalnya, setelah makan malam ayah terlihat sigap membantu ibu membereskan piring sisa makan. Proses ini kembali terjadi. Anak memperhatikan (attention), dan mengingatnya (retention). Suatu saat, anak akan menirukan dengan sukarela membantu temannya merapikan kelas setelah belajar bersama (reproduction), dan merasa dihargai karena mendapat ucapan terima kasih (motivation). Dari momen ini, anak belajar bahwa kerja sama dan saling membantu adalah bagian dari tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas satu pihak saja.
Contoh lain diluar ranah meja makan, ketika orang tua menunjukkan sikap jujur meski dalam hal kecil, misalnya mengakui kesalahan saat salah memberi kembalian, anak akan memperhatikannya (attention). Anak kemudian menyimpan gambaran tersebut dalam ingatan (retention), mencoba menirukan dengan mengembalikan barang temannya yang tertinggal (reproduction), dan merasa bangga atau diapresiasi karena melakukan hal yang benar (motivation). Dari sinilah, nilai kejujuran terbentuk, bahwa sesuatu yang bukan miliknya tak akan diambil.
Karena itu, nilai tak cukup diajarkan lewat kata-kata. Nilai harus hadir dan terwujud dalam tindakan nyata. Contoh lain seperti membagi tanggung jawab secara adil tanpa membeda-bedakan anak, menghargai usaha berdasarkan kerja keras alih-alih hasil semata, menolak favoritisme, mendengarkan cerita anak dengan penuh perhatian, atau melibatkan mereka dalam kegiatan sosial lingkungan rumah. Dari realitas konkret inilah, anak belajar bahwa keadilan bukan sekadar konsep, tapi sesuatu yang dialami dan diterapkan.
Dari hal-hal kecil semacam ini pula, anak menyiapkan diri untuk kelak menghadapi persoalan hidup yang lebih besar: mampu menolak ketidakadilan, bersikap jujur, dan menegakkan integritas di ruang-ruang sosial yang lebih luas. Dengan begitu, anak diharapkan bukan hanya tumbuh sebagai individu berkarakter, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk memutus mata rantai korupsi, nepotisme, dan praktik busuk lain yang telah lama membelenggu bangsa.
Orang tua menjadi model hidup yang secara langsung membentuk habitus anak. Inilah dasar dari cita-cita membangun manusia yang adil dan beradab. Perubahan besar memang tidak selalu lahir di parlemen atau jalanan. Kadang, ia tumbuh dari meja makan, dari interaksi hangat antara orang tua dan anak, tempat benih kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab mulai ditanam. Dari ruang sederhana itu, masa depan bangsa disemai.
Generasi Alpha dan Beta mungkin tumbuh dengan orang tua yang sering diterpa oleh krisis kepercayaan pada institusi. Tapi mereka tetap berhak atas harapan. Meski negara hari ini dianggap gagal mendengar rakyatnya, harapan tetap tidak boleh padam. Dari meja makan lahir habitus baru, modal sosial baru, dan keyakinan bahwa bangsa ini bisa diperbaiki. Dari sanalah benih masa depan ditanam, benih yang kelak tumbuh menjadi pohon besar, memberi naungan sekaligus buah yang adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia.
Trending Now